
Dia memegang tangan Ali kuat dengan wajah basah yang terus menatap mata Ali tanpa ada niat berpaling.
"Aku tidak datang lagi ke sana karena ingin fokus kuliah.. ditambah lagi saat itu aku sedang aktif mengikuti beberapa kompetisi. Aku tidak datang bukannya karena Ustad Aldo..tapi memang karena sibuk." Safira menjelaskan tanpa Ali minta.
Tangannya yang ramping terangkat menyentuh wajah Ali, mengusap cairan bening yang dengan berani menyentuh wajah suaminya.
"Syukurlah, meskipun itu sudah bertahun-tahun yang lalu tapi aku lega mendengar kebenarannya." Katanya seraya menarik tangan Safira dari wajahnya, menciumnya lembut untuk mengungkapkan perasaan senang dihatinya.
"Pernah suatu hari aku izin pulang dari pondok pesantren untuk menghadiri acara wisuda mu. Awalnya aku ingin menggunakan Mas Gio dan Kak Annisa sebagai alasan bertemu denganmu tapi semuanya tidak bisa aku lakukan ketika aku melihat ada seorang laki-laki melamar mu di depan banyak orang." Masalah ini lagi, Safira juga sudah mendengarnya dari Bunda namun tetap saja itu masih menyakiti di dalam hatinya.
"Tapi aku menolaknya, Mas." Ucap Safira menjelaskan.
"Aku tahu..aku tahu, istriku. Karena itulah aku bisa memiliki mu." Balas Ali kian merasa hangat.
"Tapi.. kenapa harus pergi? Mas Ali bisa datang menemui ku saat itu.. mungkin.."
__ADS_1
"Ceritanya akan berbeda?" Tanya Ali merasa lucu sekaligus terhibur.
Safira dengan semangat bercampur malu menganggukkan kepalanya.
"Mungkin.."
Ali tersenyum lebar,"Maka itu bukanlah skenario yang Allah inginkan untuk kita. Faktanya semua yang terjadi saat itu adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Dengan kuasa Allah, kita yang dulunya jauh langsung terikat ikatan tali pernikahan tanpa disangka-sangka. Bukankah itu menakjubkan istriku?"
"Hem, itu sangat menakjubkan." Bisik Safira pelan. Namun akan lebih menakjubkan lagi bila kita berdua bertemu hari itu.
"Lalu, aku kembali ke pondok pesantren untuk mengeraskan tekad ku. Setelah lulus aku melamar menjadi pengajar di pondok karena kebetulan nilai cukup tinggi. Karena perasaan cemburu ku belum hilang tentang Ustad Aldo karena itulah aku memutuskan menjadi seorang pengajar. Aku ingin memenuhi semua kriteria yang kamu sukai dan menjadi lebih baik dari Ustad Aldo. Aku berhasil melakukannya sampai 2 tahun kemudian Bunda kecelakaan dan terpaksa aku mengundurkan diri. Pulang untuk membantu bisnis Ayah sampai akhir aku berhasil meminang mu. Safira, dalam langkah ku mengejar mu ada banyak wanita yang datang kepadaku. Demi Allah, tidak satupun dari mereka yang ku pandang. Aku menolak mereka semua karena sekali lagi, satu-satunya wanita yang aku inginkan adalah kamu, bukan yang lain. Jadi, tolong..tolong jangan meminta ku membawa wanita lain ke dalam rumah tangga kita karena sungguh..itu rasanya sungguh tidak adil untukku." Ucap Ali lemah sarat akan kesedihan.
Safira menggelengkan kepalanya cepat, dia langsung memeluk erat Ali. Membenamkan wajahnya di dada bidang Ali sembari menghirup kuat wangi khas Ali yang sudah menjadi candu untuknya.
"Safira tidak mau..hiks.. Safira tidak mau berbagi dengan wanita lain. Safira tidak tahan memikirkan ada wanita yang bisa melihat senyuman Mas Ali, memegang tangan Mas Ali, dan berbagi kasih dengannya! Safira tidak mau, Mas! Hiks.. Safira minta maaf.. maafkan Safira!" Isaknya keras di dalam pelukan Ali.
__ADS_1
"Aku memaafkan, mu. Aku memaafkan mu, istriku. Aku tahu.. karena itulah aku memilih mu untuk diriku" Bisiknya seraya mengeratkan pelukan mereka.
"Karena itulah aku memilih mu untuk diriku." Bisik Ali mengulangi kata-kata itu terus menerus tepat di samping telinga Safira.
...وَا صْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِى ...
..."Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku."...
...(QS. Ta-Ha 20: Ayat 41)...
...END...
...Tapi Bo'ong💚...
Saya baca komentar kok banyak yang bilang mertua yang baik, emang mertua di rumah gak baik? Saya kok ngeri 😂
__ADS_1