Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.16)


__ADS_3

"Astagfirullah..."


Sayup, aku mendengar suara rintihan seseorang seperti menahan rasa sakit. Aku membuka mataku secara perlahan, melihat Ai dan Asri masih tertidur lelap di sampingku.


Tidak, aku tahu itu bukan suara mereka. Bagaimana mungkin suara bernada berat itu dimiliki oleh seorang wanita?


Benar, suara ini adalah milik laki-laki.


"Bagaimana bisa Vano mengisolasi tempat ini?" Suara itu lagi masuk ke dalam pendengaran ku.


Ini benar-benar suara laki-laki, tidak asing..tapi aku ragu suara ini adalah miliknya.


"Ya Allah, apa aku harus menunggu di sini sampai waktu sholat malam datang?"


Ini benar-benar suaranya, tapi kenapa dia di sini dan bukannya ada di bawah- ya Allah, kapan dia pulang?


Dan..dan kenapa aku tidak mendengar kabar sedikitpun mengenai kepulangannya hari ini?


Tidak, tidak!


Orang-orang bilang mereka akan pulang besok atau beberapa hari lagi dan tidak ada yang mengatakan mereka pulang hari ini.


Selain itu.. kenapa pondok pesantren tidak mengumpulkan kami semua untuk menyambut keberhasilan mereka menjalankan tugas? Bukankah biasanya selalu seperti ini bila ada tamu penting atau orang-orang pondok yang berprestasi, pondok pesantren akan mengizinkan kami menyambut kedatangan tamu atau kepulangan orang-orang pondok yang berprestasi.


Tapi kenapa hari ini tidak?


"Astagfirullah."


Aku mencoba mengintip dari balik tembok. Dia sekarang sedang berdiri di depan anak tangga dengan kedua tangan menyentuh lutut sebelah kanan.

__ADS_1


"Astagfirullah." Dia beristighfar lagi.


Mungkin karena tidak tahan berdiri dia lalu mendudukkan dirinya di anak tangga sembari memijat kaki kanannya.


"Apa dia baik-baik saja?" Aku cemas.


Dari sini saja aku bisa melihat jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Haruskah aku bertanya kepadanya?" Aku ingin tapi takut dia akan melemparkan ku sebuah bahu dingin.


"Ya Allah,"


Sepertinya dia benar-benar kesakitan!


Aku memeluk erat kain mukena ku dan dengan ringan berjalan menghampirinya. Tidak, jarak kami sungguh sangat jauh. Untuk mencegah timbulnya fitnah aku berusaha menjaga jarak kami sejauh mungkin. Aku juga tidak berani melihat wajahnya dan mencoba fokus melihat lantai masjid.


"Apa Ustad Azam baik-baik saja?" Tanyaku dengan perasaan gugup luar biasa.


Bukankah dia mengatakan ingin membawakan ku sebuah hadiah dari luar kota?


"Maaf, apa aku membangun mu?"


Membangunkan ku?


Tunggu!


Jangan bilang.. jangan bilang dia sudah tahu keberadaan kami di sini atau.. mungkin..


Mungkinkah dia sudah ada di sini sejak kami naik ke lantai dua dan...yang lebih penting dari semua ini, apakah dia mendengarkan semua pembicaraan kami bertiga?

__ADS_1


"Ya Allah.." Apa aku tidak terlambat kembali tidur sekarang?


Rasanya sungguh sangat memalukan.


"Jangan marah, aku sungguh tidak bermaksud menguping semua pembicaraan kalian bertiga." Ustad Azam seolah bisa membaca pikiranku.


Ya Allah, sekalipun dia tidak sengaja tapi tetap saja dia mendengarkan semua pembicaraan kami. Pembicaraan ku.. mengenai hubungan kami yang kandas di tengah jalan-ah! Tiba-tiba aku menyesal mengikuti rencana Asri menginap di sini.


"Meskipun tidak sengaja namun tetap saja.. Ustad mendengar pembicaraan kami." Ah, rasanya aku ingin berlari kembali ke asrama saja saking malunya.


Jika tahu begini lebih baik aku melanjutkan tidur saja agar besoknya ketika kami bertemu aku masih bisa bersikap acuh kepadanya.


Ya Allah, ini sangat memalukan!


"Demi Allah, aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak berbohong kepada mu, Ga." Ustad Azam bahkan membawa-bawa nama Allah dalam sumpahnya.


Aku tahu dia tidak berbohong, tapi..


"Jika Ustad Azam benar-benar tidak berbohong, lalu kenapa Ustad tidak segera pergi dari sini?" Aku sungguh percaya apalagi dia membawa nama Allah di dalam sumpahnya. Hanya saja..aku ingin tahu alasan kenapa dia tidak pergi sedari tadi dan malah dia di sini mendengarkan pembicaraan kami.


"Mengenai hal itu aku tidak bisa memberitahumu secara rinci karena aku tidak berhak mengatakannya. Aku hanya datang ke sini murni karena ingin menaruh kitab-kitab baru yang diberikan oleh donatur kita. Setelah selesai rencananya aku ingin segera pergi tapi kalian tiba-tiba datang sehingga aku tidak bisa membuat gerakan atau suara yang mencurigakan. Mendengar suara benda jatuh saja kalian sangat ketakutan apalagi jika aku tiba-tiba muncul di depan kalian."


Meskipun begitu aku masih belum menerima penjelasannya karena semua rahasia ku telah ia dengarkan tadi!


"Tapi Ustad bisa pergi secara diam-diam jika memang tidak berniat menguping."


"Aku tidak bisa karena kakiku sedang terluka."


Terluka?

__ADS_1


Jadi dia benar-benar terluka!


"Kalau terluka kenapa masih memaksakan diri membawa barang ke sini?"


__ADS_2