
"Suka dan tidak suka berbeda dengan harapan sebuah keluarga. Bagi keluarga Kak Kevin, dia adalah masa depan yang tidak boleh mengecewakan dan harus memiliki pasangan yang tidak mengecewakan pula, sejajar dengan posisi keluarga mereka. Tapi siapa lah aku? Aku ini hanyalah orang desa yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Bisa masuk ke dalam pondok pesantren ini saja aku sudah sangat bersyukur dan membuat bangga kedua orang tuaku, selain ini aku tidak punya apapun. Aku sepenuhnya sadar dengan posisiku karena itulah aku berusaha mengontrol perasaan ini. Malam ini di hadapan Allah, aku menceritakannya kepada kalian agar diantara kita bertiga tidak ada yang harus dirahasiakan. Bukankah kita adalah sahabat?" Dia berusaha tersenyum, kedua matanya yang memerah karena lara tampak samar di bawah cahaya bulan.
"Kita adalah sahabat." Ujar Ai kini mulai beralih menatap hamparan langit.
"Namun Asri, aku pikir situasi kita tidak jauh berbeda." Ai ikut merasa sedih, mengingat situasi anehnya yang sudah 12 tahun menunggu Ustad Vano menepati janjinya, janji kekanak-kanakan yang tidak bernilai apa-apa.
"Aku dan Ustad Vano dulunya adalah teman kecil. Dia dulu sering datang ke rumah ku dan mengikuti ku kemana-mana. Aku sangat suka bermain dengannya karena pada saat itu hanya Ustad Vano satu-satunya orang yang mau menerima kekurangan ku-ah, tidak. Aku pikir dia tidak tahu kekuranganku pada saat itu." Bisiknya sendu.
Mengenai kekurangan apa yang Ai bicarakan Mega sangat tahu tentang apa itu. Jujur, dia menyesali perbuatan jahatnya dulu. Menyebarkan rumor buruk tentang Ai sehingga banyak anak-anak yang takut bermain dengannya.
Dia sungguh mengecewakan Ai tahun itu.
"Sampai suatu hari dia harus pindah ke luar kota karena harus bersekolah. Kami jarang bertemu dan aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Lalu, Bundaku melahirkan ketiga adik-adikku. Dia hari itu datang bersama kedua orang tuanya dan aku sempat berbicara dengannya. Dia meminta maaf karena tidak bisa bermain lagi denganku karena sekolah namun dia berjanji akan sering datang menemui ku jika ada waktu luang. Tapi tahukah kalian setelah hari itu dia tidak pernah lagi datang mencariku dan bodohnya lagi...aku masih memegang janji itu sampai dengan hari ini. Janji kekanak-kanakan yang dibuat tanpa perlu berpikir panjang. Hah...yang lebih ironisnya lagi aku tidak bisa melupakan tentang Ustad Vano, kemudian aku menyadari jika perasaan ku ini bukan sekedar perasaan antar teman atau hubungan adik dan Kakak. Tidak, perasaan ku ini sudah lebih dari itu sampai akhirnya aku tahu pasti bahwa aku ternyata sudah lama menyukai Ustad Vano. Aku menyukainya selama bertahun-tahun meskipun tidak pernah lagi bertemu dengannya. Yah..aku tidak pernah menyangka akan ada hari dimana kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah akan tetapi dalam situasi yang berbeda. Aku ragu dia mengenaliku dan aku tahu peluang ku untuk bisa bersamanya sungguh sangat tipis-"
"Ai, jangan menangis." Mega menyentuh pundak Ai, mengusap cairan hangat yang keluar dari sudut mata buah persik itu.
"Mega, bukankah kamu tahu? Aku... tidak seperti kalian karena aku.." Cacat!
__ADS_1
Cacat,
Dia cacat dan dia tahu laki-laki normal lebih suka bersama wanita normal. Ai tidak ada di dalam kualifikasi itu dan dia tahu pada akhirnya dia tidak akan bisa bersama Ustad Vano.
Sekalipun dia tersenyum malu atau merona mendapatkan perhatian Ustad Vano yang terkesan ambigu, akan tetapi dia tidak pernah melupakan mengenai siapa dirinya yang sebenarnya.
Dia tidak layak dan tidak akan pernah layak, kualitasnya jauh lebih rendah daripada Almaira, gadis cantik dan sempurna dengan segala potensinya yang diakui oleh banyak orang.
"Ai, aku mohon berhentilah, okay? Allah akan marah mendengar mu merendahkan diri sendiri." Mega memeluk Ai kuat, tangannya yang bebas menepuk punggung Ai agar dia segera tenang.
Ai tersenyum kecil, dia bukannya tidak mau memberitahu Asri mengenai kondisinya tapi untuk sekarang dia masih belum siap. Dia sungguh butuh waktu untuk mengatakan semuanya kepada Asri.
"Aku menikmati semuanya meskipun aku tahu pada akhirnya.." Aku tidak punya jalan.
"Pada akhirnya?" Mega dan Asri kompak bersama.
Ai melepaskan pelukan Mega. Dia mengambil nafas panjang, menatap langit dengan perasaan lega karena bisa menumpahkan kegelisahan hatinya kepada mereka berdua meskipun tidak semuanya.
__ADS_1
Tapi setidaknya dia bisa lebih tenang.
"Bukan apa-" Ai merasa aneh lagi.
Perasaan ditatap oleh seseorang kembali menghantuinya. Dia kebingungan, kedua matanya mencari secara acak keberadaan 'seseorang' itu.
Rasanya sekali lagi sangat nyata, Ai kali ini berpikir bahwa benar-benar ada seseorang yang mengikuti dan menatapnya tapi siapa?
Dan dimana orang itu berada?
"Ai, ada apa?" Asri melihat kebingungan Ai.
Ai menarik pandangannya kembali seraya menggelengkan kepalanya,"Bukan apa-apa."
Bersambung..
Siapa di sana jawabannya besok ya.
__ADS_1