
Elis langsung menghambur memeluk Norin setelah di lepaskan rambutnya oleh ibunya. Ia nangis sesunggukan di bahu Norin. Norin mengelus punggungnya menenangkan agar Elis mau berhenti menangis.
Tak lama kemudian, tangis Elis mulai mereda. Norin menuntun lalu mendudukkan Elis di kursi teras rumahnya.
"Lis, coba kamu katakan aja siapa ayah biologis anak yang kamu kandung ini? biar ibumu ngga nyalahin kamu, terus kalap lagi sama kamu?" tanya Norin dengan pelan.
Elis masih diam dan menunduk, sesekali menyeka air matanya.
"cepat Lis bilang, apa mau aku cekik kamu?" bentak Bu Retno.
Elis ketakutan mendengar ucapan Bu Retno.
"ha ha haji Imron." jawab Elis dengan gugup dan takut.
Bagai tersambar petir di malam hari mendengar pengakuan anak yang ia bangga banggakan selama ini. Bu Retno tidak menyangka orang yang telah menghamili anaknya adalah tetangganya sendiri, pria tua dan sudah beristri. Kemudian, Bu Retno memegang dadanya yang terasa sesak dan Penglihatannya mulai kabur.
Brughhh
Bu Retno jatuh pingsan di tempat.
"ya Allah Bu Retno." Norin terkejut melihat Bu Retno terkapar di lantai.
"A Doni tolong angkatin Bu Retno," titah Norin pada Doni.
"waduh kayaknya kita ngga bakal kuat ngangkat berdua Rin." Bu Retno yang memiliki berat badan sembilan puluh lima kilo terkapar di lantai membuat Doni menggaruk tengkuknya.
"cari bantuan warga aja kalau gitu a."
"yaudah aku cari bantuan dulu ya." Namun, sebelum pergi mencari bantuan, sepasang pasutri, Bu Nuning dan suaminya datang ke rumah tersebut. Mereka yang hendak menemui Bu Retno karena ada keperluan mendapati orangnya tengah pingsan di atas lantai.
"lho, lho mba Norin ini kenapa Bu Retno bisa pingsan?" tanya suami Bu Nuning.
"kebetulan ada pak Acong, tolong bantuin angkat Bu Retno pak," ucap Norin.
"yaudah hayuk kita angkat." kemudian Doni, pak Acong, Norin serta Bu Nuning mengangkat tubuh gemuk Bu Retno masuk ke dalam rumahnya dan di letakan di karpet depan televisi.
"Lis, tolong ambilkan minyak angin," titah Norin.
Elis buru buru mengambil minyak angin. Norin mengambil minyak angin dari tangan Elis lalu membalurkan ke hidungnya. Lima menit kemudian Bu Retno membuka matanya.
"Imroooonnnn kurang ngajar kamu ngebuntingi anak ku brengsek kamu Imron." teriak Bu Retno, ia ngamuk kembali.
__ADS_1
"lepasin lepasin aku, aku mau bunuh laki laki tua itu yang udah ngebuntingin si Elis." tangan Bu Retno meronta ronta menyingkirkan beberapa tangan yang memegangnya.
"lepasin lepasin.....!"
"istighfar Bu, istighfar.....!"
Bu Nuning menoleh pada Elis yang duduk di pojokan sambil menangis.
"jadi kamu beneran bunting sama si aki aki ganjen itu Lis? gimana ceritanya kamu bisa bunting sama si Imron? di iming iming duit berapa kamu sama dia?" pertanyaan Bu Nuning memojokkan Elis membuat gadis itu menangis histeris.
"tolong Bu Nuning, perasaan Elis masih terguncang tolong jangan bertanya tanya dulu padanya," ucap Norin. Bu Nuning langsung terdiam.
"kalau begini aja ngga akan kelar kelar permasalahannya. lebih baik kita samperin aja si Imron nya," usul pak Acong.
"benar pak, saya setuju lebih baik kita samperin sekarang," usul Doni.
Kemudian mereka bergegas pergi menuju rumah haji Imron.
"ooh, ah emp...cepetan bang." de sah sang wanita. Sementara sang pria masih sibuk memaju mundurkan pinggulnya.
"Imron....Imron.....keluar kamu brengsek."
Di tengah tengah on fire, Imron harus menghentikan kegiatan hubungan suami istrinya.
"mana ku tau, mana belum keluar lagi...ah dasar brengsek itu orang." Kemudian, Imron melepaskan penyatuannya lalu segera memakai sarung tanpa celana.
Setelah itu, Imron keluar kamarnya lalu membuka pintu utama.
Tampak pria paruh baya baru keluar dari rumahnya dengan hanya memakai sarung serta penuh dengan peluh.
Bu Retno menatap nyalang pada pria tersebut sementara Elis hanya menundukkan wajahnya saja.
"ada apa ini malam malam rame rame ke rumah saya? apa mau kampanye?"
" heh, Imron dasar tua tua keladi. lu buntingin si Elis kan? ngaku lu?" kalau ngga gue kebiri burung penyot lu." Bu Retno berbicara dengan meluap luap.
"enak aja ngatain burung saya penyot, kalau penyot di Elis ngga bakalan bunting." Imron mengaku tanpa di desak, karena ia sudah tau sebelumnya Elis memberi tau kalau dia hamil olehnya.
"oh, jadi lu udah tau kalau anak gue hamil sama lu?"
"siapa yang bunting? dan siapa yang ngebuntingi hah?" tanya istri Imron yang tiba tiba datang dengan dada naik turun. Sementara Imron bersikap santai saja seolah olah tidak bersalah.
__ADS_1
"kebetulan lu ke luar Nori, biar sekalian lu tau kelakuan suami lu yang bergelar haji sudah ngebuntingi anak gue si Elis."
Mata Nori membelalak ia terkejut sekali, kelakuan suami ganjen nya membuahkan hasil. Kemudian, Nori menatap tajam pada suaminya.
"apa benar itu bang?"
"iya benar, aku yang menghamilinya."
Nori menampar keras pipi suaminya. air matanya mulai tumpah lalu menangis histeris.
"tega sekali kamu sama aku Imron, apa salah aku sama kamu? aku udah nemenin hidup kamu selama dua puluh lima tahun dalam susah senang. tapi kenapa kamu berselingkuh?"
"kan kamu tau Nori, aku juga butuh keturunan. kamu jangan egois. sekarang udah kebukti kan siapa yang mandul di antara kita? dua puluh lima tahun aku menanti seorang anak tapi sampai sekarang kamu ngga bisa ngasih aku keturunan. masih untung aku berbaik hati kamu ngga aku cerain."
Nori menunduk sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Dia tau, suami nya kerap kali menggoda daun muda tapi kali ini rasanya benar benar sakit hati karena wanita itu telah mengandung anaknya. Ia berlari masuk ke dalam rumahnya.
"ya Allah kasian sekali mpo Nori, nasibnya hampir sama dengan Anisa yang suaminya menghamili wanita lain. kenapa sih kebanyakan pria begitu mudahnya menyakiti kami para wanita?" matanya berkaca kaca. Norin teringat pada Revan dan juga teringat pada Shin. Dua pria itu yang telah menyakiti hatinya.
Doni menoleh pada wanita yang tengah berdiri di sampingnya dengan mata berkaca kaca." apa yang di pikirkan Norin? kenapa dia terlihat begitu sedih?" Doni bermonolog.
"Sekarang mau kamu apa Retno?" tanya Imron.
"kamu harus tanggung jawab Imron."
"oke saya akan tanggung jawab. malam ini juga aku akan menikahi Elis," ucap Imron tegas.
Elis terperangah. Ia tidak menyangka akhirnya akan menjadi istri kedua pria paruh baya tersebut. Elis yang terkena bujuk rayu pria paruh baya dengan iming iming uang lima juta serta uang yang akan selalu dia terima tiap bulan dan akhirnya menyerahkan tubuhnya pada pria tersebut. Ia mengkhianati tunangannya yang sudah begitu baik padanya. Elis pun sangat menyesal telah membuang berlian demi sebongkah batu aki. karena memang kenyataannya pria tersebut sudah aki aki. Namun, nasi telah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tak mungkin kembali seperti semula lagi.
"aku mau pesta dan mahar yang besar Imron,"ucap Bu Retno.
"sebenarnya yang mau aku nikahi itu kamu apa si Elis? kenapa kamu yang banyak maunya?"
"wajar aku banyak maunya. si Elis itu anak aku satu satunya. dia cantik, masih muda dan fresh. mestinya kamu beruntung dapat si Elis apalagi kamu udah tua."
"oh, yaudah kalau kamu banyak nuntut si Elis ngga aku nikahi,"ancam Imron.
"oh begitu, ngga apa apa ngga kamu nikahi, tinggal di gugurin aja itu anakmu. toh si Elis masih sangat muda dan cantik masih banyak pria yang mau sama dia." Bu Retno mengancam balik.
Imron tersentak, memiliki seorang keturunan adalah keinginannya dari dulu. Bagaimana mungkin keturunan satu satunya yang ada di rahim Elis la biarkan lenyap begitu saja.
"okey, okey. tapi beri aku waktu satu minggu untuk mempersiapkan menikahi Elis.
__ADS_1
"oke. aku tunggu janjimu Imron. Kalau kamu bohong awas aja. Aku akan benar benar gugurin keturunan kamu itu."