
Ai melihat semua proses itu, dia juga melihat Ali beberapa kali mengusap keningnya yang berkeringat dan memutar lehernya yang mulai terasa pegal.
Ai pikir Ali sangat lelah dan tentu saja tidak bisa membantunya tidur. Jadi, dia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk kembali saja ke kamarnya.
"Ai?" Suara lembut Ali menghentikan langkahnya. Ali tidak sengaja melihat pakaian tidur Ai dari balik pintu. Dia pikir anaknya itu mungkin tidak bisa tidur lagi seperti malam-malam sebelumnya.
Sambil menggendong Ahza, dia keluar menemui Ai.
"Kamu belum tidur, dek?" Tanyanya sambil melihat waktu di jam tangannya.
Padahal ini sudah jam 1 malam dan semua orang sudah tertidur di kamar masing-masing.
"Iya, Ayah. Ai terbangun karena haus." Bohong Ai.
Ali tahu bila anaknya sedang berbohong. Dia lalu mengusap kepala Ai yang sudah ditumbuhi rambut panjang dengan lembut.
"Jujur aja sama, Ayah. Adek gak bisa tidur'kan di kamar?" Dia mengenal dengan baik anaknya ini meskipun baru bersama kurang dari 2 tahun.
Ai malu karena ketahuan berbohong.
__ADS_1
"Tapi sekarang Ai sudah mengantuk, Ayah." Katanya sambil berpura-pura menguap.
"Bagus, kalau begitu Ayah temenin bobok, yah?" Ali menawarkan.
Ai melihat si kecil Ahza yang ada di pelukan Ali dan dia juga berpikir bila si kembar lainnya pasti terbangun sehingga ada baiknya Ali diam di sini saja.
"Gak perlu, Ayah. Ai bisa kok bobok sendiri." Nyatanya dia sulit tertidur.
Ali sekali lagi mengusap kepalanya."Ayah ada cerita baru lagi. Kali ini tentang persahabatan Malaikat Izrail dengan Nabi Idris As. Ai mau dengar, gak?"
Seolah tidak merasakan letih nya, Ali berusaha membujuk Ai tidur dengan mendengarkan cerita yang akan dia ceritakan nanti.
"Tapi Ayah butuh istirahat dan juga lelah.."
Ali tersenyum,"Melihat kalian semua terlindungi dan tidur dengan nyaman adalah penghilang rasa lelah, Ayah. Jadi, bagaimana mungkin Ayah lelah mengurus Ai dan yang lainnya?"
Ai benar-benar tertipu.
"Sungguh?"
__ADS_1
"Ya, sungguh." Ali meyakinkan.
Ai kalah, dia memutuskan untuk mendengarkan dan membawa Ali masuk ke dalam kamarnya. Sambil berbaring dia mendengarkan Ali bercerita tentang persahabatan Malaikat Izrail dengan Nabi Idris As yang sangat luar biasa.
Selama bercerita Ali menepuk-nepuk ringan punggung Ahza dan sesekali mengusap kepala Ai agar segera terlelap. Hingga 15 menit kemudian Ai berhasil tertidur tanpa sempat mendengar akhir ceritanya.
"Alhamdulillah, mimpi indah, anak Ayah." Bisiknya lembut.
Ali melihat waktu, 4 menit lagi akan masuk pukul 2 dini hari. Sambil menggendong Ahza, dia menyiapkan keperluan Ai ke sekolah besok sambil mengingat-ingat bagaimana cara Safira menanganinya.
Meskipun kewalahan namun Ali berhasil menyelesaikan tugasnya. Dia segera kembali ke kamarnya dan anak-anak. Membaringkan Ahza dengan hati-hati di dalam box bayi dan mengecek dua bayi lainnya sebelum pergi mengambil air wudhu di kamar mandi untuk sholat witir.
Dilanda rasa letih dan kelelahan, Ali tidak sadar tertidur di atas sajadah setelah menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya.
Sejujurnya, semua memang terasa melelahkan namun Ali tidak mengeluh atau merasa kesal karena faktanya, dia menikmati semua ini. Hidup bersama anak-anak dan istri yang dia cintai. Ya Allah, betapa indah dan damai rasanya.
Bersambung..
Lanjut?
__ADS_1