
Sejak kejadian 13 tahun yang lalu, Mama dan Papa Mega mulai berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Tidak hanya itu saja, mereka juga mulai mencari tahu latarbelakang keluarga Ai. Entah itu dari pihak Ayah maupun Bunda, mereka mencarinya dengan harapan bisa memperbaiki hubungan lagi dengan keluarga Ai.
Imbasnya Mega juga harus mempelajari setiap informasi yang Papa dan Mamanya dapatkan. Secara alami ia juga mulai mengenal Ai, keluarga Ai, dan bagaimana latarbelakang keluarga Ai.
Jadi tidak mengherankan bila ia tahu tentang keluarga Ai hari ini.
Semua orang terdiam mencerna kata demi kata yang Mega ucapkan. Dari latarbelakang keluarga Ai yang luar biasa, mereka tahu bahwa ilmu agama pasti dijunjung tinggi di dalamnya sehingga tidak mungkin bagi Ai untuk menjalankan operasi transgender.
Lagipula ini hanyalah rumor dan seharusnya mereka tidak percaya begitu saja. Menyesal, mereka telah menyakiti sosok baik nan lembut yang selalu bersikap hangat kepada mereka.
"Kami salah dan kami-"
"Aku memang pernah melakukan operasi sebelumnya." Suara lembut Ai menarik perhatian mereka semua yang ada di dalam kamar.
Ai yang sedari tadi diam menahan sakit di belakang Mega akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
Dia berjalan ke depan, berdiri di depan semua orang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan rumit.
"Aku adalah seorang Hermaprodhit, orang yang lahir dengan dua alat kelamin berbeda." Ucap Ai membuat semua orang terkejut.
"Ya Allah.."
"Astagfirullah.."
Mega sedih melihat sahabatnya terpojok seperti ini.
"Ai cukup, jangan katakan itu lagi." Mega membujuk.
Namun Ai tidak mendengarkannya dan tetap melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
"Aku punya dua alat kelamin, satu perempuan dan satu laki-laki. Aku juga punya rahim seperti kalian tapi...aku hanya memiliki dada datar." Perlahan cairan bening mengalir keluar dari sudut matanya.
"Benar, aku terlahir berbeda. Aku tidak seperti kalian yang sempurna." Ai tidak menyalahkan takdir, tidak, ia tidak menyalahkan takdirnya.
Namun, terkadang ia merasa cemburu melihat teman-temannya yang lahir sempurna. Dihargai dan mendapatkan masa depan yang jelas, sedangkan ia?
Ia masih berkubang dalam angan-angan akan seperti apa masa depannya nanti. Adakah laki-laki yang mau mencintainya dengan tulus dan mau menerima kekurangannya ini.
Apakah ada?
Pertanyaan ini adalah misteri yang belum bisa ia pecahkan.
"Tepat 13 tahun yang lalu aku melakukan sebuah operasi pengangkatan salah satu alat kelamin dan aku memilih untuk menyingkirkan alat kelamin laki-laki ku. Dokter bilang aku punya rahim, aku bisa dibuahi. Di samping itu bentuk tubuhku lebih menonjolkan sisi perempuan walaupun dada ku tidak akan mengalami perubahan apapun. Ya, dulu aku pernah melakukan operasi tapi bukan operasi transgender. Dokter dan keluarga ku bilang aku adalah seorang perempuan, aku sama seperti kalian."
Semua orang terdekatnya mengatakan itu, dia adalah perempuan. Allah menciptakannya sebagai perempuan yang sangat spesial, dia tahu itu. Hanya saja untuk tetap berdiri di dalam 'gelar' spesial ini dia telah melalui banyak penolakan. Rasanya...itu sangat menyakitkan.
"Maukah kalian menjawab ku," Ai menatap teman-teman kamarnya dengan sendu.
"Ai, ku mohon jangan katakan itu lagi..." Mega memeluk Ai, memeluknya erat untuk berbagi kehangatan.
Asri yang tidak kalah shock nya dengan teman-teman kamar yang lain akhirnya tersadar. Matanya memerah, ada riak-riak hangat yang mulai menggenang di dalam matanya.
"Ai.. jangan menangis.." Dia mulai menangis, memeluk Ai dan Mega untuk berbagi kesedihan.
Tidak, tidak hanya mereka saja tapi semua orang juga ikut merasakan sakit untuk Ai. Dengan suara isakan kecil dan mata yang sudah mulai memerah mereka memeluk Ai.
Mereka menangis bersama, untuk rasa sakit dan sebuah penyesalan.
"Aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan seperti ini, aku ingin seperti kalian semua tapi Allah telah menetapkan takdir untukku...jadi bagaimana aku bisa melawan takdir yang Allah sudah tetapkan? Meskipun hatiku menginginkan... meskipun aku juga ingin terlihat sempurna seperti kalian tapi Allah sudah menetapkan jalan yang harus aku lalui. Hiks...aku sudah seperti ini mengapa kalian mendorongku pergi? Rasanya sungguh sakit ya Allah... rasanya sungguh sakit.." Isak Ai tidak bisa menahan kesedihannya.
__ADS_1
Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan teman-teman kamarnya. Dia mengatakan apa yang sudah ia sembunyikan selama ini dan dia mengatakan apa yang sudah membebani hatinya.
Dia ingin, dia sangat ingin seperti mereka semua. Lahir sempurna dan tidak diragukan identitasnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan ketika Allah sudah menetapkan jalan mana yang harus ia lalui. Apa yang harus ia lakukan ketika Allah telah memutuskan takdir apa yang harus ia jalani.
Ai sungguh tidak bisa melakukan apa-apa kecuali melapangkan dadanya untuk menerima semua ketetapan Allah. Ia mencoba ikhlas dan menjalani semuanya dengan bersabar dengan kepercayaan bahwa Allah telah menciptakan skenario terindah untuknya.
"Aku... sebenarnya ingin mandi bersama kalian tapi karena kondisiku ini aku takut kalian ketakutan dan berpikir yang macam-macam tentang ku. Aku sungguh..." Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Kepalanya pusing, kelopak matanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang, dan dia juga kesulitan bernafas. Dia sudah mencapai batasnya. Dia ingin tidur, dia ingin beristirahat sejenak saja untuk bisa menenangkan hatinya.
Rasanya begitu lelah.
Fisik maupun hatinya sangat lelah. Dia butuh waktu untuk beristirahat, sejenak saja...
Sebentar saja ya Allah, Ai ingin tidur... sebentar saja. Kepala Ai pusing, badan Ai sakit, dan hati Ai...hati Ai sangat sakit ya Allah. Ai kuat kok, Ai masih bisa menanggungnya tapi hari ini Ai lelah ya Allah...Ai ingin tidur, bolehkan? Sebentar saja...Ai janji kok gak akan lama, Ai janji ya Allah. Batinnya berbisik sebelum kedua matanya mulai kehilangan cahaya dan pandangannya menjadi gelap.
Dia akhirnya pingsan, beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan semua rasa lelah yang menggerogotinya selama bertahun-tahun ini. Ai sungguh tidak mengira akan ada hari dimana ia berani berbicara. Ia berbicara untuk semua kesakitan yang ia rasakan, kesakitan karena ia telah berulang kali di dorong pergi dari sebuah pertemanan.
Dia sungguh sangat lelah.
"Maafkan kami, Ai..." Ratna adalah orang yang paling menyesal di sini.
Sebagai pemimpin tidak seharusnya ia memberikan bahu dingin kepada Ai tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Aku salah...aku seharusnya-"
"Ai pingsan!" Teriak Asri panik.
Bersambung..
__ADS_1
Lagi?