Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bertemu teman lama 2


__ADS_3

"Maafkan atas segala dosa hamba mu yang kotor dan hina ini ya Allah. Maafkan segala ke khilafan yang aku lakukan semasa hidupku. Maaf kan aku yang selalu berbuat dosa tanpa aku sadari. Aku tau kau memberi ujian yang begitu berat untukku sebagai teguran agar aku lebih taat lagi menjalani syariatmu."


Norin menumpahkan air matanya di atas sajadah setelah melaksanakan sholat tahajud. Ibadah sunah yang jarang sekali dia lakukan. Lelah ia menangis hingga tertidur di atas sajadah tersebut.


"Dek, dek Norin....apa kamu ada di dalam dek?"


Sayup sayup Norin mendengar suara yang di kenalnya, Rio. Pria itu mencarinya. Namun, Norin tidak menyahutinya ia hanya mendengarkan saja suara yang memanggilnya.


"Mas Rio mencari mba Norin?"


Sayup sayup suara Bu Yayuk pun terdengar olehnya yang masih belum bangkit dari sajadahnya.


"Iya Bu Yayuk, apa kira kira Norin ada di dalam?" tanya Rio.


"Sepertinya mba Norin belum pulang deh mas, soalnya dari kemarin rumahnya sepi. lihat aja lampunya aja mati."


Norin sengaja mematikan lampu dari kemarin agar tak ada orang yang menemuinya. Ia tidak ingin bertemu dengan siapa siapa. Ia hanya ingin menyendiri dan menyepi.


"Oh, begitu ya. kalau begitu terima kasih Bu mari saya pulang dulu."


"iya mas hati hati."


Terdengar deru mobil meninggalkan depan rumahnya dalam arti Rio sudah pergi.


"maafkan aku mas Rio. Aku ngga pantas untuk kamu mas. Aku hanya wanita hina dan kotor."


Norin menumpahkan air matanya kembali. Ia meyakini tidak akan ada laki laki yang mau lagi padanya setelah tau keadaan dirinya yang sudah tidak perawan.


Intan berulang kali menoleh ke arah pintu berharap orang yang sedang di tunggunya muncul dari balik pintu tersebut. Namun, hingga sampai jam sepuluh pagi orang yang dia tunggu tidak juga menampakan batang hidungnya. Dewi memperhatikan gerak gerik intan yang tidak biasa seperti sedang cemas.


"Kamu kenapa Tan?"


Intan melirik pada Dewi." Mba Norin kok belum datang juga ya?"


"Tumben kamu nungguin mba Norin?"


"Ada perlu aja wi."


"Mungkin hari ini mba Norin ngga masuk kali. biasanya kan dia tampil datangnya."


Intan tidak menjawab ucapan Dewi namun ia termenung." Kasihan mas Rio."


"kenapa Tan? kamu bicara apa ? aku ngga dengar."


"Oh, ngga wi." kemudian Intan menatap layar laptopnya kembali.


Berkali kali dering telpon berbunyi di meja kerja Norin namun tidak ada yang mengangkat satu orang pun. Telpon itu berdering kembali.


"Wi, tolong itu angkatin telpon di meja nya mba Norin," titah Hendi.


"Iya mas."Kemudian Dewi mengangkat telpon tersebut.


"Oh, mba norin nya lagi ngga masuk kerja mba Anis." Dewi menerima telpon dari Anisa yang menanyakan Norin.


"iya mba, sama sama." Dewi menutup telponnya.


"Dari siapa Wi?" tanya Hendi.


"Mba Anisa, menanyakan mba Norin."


"kenapa mba Norin ngga masuk kerja ya? padahal aku butuh tanda tangan dia," ucap Hendi sambil menggaruk kepalanya.


"Apa ngga datangi ke rumahnya aja mas?" saran Rina.


Hendi menoleh ke arah Rina lalu tersenyum." iya sayang nanti aja pulang kerja."


Rina tersipu malu mendengar kata sayang dari Hendi.


"cuit....cuit...iya sih yang berasa dunia milik berdua," celetuk Dewi tiba tiba.


"Ha ha ha....bisa aja kamu wi."


Jam menunjukan pukul empat sore. Youn memarkirkan mobilnya di parkiran pabrik.


"Come on baby boy, kita sudah sampai di tempat kerjanya mama Nisa," ucap Youn pada balita yang sedang duduk di jok sampingnya.

__ADS_1


Kemudian, Youn menggendong Al berjalan memasuki kantor.


Tari menyenggol lengan Siska yang sedang melukis bibirnya dengan gincu sehingga membuat gincu itu belepotan di bibir tebalnya.


"Lu rese banget sih Tar," sentak Siska.


"itu lihat ke depan," titah tari.


Siska mengikuti arah telunjuk tari dan nampak seorang pria tampan yang kemarin ia temui sedang berjalan sambil menggendong seorang balita laki laki gembul.


"Hah, dia udah punya anak?" celetuk Siska.


"lu kenal sama cogan itu Sis?"


Siska menggeleng namun pandangannya tak lepas dari Youn yang hendak menaiki anak tangga.


"Tapi anaknya kok ngga mirip. matanya bulat kagak sipit."


"Iya juga sih. Ish gara gara lu lipstik gue jadi belepotan."


"Ha ha sorry, kagak sengaja gue Sis."


Youn menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setelah tiba di lantai dua ia menjadi pusat perhatian kembali karena datang dengan membawa seorang balita di gendongannya.


"Excuse me, apa anda tau dimana ruangan Anisa ?"tanya Youn pada salah satu staf wanita.


"Tuan lurus saja, ruangannya di sebelah kiri ada tulisan MD trim."


"Terima kasih."


Youn kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dimana Anisa berada. Setelah menemukan ruangannya ia langsung membuka pintu tersebut. Nampak Anisa sedang berbicara dengan pria berwajah india. Youn menekuk kan wajahnya. Ia tidak suka melihat Anisa berbicara dengan pria lain.


"Mama....!" teriak Al di ambang pintu.


Anisa dan Rabindra menoleh ke arah pintu lalu terperangah. Ia terkejut anaknya bisa berada di kantornya bersama Youn.


"Al....Youn," ucap Anisa dengan raut wajah bingung.


Rabindra mengerutkan dahinya. Tiba tiba ada pria asing sambil menggendong seorang balita memasuki ruangannya tanpa permisi.


"Dia temannya tuan Shin dan anak saya mister Rabin."


Rabindra terdiam setelah Anisa memberi tahu bahwa pria tersebut adalah temannya pemilik perusahaan ini. Awalnya Rabindra ingin mengomelinya Namun ia urungkan. Youn menatap ke arah Rabindra dengan tatapan tidak suka. Setelah itu, Anisa berjalan mendekati Youn dan anaknya.


"Kenapa kalian ada di sini?"


"Kami mau menyusul mama Anisa," jawab Youn dengan wajah datar. Ia masih kesal pada apa yang ia lihat tadi.


"Bukannya kamu mau menungguku di rumah."


"Kalau aku tidak datang kemari mungkin aku tidak akan melihat pemandangan seperti tadi."


"Maksudmu?"


"Ah tidak, bukan kah setengah jam lagi jam waktu pulang?"


"Tapi, aku sepertinya akan kerja lembur karena kerjaan ku menumpuk."


"What? oh no, kau tidak boleh lembur. kita pulang saja sekarang."


"Ish, kau ini apa apaan bertindak sesuka hati. perusahaan ini ada aturannya tidak bisa pulang dan pergi semaunya."


"Ya, aku tau. Tapi aku tidak suka melihat kamu dekat dekat dengan dia."


"Hah, kenapa? dia bos ku Youn."


"Ya ya tidak apa apa. bos kamu itu Shin bukan pria itu."


"Kamu ini aneh sekali."


"Apa aku perlu ijin sama Shin untuk membawamu pulang sekarang?"


"Youn.....!"


"Anisa, apa kamu akan mengobrol saja di situ? apa kau lupa ini kantor bukan tempat tongkrongan," sindir Rabindra.

__ADS_1


Anisa dan Youn menoleh pada pria yang sedang menyindirnya.


"Hi tuan, saya sudah meminta ijin pada Teman saya Hoon untuk membawa Anisa sekarang,"bohong Youn. Anisa membesarkan matanya menatap Youn.


Rabindra terdiam. Kalau sudah menyinggung nama pemilik perusahaan Rabindra tidak akan bisa berkutik.


"okey, silahkan,"ucap rabindra dengan wajah datar.


Anisa menghentak kan kakinya lalu masuk ke dalam untuk mengambil tas nya yang di letak kan di meja kerjanya. Kemudian, mereka berjalan beriringan melewati para staf yang masih bekerja. Bisik berbisik pun terdengar di telinga Anisa dan Youn namun mereka mengabaikannya.


"kau mengurangi pendapatan ku Youn," celetuk Anisa sambil menuruni anak tangga.


"Ck, berapa gaji lembur mu? aku akan menggantinya seratus kali lipat."


Anisa melirik pria sombong di sampingnya lalu mencebik kan bibirnya. Anisa dan Youn berjalan berdampingan melewati Tari dan Siska yang berada di meja resepsionis. Tari menyenggol lengan Siska kembali.


"apaan sih lu Tar, sering banget nyenggol nyenggol gue."


"Tuh lihat."


Siska menoleh pada dua pasang pria wanita sedang berjalan hendak melewatinya. Siska terperangah melihat salah satu musuhnya berjalan dengan pria Korea tampan.


"Uncle, Al mau di gendong mama,"celetuk Al tiba tiba tepat di depan meja resepsionis.


Siska dan Tari semakin melebarkan matanya mendengar ocehan balita yang berada di gendongan Youn.


Youn dan Anisa menghentikan langkahnya.


"Sini mama gendong,"ucap Anisa sambil mengulurkan tangannya.


"No, uncle saja yang gendong Al, kasihan mama berat kalau gendong Al,"tolak Youn.


"yes, uncle."


Kemudian mereka kembali melangkahkan kakinya meninggalkan lobi.


"oh my God. Jadi itu anaknya Anisa dan pria itu siapa nya Anisa? hebat si Anisa meskipun janda tapi bisa dapetin cowok kece model tadi. masa kita yang masih single kalah sama janda Sis." Ucapan Tari membuat wanita di sampingnya berang, dadanya naik turun menahan amarah. Bagaimana bisa ia tersaingi sama seorang janda beranak satu.


Youn memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sahabatnya sesuai petunjuk yang di kirimkan oleh sahabatnya. Rumah yang tidak terlalu besar itu terlihat ramai oleh anak anak.


"Youn, Al tidak bawa kado."


"Siapa bilang tidak bawa. lihat saja di belakang."


Anisa menoleh kebelakang. Benar saja sebuah kado berukuran besar teronggok di jok belakang. Ternyata Youn sudah mempersiapkan semuanya.


"Tadi sebelum menjemputmu aku dan Al beli kado terlebih dahulu. Ya sudah yuk turun."


Anisa dan Youn keluar dari mobil langsung di sambut oleh pasutri yang sedang tersenyum ke arah mereka.


Anisa mengerutkan dahinya menatap pada wajah wanita yang sepertinya ia mengenalnya.


"Alina.....kamu Alina kan ?" tanya Anisa dengan wajah terkejut.


"ya Allah.....kamu Anisa kan?" tanya Alina tak kalah terkejut.


"Iya ...aku Anisa."


Kemudian mereka berpelukan. Youn dan Robbi menatap bingung pada dua wanita cantik yang sedang berpelukan sambil menangis haru.


"kamu kemana aja Alina?"


"Aku sama keluargaku pindah ke Surabaya Nis. dan aku baru kembali ke kota ini belum lama baru dua bulan. Apa mamah Nia sehat Nis?"


"Mamah sehat Lin, tapi kenapa kamu ngga ngabarin aku."


"ceritanya panjang Nis, kalau di ceritakan ngga akan cukup satu bab."


"kamu ini selalu begitu "


"Kalian saling mengenal?" tanya Youn.


Anisa dan Alina menoleh pada Youn.


"Kami sahabatan waktu SMA Youn," jawab Anisa.

__ADS_1


"wow, great. terdengar manis sekali."


__ADS_2