Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.19)


__ADS_3

"Ada apa?" Ustad Vano melirik.


Mereka kompak menutup mulut, meminta maaf dengan sopan kepada Ustad Vano tapi tidak lupa sesekali mencuri pandang melihat Ai yang sekarang sudah merah wajahnya, ini lebih merah dari sebelumnya.


"Astagfirullah, apa yang baru saja aku lihat!" Ratna meremat kuat tangan Asri sampai ia meringis.


"Sstt... jangan katakan itu, aku juga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat!" Balas Asri berbisik.


Mega ikut masuk ke dalam obrolan,"Mereka ciuman."


Asri dan Ratna sontak saling menatap dengan kedua mata membesar dan wajah yang mulai memerah.


"Iya, Ustad Vano menggunakan sendok yang Ai juga gunakan. Dengan kata lain mereka ciuman secara tidak langsung." Mega menjelaskan dengan berapi-api!


Dia tidak kalah senang melihat interaksi Ai dan Ustad Vano. Dia pikir romansa pondok itu terkesan malu-malu dan membosankan seperti yang ada di dalam novel-novel, tapi siapa yang akan mengira jika melihat dan merasakannya secara langsung akan berdampak besar bagi kesehatan jantungnya?


Jelas, ini sangat berbahaya untuk masa depannya maupun masa depan Asri dan Ratna.


"Jantungku berdetak sangat kencang!" Ratna merasakan detak jantungnya berdetak cepat.


"Aku juga, dan wajahku rasanya agak panas." Kata Asri sambil mengipas-ngipasi wajahnya.


Mega memutar bola matanya. Seperti yang ia bilang tadi, mereka bertiga memang merasakan dampaknya. Ini sangat mengerikan karena jantung mereka sulit diajak kerjasama bahkan wajah mereka pun tidak luput dari dampaknya!


"Ai yang sedang diperhatikan sama Ustad Vano, tapi kenapa kita yang jadi panas dingin?" Bingung Asri sambil menyentuh pipinya yang masih panas.


Mendengar ini Mega dan Ratna kompak memutar bola mata mereka. Bukankah jawabannya sudah jelas?


Itu karena mereka malu melihat adegan seintim ini di depan mata, apalagi yang diperlakukan seintim ini adalah teman mereka. Bukankah ini menyenangkan?


Sementara itu, Ustad Vano masih menatap sendok yang menjadi korban kegugupannya tadi. Dia benar-benar melakukannya karena reaksi spontan tubuh, sungguh.


Malu, Ustad Vano melirik wajah merah Ai yang terlihat sangat gugup seperti dirinya. Ai meremat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, terlihat menggemaskan dan cantik pada saat yang bersamaan.

__ADS_1


"Rasanya lumayan," Kata Ustad Vano memecahkan suasana canggung diantara mereka berdua.


Ai kian yakin jika yang memasak bubur ini adalah Ustad Vano sendiri.


"Ini benar-benar enak, Ustad." Ai masih memuji karena faktanya makanan yang Ustad Vano bawa memang enak.


"Syukurlah bila kamu menyukainya." Katanya dengan senyum di wajah.


Saat ini Ustad Vano berkali-kali lipat lebih lembut dari biasanya. Tidak ada tatapan dingin ataupun nada dingin yang biasanya Ai dengar. Sikap Ustad Vano sangat lembut dan perhatian yang diberikan pun, ini... membuat Ai lagi-lagi melambungkan harapan kepadanya. Membuat jantungnya berdegup kencang dan wajahnya menjadi panas, Ai yakin wajahnya sekarang sangat merah.


"Aku akan suapin lagi." Kata Ustad Vano membuat Asri, Mega dan Ratna semakin antusias di belakang.


Mereka memperhatikan dengan seksama, sendok yang kini telah diisi setengah bubur kembali Ustad Vano masukkan dengan hati-hati ke dalam mulut Ai.


Membuat suasana terasa aneh, ekhem...pada saat yang sama terasa manis.


Kali ini Ustad Vano tidak membuat tindakan yang mengejutkan lagi. Dia dengan patuh menyuapi Ai, membujuknya agar segera menghabiskan bubur hangat itu dan memberikannya segelas susu hangat.


"Sekarang bolehkah aku bertanya alasan kenapa kamu pingsan hari ini?" Ustad Vano hanya bertanya santai tapi tidak mengira jika semua orang yang ada di sini termasuk Ai langsung membeku.


Ai tertegun, dia segera menutup rapat mulutnya saat mengingat rumor buruk tentang dirinya di pondok pesantren.


Ia bertanya-tanya, apakah Ustad Vano belum mengetahui rumor ini?


Lalu, jika ia tahu reaksi apa yang akan Ai dapatkan?


Apa Ustad Vano akan seperti yang lainnya, mencoba mendorong Ai pergi dari dalam lingkaran?


Ai sungguh tidak ingin. Namun, sampai kapan ia akan terus bersembunyi seperti ini?


Sampai kapan? Sampai Ustad Vano mendengarnya dari orang lain?


Ai juga tidak ingin. Tapi,

__ADS_1


Ai takut. Ai sungguh takut mengatakannya kepada Ustad Vano.


Melihat kebisuan Ai, orang pertama yang mengambil inisiatif untuk berbicara adalah Asri.


"Ustad, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan-"


"Aku hanya kelelahan, Ustad." Potong Ai terdengar lemah.


Ustad Vano merasa Ai mencoba menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa yang ingin kalian bicarakan kepadaku?" Bukannya merespon Ai, ia malah merespon kata-kata Asri yang belum tersampaikan sepenuhnya.


Asri merasa tidak nyaman jadinya. Dia tahu bila Ai tidak ingin membicarakan rumor ini dengan Ustad Vano tapi jika tidak dibicarakan maka siapa yang akan membantu Ai membersihkan namanya di sini?


Mereka hanya punya Ustad Vano sekarang, tapi bagaimana dengan besok?


Asri takut masalah ini akan bertambah buruk bila di diamkan. Akan tetapi ia juga tidak mungkin mengatakannya tanpa izin dari Ai.


"Kami ingin berterimakasih kepada Ustad Vano karena sudah membantu kami membawa Ai ke sini." Ujar Mega tiba-tiba.


"Oh..." Ustad Vano jelas tidak bisa dibohongi.


Namun ia tidak bisa memaksa mereka untuk membicarakannya sekarang karena masih ada Ai di sini. Dia perlu menemukan waktu yang tepat, atau masalah ini mungkin ada hubungannya dengan...


Apa ini karena rumor yang ingin Kevin katakan tadi?. Batin Ustad Vano mulai curiga.


Apa pun itu ia akan mencari tahunya sekarang. Kemudian ia berpura-pura melihat waktu di jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. Ini adalah kode jika ia akan segera pergi, ah lebih tepatnya ia akan pergi mencari Kevin untuk bertanya mengenai rumor yang belum sempat Kevin katakan tadi siang.


"Baiklah, aku akan pergi dulu. Bila kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk mencariku dan luangkan waktumu untuk beristirahat lebih banyak lagi." Katanya buru-buru ingin pergi.


Bersambung..


Maaf, saya rencananya up banyak hari ini tapi tiba-tiba kucing saya hilang. Saya gak konsen nulis dan mood jadi hancur, ini aja saya paksain biar bisa update.

__ADS_1


__ADS_2