Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 27.1


__ADS_3

...وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ...


...Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui....


...(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 64)...


...💚💚💚...


Paginya Dinda masuk kembali ke sekolah karena masa cutinya telah habis. Setelah ini dia tidak punya waktu cuti lagi sampai memasuki tahun ajaran baru besok.


Untuk mendapatkan libur Dinda berbohong kepada rekan guru-gurunya akan pergi ke kota lain. Jadi, dia berpura-pura membeli oleh-oleh khas kota lain untuk mendukung kebohongannya di sekolah. Dia membawa oleh-oleh itu ke sekolah dan membagikannya dengan senyum ramah dan bersahabat kepada rekan guru yang lain.


Tapi anehnya, semenjak masuk ke sekolah jika rekan guru-gurunya terlalu aneh. Dia pikir mereka menyembunyikan sesuatu tapi tidak yakin.


"Dimana Pak Roy? Sedari tadi aku belum melihatnya di sekolah." Dinda bertanya kepada salah satu guru.


Roy benar-benar tidak bisa dihubungi jadi untuk saat ini dia tidak tahu kabar apapun mengenai pertemuan orang tua kemarin. Dia juga sudah berinisiatif mencari tahu kepada guru-guru yang lain tapi mereka menjawab kompak tidak tahu.


Ini memang agak aneh tapi sebenarnya tidak juga. Karena hal yang wajar jika mereka tidak tahu. Justru Dinda senang jika mereka tidak tahu tentang kejadian hari itu karena biar bagaimanapun mereka bertengkar karena itu dimulai dari dirinya.


Salah guru tersenyum aneh,"Bu Dinda pagi-pagi sudah merindukan Pak Roy. Apa kalian sudah resmi berpacaran?" Katanya menggoda.


Ini salah, Dinda merasa bila guru ini sedang.. mengejeknya?


"Oh, itu tidak mungkin, Bu. Kami tidak mungkin berpacaran karena kami sudah punya seseorang di hati masing-masing. Kami ini orangnya setia, Bu, hehe.." Tapi Dinda tidak menganggapnya serius dan menganggap ini hanya bercanda saja. Maka dia juga membalasnya dengan jawaban bercanda juga.


Guru itu memandang guru-guru yang lain dengan senyuman yang masih terasa aneh.


"Eih, padahal kalian berdua cocok lho. Kenapa enggak pacaran aja sih biar kalian berdua menjadi paket lengkap?"


Paket lengkap?


Hati Dinda bergeming. Kali ini bukan hanya sekedar perasaannya saja. Dia yakin guru ini dan termasuk guru-guru yang lain mempunyai makna tertentu di balik ucapannya. Padahal dia ingat tidak pernah menyinggung mereka jadi mengapa mereka memberikannya sikap seperti ini?

__ADS_1


Dia merasa sedang dikucilkan, tapi apa iya?


"Tidak, Bu. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Untuk saat ini aku ingin fokus mengurus anak-anak di sekolah. Hah.. beberapa hari tidak bertemu mereka rasanya sangat tidak nyaman. Aku merindukan tawa mereka ketika keluar kota kemarin, rasanya sangat aneh tidak mendengar suara mereka beberapa hari ini." Jawabnya dengan rendah hati.


Jika ini sebelumnya, mungkin mereka akan mempercayai apa yang Dinda katakan. Tapi sayang mereka sudah tahu kebusukan hati Dinda.


Merindukan suara anak-anak?


Jangan bercanda, dia tidak akan tega menyakiti Ai jika benar-benar mencintai anak-anak.


"Wah, aku pikir Bu Dinda sangat bersenang-senang di luar kota dan tidak ingin kembali ke sini lagi karena mengurus anak-anak bukankah cukup menyebalkan?" Dan kali ini mereka melakukannya dengan terang-terangan.


Tidak, lebih tepatnya Dinda yang baru menyadarinya sekarang jika rekan guru-gurunya sedang menyindirnya. Tapi ini masih baik-baik saja sebelumnya?


Lalu kenapa setelah beberapa hari tidak masuk mereka tiba-tiba memusuhinya?


Tidak! Jangan bilang ini ada hubungannya dengan hilangnya Roy?


"Apa maksudnya, Bu? Aku mencintai anak-anak jadi karena itulah aku bekerja di sini." Walaupun panik Dinda masih berusaha bersikap tenang di depan mereka.


"Oh ya? Kata-kata Bu Dinda sejujurnya sangat menyentuh tapi ketika semuanya sudah terungkap kami pikir ini salah satu omong kosong Bu Dinda untuk membuat lelucon, bukan?"


Dinda mengepalkan kedua tangannya kuat.


"Lelucon bagaimana yang Ibu, maksud? Aku masih belum mengerti apa yang Ibu maksud."


"Hahahaha..Bu Dinda sangat pandai membuat lelucon. Jika memang Bu Dinda benar-benar mencintai mereka lalu kenapa Bu Dinda mengangkat salah satu anak di saat yang bersamaan menjatuhkan anak yang lain?"


Deg


Apa mereka tahu?. Batin Dinda bergeliat panik juga ketakutan.


"Aku.."

__ADS_1


"Permisi," Dinda segera tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


Mereka segera menoleh ke arah pintu masuk dan melihat wajah tua yang mereka kenal. Itu adalah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang berdiri bersamaan.


"Pak kepala sekolah dan Bu wakil, selamat pagi." Mereka menyapa dengan ramah mengabaikan wajah pucat pasi Dinda.


"Pagi." Kata Kepala sekolah ringan, dia lalu menoleh menatap Dinda dengan wajah beku yang tidak biasa.


"Dinda, kemari. Ada yang ingin bertemu dengan mu." Katanya datar dan sarat akan perasaan dingin.


Dinda merasa takut, jadi dia dengan ragu melangkahkan kakinya mendekati kepala sekolah.


"Ya, Pak? Siapa..siapa yang mencari ku?" Tanyanya gugup.


Pak kepala sekolah berjalan mundur beberapa langkah untuk membiarkan orang-orang di belakangnya masuk.


"Ini mereka." Di belakang mereka ada beberapa orang dengan jaket kulit hitam dan berseragam polisi masuk ke dalam ruang guru.


Mereka tidak banyak tapi juga tidak sedikit. Keberadaan mereka terlalu menonjol dan menimbulkan sensasi dari para orang tua yang sedang mengantar anak.


Mereka penasaran tapi tidak berani mendekat untuk mencari tahu, alhasil banyak kepala dengan rasa ingin tahu yang tinggi mengintip dari luar.


"Pak, maaf sebelumnya..ini.." Dinda ketakutan.


Dengan suara bergetar dia bertanya kepada kepala sekolah tentang keberadaan para polisi pagi-pagi di sekolah.


"Apa Ibu yang bernama Bu Dinda Kirana?" Tanya polisi berbadan kekar dan yang paling depan kepada Dinda.


"Ya..ya, saya Dinda Kirana. Apa Bapak punya urusan dengan saya?" Tanyanya gugup bercampur gusar.


"Kami dari kepolisian xx kota x telah menerima laporan dari Bapak Muhammad Ali Althalib dan istrinya Ibu Safira Sauqi, tentang pencemaran nama baik dan percobaan penculikan yang Ibu Dinda lakukan. Ini adalah surat penangkapan Ibu Dinda." Suaranya tegas dan jelas di dalam pendengaran semua orang.


Polisi itu kemudian memberikan Dinda sebuah amplop putih tersegel dengan logo kepolisian di luarnya.

__ADS_1


__ADS_2