
1 tahun kemudian.
Malam itu Safira, Ali, dan Ai baru saja menyelesaikan sholat malam bersama. Setelah bermunajat kepada Allah, Ali lalu membaca Al-Qur'an bersama anak dan istrinya. Mereka membaca Al-Qur'an, melambungkan ayat-ayat suci itu dengan khusyuk di saat banyak orang menarik selimut untuk mengusir dingin.
Padahal waktu-waktu ini adalah waktu yang paling Allah sukai. Dia turun bersama para malaikat-Nya untuk melihat para penghuni surga yang menghidupkan malam. Di setiap tetesan air wudhu mereka diperebutkan oleh malaikat, sholat mereka dikagumi para malaikat, dan doa mereka diaminkan oleh para malaikat.
Semua yang dilakukan oleh para penghuni surga yang sedang menghidupkan malam ini di kagumi dan di doakan oleh para malaikat. Kemunculan di saat yang bersamaan Allah berhadapan langsung dengan hamba-Nya. Dia mendekap hamba yang datang bersujud kepada-Nya, menjabah setiap doa yang di layangkan hamba-Nya, dan menjanjikan surga untuk hamba-hamba yang menghidupkan malam.
Mereka adalah para penghuni surga, orang-orang yang selalu membuat iri para penghuni langit karena kecintaan mereka pada Sang Pencipta.
"Bunda dan Ayah, Kakek bilang Ai akan menemani mereka membaca Al-Qur'an di bawah jadi apa Ai boleh turun ke bawah?" Suara lembut Ai ketika mengakhiri bacaan Al-Qur'annya.
"Ai boleh pergi," Kata Ali membolehkan.
"Tapi jangan lupa sama hapalannya, yah? Ai harus ingat setor hapalan setiap selesai sholat tahajud agar hapalan Ai barokah."
Ini adalah rutinitas di pondok pesantren tapi Ali turunkan kepada Ai. Rencananya dia akan mengirim Ai ke pondok pesantren tapi masih belum menemukan waktu yang tepat. Mungkin 3 atau 4 tahun lagi, atau justru mungkin 4 atau 7 tahun lagi. Entahlah, Ali masih belum yakin melepas Ai mengingat kondisinya yang khusus.
"Siap, Ayah. Nanti Ai akan minta Kakek mendengarkan Ai menghapal agar Ai lebih mudah menghapal." Katanya seraya menutup Al-Qur'an yang dia baca tadi dan membawanya ke dalam pelukan.
"Ai," Panggil Safira seraya menahan tangan putrinya.
__ADS_1
"Ada apa, Bunda?" Tanya Ai dengan suara lembutnya yang menyenangkan.
Safira tersenyum lembut,"Apa Ai capek harus bangun tengah malam dan menghapal Al-Qur'an?"
Ai tertegun, beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya ringan.
"Ai enggak capek, Bunda. Ai ingin memberikan Bunda, Ayah, Mama, dan Papa sebuah mahkota di akhirat kelak. Ai ingin membuat kalian semua bersinar di hadapan Allah hehehe.." Katanya malu.
Safira dan Ali tertegun, mereka tersenyum menahan takjub dan rasa syukur. Membawa Ai ke dalam pelukan mereka untuk berbagi kehangatan.
"Allah akan mengabulkan doa anak sholeh dan sholehah. Lanjutkan sayang dan jangan pantang menyerah. Ingat, meskipun ini cukup sulit tapi Allah sudah menyiapkan hari yang sangat bahagia untuk Ai." Bisik Safira menyemangati putrinya.
Setelah berbagi kehangatan Ai segera turun ke bawah bertemu dengan Bunda, Ayah, dan Sifa yang sudah berkumpul di ruang keluarga membaca Al-Qur'an.
Wajah Safira segera memerah. Tanpa ragu dia lalu menganggukkan kepalanya. Menerima uluran tangan Ali dan berjalan bersama-sama menuju balkon kamar mereka.
"Sayang, pernahkah kamu membahayakan kita akan berada di dalam surga bersama anak dan keluarga kita? Berkumpul bersama tanpa takut akan ada orang yang menyakiti ataupun mengganggu keluarga kita lagi." Bisik Ali seraya memeluk Safira dari belakang.
Malam ini dingin, seperti biasanya. Bahkan suasana malam yang mereka lalui pun sama manisnya seperti malam-malam yang mereka lewati.
Safira menghirup udara dingin dengan perasaan bahagia yang memenuhi hatinya. Kedua tangannya meremat kuat tangan Ali yang kini sedang melingkari pinggangnya.
__ADS_1
"Aku pernah-tidak, aku selalu memikirkannya, Mas. Aku selalu berdoa bahkan bermimpi bahwa hari itu akan datang. Di surga kita dikumpulkan di tempat yang sama dan aku menjadi bidadari surga yang Mas selalu pinta kepada Allah. Lalu, anak-anak dan keluarga kita yang lain bercanda gurau tanpa rasa khawatir seperti yang ada di dunia. Demi Allah, itu adalah harapan yang sangat menyejukkan jiwa dan tiada malam aku lewati tanpa meminta hal ini. Aku hanya ingin kita semua tidak terpisahkan, Mas. Aku hanya ingin Allah meridhoi keluarga kita semua dan tidak memisahkan bahkan di surga nanti." Bisik Safira merindu.
Dia merindukan hari itu, hari yang Allah janjikan. Sebuah kemenangan untuk hamba-hamba-Nya yang tidak akan pernah dimiliki oleh yang lain.
"Bidadari surga ku.." Bisik Ali seraya mengeratkan pelukannya pada Safira.
"Ya Allah apa Engkau mendengarnya? Wanita yang aku harapkan menjadi bidadari surgaku juga meminta kepada Mu agar dijadikan sebagai bidadari surgaku. Ya Allah, tolong kabulkan doa kami..tolong satukan kami tidak hanya di dunia ini namun juga di akhirat. Kabulkan lah ya Allah." Ucap Ali secara terang-terangan.
Membuat jantung Safira berdegup semakin kencang. Meremat kuat tangan besar suaminya yang ada di pinggang.
"Tolong kabulkan ya Allah.." Bisik Safira mendamba.
Cinta mereka selayaknya Ali bin Abi Tholib dan Fatimah RA putri Rasulullah Saw. Mereka merindu dalam diam namun selalu di langitkan di sepertiga malam. Kisah cinta ini membuat para penghuni langit menjadi kagum dan membuat cemburu para bidadari surga.
Pasangan kekasih yang mencintai karena Allah, sungguh, mereka akan selalu dilimpahi cinta oleh Allah dan akan selalu dalam lindungan-Nya pula.
Bukankah ini sangat romantis?
...END...
EXTRA PART BESOK TANGGAL 31 JULI 💚
__ADS_1
ADUH.. ENDINGNYA MAKSA BANGETðŸ¤