Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.3)


__ADS_3

"Sa-sarung... Kakak," Asri melirik Sasa canggung


Sama seperti dirinya saat ini, Sasa juga tampak cukup canggung dengan kedua pipi tersipu malu-malu.


"Iya, dimana sarungku?" Kevin dengan sabar menuntut tapi sarat akan nada cemburu.


Cemburu?


Tidak-tidak! Ini hanya perasaan Asri saja, okay! Ini tidak benar-benar terjadi.


"Sarung Kakak sudah aku berikan kepada Kak Sasa." Pada akhirnya dia menjawab jujur bahwa sarung itu sudah ia berikan kepada Sasa- oh, lebih tepatnya Sasa yang meminta sarung itu secara langsung kepadanya.


Kevin dan teman-teman Asri terkejut. Pandangan mereka sontak beralih menatap Sasa yang kini telah berwajah merah karena malu.


"Itu..." Sasa canggung menjelaskannya dan ia lebih malu lagi.


"Kenapa sarungku ada padamu?" Kevin bertanya bingung, secara tidak langsung ini menyinggung hati Sasa. Kenapa?


Ia menjadi lebih bingung. Bukankah hal yang wajar jika ia menyimpan barang-barang kekasihnya?


Yang tidak wajar itu justru perempuan lain yang menyimpan barang kekasih orang lain.


"Aku menawarkan diri sendiri untuk mencuci sarung mu beberapa hari yang lalu."


"Kenapa kamu melakukan itu?" Kevin terganggu, dia tidak suka Sasa melakukan itu.


Asri menyadari situasi sedang tidak benar diantara mereka berdua dan itu disebabkan oleh dirinya sendiri!


Asri merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya mengganggu pembicaraan Kakak, tapi apa kami bisa kembali ke asrama sekarang? Ada sesuatu yang harus segera kami urus." Asri membuat kebohongan besar dengan membawa-bawa nama teman kamarnya.


Semua orang,"...." Kami masih ingin tinggal di sini!


Padahal teman-teman kamarnya tidak ingin segera pulang ke asrama. Mereka sangat tertarik mendengar pembicaraan Kevin dan Sasa. Jiwa-jiwa gosip mereka terpanggil saat ini, membuat mereka enggan melangkah pergi.


Kevin melirik tidak suka. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Dia tidak bisa mengontrol ekspresi dingin di wajahnya. Padahal dia biasanya selalu menunjukkan senyuman ramah dan terkesan mudah didekati.


"Tidak bisa, kamu tidak bisa melarikan diri karena ini adalah tanggungjawab kamu juga." Kevin menolak dengan serius.


Asri yang gagal melarikan diri,"Tanggung jawab ku?" Tanyanya bingung.


Semua orang,"....." Sekarang mereka bisa menonton drama pertunjukan dengan bebas!


"Iya, ini adalah tanggungjawab mu. Seharusnya kamu bisa menjaga barang yang diberikan oleh orang lain dengan baik karena orang itu juga telah mempercayakan barangnya kepadamu. Dan juga, jangan biasakan diri pilih-pilih dalam berbuat kebaikan. Sangat tidak adil rasanya ketika melihat kamu hanya mengembalikan jaket orang lain tapi tidak dengan sarungku." Kevin berucap tanpa malu-malu.


Asri dengan ekspresi sembelit di wajahnya,"...." Memangnya siapa yang ingin menggunakan sarung itu pada awalnya? Bukankah Kevin sendiri yang memaksanya menggunakan sarung itu tanpa mendengarkan penolakan-penolakan, ah!


"Aku... minta maaf, Kak." Asri menelan kembali kata-kata di mulutnya.


Kevin mendengus,"Maaf saja tidak cukup. Jika maaf itu cukup maka kenapa pondok pesantren harus menciptakan sebuah hukuman?"


Tolong, ini tidak ada hubungannya dengan pondok pesantren! Batin Asri meraung-raung.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Asri gatal ingin melarikan diri.


"Ikut denganku ke kota." Ah, pembahasan ini nyatanya belum selesai.


Asri meremat tangannya gugup. Dia sebenarnya ingin pergi ke kota bersama Kevin tapi dia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu hubungan Kevin dan Sasa. Di samping itu ia sedang berjuang move on dari Kevin jadi bagaimana mungkin ia ikut pergi ke kota dengan laki-laki yang sangat ingin ia jauhi.

__ADS_1


"Untuk soal ini, aku minta maaf karena tidak bisa memenuhinya." Asri menolak dengan pendirian teguh.


"Kamu-"


"Kevin," Panggil seorang santri laki-laki dari belakang.


Ketika melihat kedatangan santri laki-laki itu, Asri seolah melihat sebotol air putih di tengah gurun pasir. Menghilangkan haus dan dahaga yang telah menggerogoti tenggorokannya.


Ini adalah peluang!


Ia harus memanfaatkan peluang ini dengan baik. Jadi, tanpa menunggu hujan turun membasahi gurun pasir- oh, maksudnya tanpa menunggu Kevin fokus kembali kepadanya, Asri buru-buru mengucapkan pamit dan langsung kabur melarikan diri kembali ke asrama.


"Sepertinya Kakak sedang sibuk, kebetulan sekali aku juga harus kembali ke asrama untuk mengurus sesuatu, assalamualaikum." Lalu ia membawa langkah kakinya berlari sekuat tenaga meninggalkan teman-teman kamarnya dan Kevin.


Kevin yang tertangkap tidak siap,"...." Dia melarikan diri.


Teman-teman kamar yang ditinggalkan,"...." Bagus, drama baru saja dimulai tapi sudah berakhir saja karena Asri melarikan diri, ah!


Kevin kemudian mengesampingkan pembicaraan ini sampai ada kesempatan lagi bertemu dengan Asri. Santri laki-laki yang datang mencarinya ternyata membawa kabar dari pondok sehingga ia larut dalam obrolan.


Sementara itu, Sasa masih ada di tempat dengan segala macam pikiran yang memenuhi kepalanya. Kecurigaan dan rasa cemburu kini mendominasi apa yang sedang dirasakan hatinya saat ini.


Ia ingin bertanya tapi terhalang oleh rasa malu, selain itu beberapa waktu ini entah mengapa ia merasa jika Kevin seolah mulai menjaga jarak darinya?


Ia tidak lagi seramah dulu ketika bertemu dan Kevin juga tidak lagi mengambil inisiatif berbicara kepadanya bila kebetulan bertemu.


Apa perubahan ini disebabkan oleh Asri, gadis desa yang selalu bermain dengan Mega sebelumnya.


Bersambung...

__ADS_1


Khusus Asri dan Ai, novel mereka akan saya tulis secara terpisah dan dipublikasi Inshaa Allah di awal bulan November, Inshaa Allah.


__ADS_2