
Di seberang mereka ada tabir hijau tua yang sangat panjang menghalangi antara stan makanan laki-laki dan perempuan. Mereka tidak bisa saling melihat secara langsung tapi selalu ada celah kecil yang memungkinkan mereka untuk bisa saling melihat. Tabir hijau tua itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rapat. Ada beberapa bagian yang sengaja dilubangi dari pabrik, jika mereka berdiri maka mereka bisa saling melihat.
Jadi karena hari ini adalah hari dimana santri baru masuk, beberapa perempuan atau laki-laki sengaja berdiri dari kursi mereka berpura-pura mengoper makanan atau memperbaiki posisi kursi agar bisa mencuri pandang. Ini bukanlah hal yang mengejutkan terjadi di pondok pesantren karena beberapa orang sulit melepaskan diri dari masalah asrama. Bahkan berkumpul di stan makanan untuk makan juga bisa menjadi ajang pertukaran surat cinta. Mereka melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak memancing kecurigaan dari Ustad maupun Ustazah yang juga makan di sana.
"Mashaa Allah, anak pondok ganteng-ganteng semua ya, Ai. Di sini aku bisa melihat kadar ketampanan yang tidak bisa aku lihat di desaku ataupun di sekolah ku dulu." Bisik Asri sesekali mencuri pandang ke stan laki-laki melalui lubang gorden di depan mereka.
"Ustad maupun Ustazah mereka juga tampan dan cantik-cantik." Bisik Ai kehilangan nafsu makannya.
Dia hanya asal menyendok makanannya tanpa niat untuk memakannya.
Asri mengangguk setuju,"Kamu benar tapi aku tidak tertarik dengan mereka."
Ai terkejut,"Kenapa kamu tidak tertarik dengan mereka?" Padahal di sini Ustad nya banyak yang tampan, termasuk Ustad Vano!
"Aku tidak suka orang yang terlalu dewasa, di samping itu Ustad di sini sudah diburu banyak wanita jadi kita tidak mungkin punya peluang untuk mendapatkan mereka!" Katanya masuk akal.
Ai juga berpikir sama, peluangnya untuk mendapatkan Ustad Vano hampir dikatakan tidak ada. Itu karena dia cukup tahu diri.
"Dengar Ai, daripada mengharapkan mereka yang jauh lebih baik kita mengharapkan mereka yang dekat. Coba angkat kepala mu dan lihat hamparan surga di depan mu!"
Ai mengikuti alur yang Asri buat. Dia mengangkat kepalanya melihat ke arah lubang tabir hijau tua yang mengungkapkan banyak sekali wajah tampan dan bersih yang sesekali mencuri pandang ke arah mereka berdu-
__ADS_1
Eh, kenapa semuanya menjadi putih?
"Astagfirullah, Ai! Habislah kita hari ini!" Asri segera menundukkan kepalanya berpura-pura makan.
Sementara Ai masih tidak menyadari situasi sehingga dia beberapa kali mengerjakan matanya masih heran melihat perubahan warna di lubang tabir hijau tua itu.
"Ekhem!" Suara dingin itu menginterupsi kebingungan Ai.
Terkejut, Ai mengangkat kepalanya perlahan dan menemukan wajah dingin Ustad Vano kini sedang menatapnya.
"Astagfirullah!" Ai panik, dia buru-buru menundukkan kepalanya ingin bersembunyi dari Ustad Vano.
Malu!
Karena pertama, dia membuat Ustad Vano kesal karena tidak sengaja menatapnya lama dan bahkan memanggilnya 'Kak Vano'!
Kedua, dia membuka kesalahan dihari pertama tinggal di sini! Dia tertidur di asrama sehingga datang terlambat ke masjid. Tentu saja hukuman dari kasus ini akan segera Ai terima!
Dan ketiga, dia sekarang ketahuan mengintip ke arah stan laki-laki! Padahal dia tidak bermaksud serius melakukan itu tapi Ustad Vano sudah menangkapnya basah.
Hah..
__ADS_1
Citraku dalam sehari hancur di matanya. Batinnya lemah.
Ustad Vano melihat Ai kini menunduk dalam takut melihatnya. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi dari matanya orang tahu jika Ustad Vano saat ini pasti sangat marah. Wajahnya yang dingin seperti kulkas berjalan bahkan kini lebih dingin lagi dari sebelumnya. Dia lebih mirip potongan es Antartika yang tersesat daripada kulkas berjalan.
Diam menatap Ai tanpa mengatakan apapun, dia kemudian melihat santri yang lain untuk mengawasi kenakalan mereka. Ini hanya beberapa detik saja karena setelah itu dia berbalik menatap sekelompok anak laki-laki yang tadi mencuri pandang dari lubang tabir hijau tua yang kini sedang ditutupi Ustad Vano menggunakan punggung kuatnya.
"Setelah selesai makan kalian bisa mulai membersihkan lapangan olahraga yang ada di depan. Rumputnya harus dipotong merata dan sampah daunnya harus kubur untuk dijadikan pupuk. Apa kalian mengerti?" Suara Ustad Vano tanpa kehangatan.
Santri yang lain saling memandang ketika mendengar hukuman dari Ustad Vano. Membersihkan lapangan olahraga di jam segini?
Betapa menyiksanya itu!
Sekelompok laki-laki itu menunduk hormat tidak berani menatap Ustad Vano. Bahkan makanan yang ada di depan mereka sekarang rasanya tidak seenak tadi.
"Kami mengerti, Ustad." Jawab mereka malu.
Ustad Vano telah memberikan mereka hukuman jadi masalah ini bisa dibilang sudah selesai. Ustad Vano mengedarkan pandangannya ke seluruh stan makanan laki-laki beberapa detik sebelum pergi. Ketika memutar tubuhnya dia melirik Ai yang masih tertunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Porsi makanan yang ada di atas piring Ai tidak mengalami perubahan banyak. Sedangkan piring santriwati yang lain sudah setengah dan bahkan ada yang sudah menghabiskan makanan mereka.
Ustad Vano mengernyit, dia memang puas namun pada saat yang bersamaan juga tidak puas.
"Aneh, tidak biasanya Ustad Vano ada di sini. Seingat ku Ustad Vano jarang datang ke sini dan lebih banyak berada di kantor saat waktu makan tiba." Mereka berbisik-bisik heran setelah melihat punggung Ustad Vano menghilang.
__ADS_1
"Mungkin saja Ustad Vano datang ke sini karena dia ingin ikut bergabung bersama kita. Ah.. sebenarnya aku tidak perduli dengan alasan kemunculannya yang tiba-tiba hari ini. Bagiku dia berdiri di sini saja sudah sangat membahagiakan. Ini lebih baik daripada tidak melihatnya sama sekali!" Yang lain menimpali tidak perduli.
Baginya melihat Ustad Vano di sini saja sudah membuatnya senang apalagi jika Ustad Vano ikut makan bersama mereka, bukankah itu namanya sebuah keberuntungan?