
...إذا أحب الله عبدا أكثر غمه و إذا أبغض عبدا وسع عليه دنياه...
...“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memperbanyak kepedihan hamba tersebut. Dan jika Dia membenci seorang hamba, maka Dia akan melapangkan dunia kepadanya.”...
...Al-Fudhail bin Iyadh...
...🍁🍁🍁...
Selepas kepergian Ustad Vano, mereka berempat tidak ada mengucapkan sepatah katapun. Ruangan yang awalnya dipenuhi oleh suasana canggung yang sarat akan rasa manis kini hanya menyisakan perasaan canggung sekaligus tidak nyaman.
Mereka diam membisu mengamati wajah cantik Ai yang kembali berwarna pucat, tidak menyisakan warna merah nan manis itu di pipi Ai. Ia kini terlihat seperti orang yang sakit-sakitan, lemah dan tampak lemas.
"Aku ingin pulang." Kata Ai akhirnya.
"Eh, jangan! Kalau kamu pulang pondok pesantren tidak akan asik lagi tanpamu." Tolak Asri tidak mau.
Dia tidak mau Ai pergi dari pondok pesantren karena tanpa Ai, pondok mungkin tidak akan menyenangkan lagi untuknya.Bukan hanya Ai, tapi juga tidak mau Mega keluar dari pondok. Dia merasa akan sangat kesepian bila kedua sahabatnya ini pergi.
Intinya tidak ada yang boleh meninggalkannya.
"Aku tidak ingin pulang ke rumah, Asri. ingin kembali ke asrama." Ai dibuat tersenyum olehnya.
"Oh...aku pikir kamu ingin pergi meninggalkan kami." Asri malu jadinya.
Karena suasana berubah sangat cepat, makanan yang Ustad Vano bawa untuk mereka menjadi tidak menarik lagi. Fokus mereka saat ini sepenuhnya jatuh pada Ai, gadis pucat yang masih terbaring di atas ranjang dengan infus di tangan kirinya.
"Jangan kembali dulu. Saat ini kondisi kamu masih belum baik-baik aja. Kamu lebih baik istirahat aja di sini dan besok kamu pasti sudah bisa kembali ke asrama." Mega membujuk.
Namun, Ai tidak mau mendengarkan. Dia ingin kembali ke asrama karena ia pikir kondisinya baik-baik saja. Di samping itu...dia tidak suka dengan tempat-tempat yang memiliki bau obat-obatan seperti rumah sakit. Karena dia pasti akan mulai mengeluarkan masa lalu, hari ia datang ke rumah sakit untuk melihat jasad kedua orang tuanya yang telah lama membusuk karena disekap di rumah sakit.
__ADS_1
Itu menyakitkan.
Suasana hati Ai juga sedang dalam keadaan buruk. Dia khawatir tentang rumor buruk tentang dirinya di pondok pesantren dan khawatir lagi ketika ada reaksi Ustad Vano mengetahui semua kebenaran itu.
Bertanya-tanya di dalam hati, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ujian ini datang terlalu tiba-tiba dan bodohnya lagi Ai tidak siap. Ia tidak siap terekspos di depan banyak orang karena tidak semua orang menerima perbedaannya.
"Aku ingin kembali ke asrama." Dia menuntut.
Ratna melangkah mendekatinya, "Jika kamu kembali Ustad Vano akan sangat marah jika tahu."
Ratna kini tahu bila Ustad Vano menyukai Ai. Itu bisa ia lihat dari tindakan intim Ustad Vano kepada Ai yang tidak bisa didapatkan oleh santri perempuan yang lain. Dan ia juga tahu bila Ai menyukai Ustad Vano, semua ekspresi dan tingkah malu Ai tadi telah memberitahunya.
Ia tahu dan karena itu ia berusaha membujuk Ai tinggal di sini agar Ustad Vano tidak marah nanti bila tahu Ai kembali ke asrama.
Ai tahu itu tidak mungkin terjadi.
Tes
Tes
Tes
Cairan merah mulai mengalir keluar dari tangan kiri Ai. Setetes demi setetes cairan merah segar itu jatuh ke atas ranjang. Sontak saja mereka bertiga berteriak kaget, buru-buru mendekati Ai yang tidak kalah kaget juga dengan mereka.
Tapi ini hanya beberapa detik saja karena setelah itu Ai tidak peduli. Dengan menggunakan kain jilbabnya, darah yang ada di atas ranjang langsung menghilang tersapu bersih. Ia juga melakukan hal yang sama di tangan kirinya yang masih berdarah.
"Ya Allah, Ai..." Mega menutup mulutnya.
__ADS_1
Ai tersenyum ringan,"Tidak apa-apa, ini tidak sakit." Kata Ai menghiburnya.
"Ayo pergi, aku ingin mandi dan membersihkan diriku di asrama." Sepulang sekolah tadi dia tidak sempat mandi.
Ia tidak tahan dengan tubuh yang terasa gerah dan lengket karena keringat.
"Jangan bercanda, Ai. Saat ini kamu belum bisa pergi kemanapun apalagi mandi." Ratna masih belum lepas dari perasaan shock nya.
Ai tersenyum kecil. Dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur. Berjalan ringan dan santai di depan mereka seolah menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh baik-baik saja.
"Kalian tidak perlu khawatir." Katanya ingin.
"Tapi-"
"Aku baik-baik saja." Ai menegaskan untuk yang kedua kalinya.
Mereka bertiga mengalah. Membiarkan Ai melakukan apa yang ia ingin lakukan. Mereka tidak bisa memaksa Ai untuk tinggal di sini karena dari ekspresi murung Ai saja mereka tahu bila Ai tidak suka tinggal di sini.
"Baiklah. Aku akan memberitahu dokter dulu sebelum pergi." Kata Mega mengalah.
Dia kemudian pergi hanya menyisakan ada Ai, Ratna, dan Asri di sini. Tidak lama suara ketukan pintu tiba-tiba menarik perhatian mereka bertiga.
"Assalamualaikum?" Tiara masuk ke dalam.
Ketika Ai sudah bisa berdiri lagi dia terkejut, namun beberapa detik kemudian sebuah senyuman lega terbentuk di wajahnya. Dengan langkah ringan dia kemudian mendekati mereka bertiga- ah, mungkin lebih tepat jika Anda ingin mendekati Ai.
...🍃🍃🍃...
PS!
__ADS_1
Spasi dan huruf kapital tiba-tiba bermasalah jadi saya kembali merevisinya 🍃