
Ah..jadi begitu. Dia menggunakan aku sebagai batu loncatan agar bisa berduaan dengan Kak Sasa. Hahaha..
Bukankah kamu sudah terlalu jauh?
Tidakkah kamu memikirkan bagaimana sakit perasaan ku saat ini?
Tidakkah kamu mengasihaninya?
Kamu memang tidak mencintaiku tapi setidaknya kamu memikirkan perasaanku sedikit saja. Jangan pamerkan perasaan kalian berdua di depan ku karena rasanya..
"Iya Ustad?"
Ini sangat menyakitkan.
"Dia mengalami kesemutan dan tidak bisa berjalan-"
"Maaf mengecewakan," Potong ku sudah tidak kuat lagi.
"Tapi aku baik-baik saja. Kesemutan nya sudah hilang dan aku kini bisa berdiri lagi." Setelah mengatakan ini aku lalu berdiri.
Untungnya kakiku sudah baik-baik saja.
"Aku akan kembali dulu menemui kedua temanku, assalamualaikum." Aku mengucapkan pamit kepada mereka. Mengangkat keranjang sayur ku dengan susah payah dan membawanya dengan langkah lambat.
Ini sangat berat!
Padahal aku ingin sekali berjalan cepat melarikan diri dari mereka berdua tapi lagi-lagi situasi ku tidak mendukung.
"Berikan keranjangnya kepadaku." Laki-laki asing itu menghentikan langkah ku.
__ADS_1
"Aku masih bisa membawanya." Jawabku berusaha terlihat kuat.
"Ini berat, berikan saja kepadaku." Laki-laki itu bersikukuh.
Ini memang berat. Tapi..hem, kenapa tidak!
Jika Ustad Azam saja sudah mendapatkan gadis lain maka mengapa aku tidak bisa? Aku akan menunjukkan kepada Ustad Azam bahwa aku sudah melupakannya dan aku juga sudah menemukan laki-laki yang jauh lebih baik darinya!
Hemph!
"Baiklah, sekali lagi aku ucapkan terimakasih karena lagi-lagi membantuku." Aku menaruh keranjang di atas tanah dan mundur ke belakang untuk menjaga jarak.
Laki-laki itu lalu mengambil keranjang sayur ku dan membawanya pergi. Dia berjalan lurus di depan sedangkan aku menjaga jarak darinya di belakang.
"Mega, berhenti." Itu suara dingin Ustad Azam, anehnya kenapa aku mendengar ada nada marah di dalamnya.
Tidak, ini hanya perasaan ku saja. Jika benar-benar marah maka mungkin itu karena rencananya gagal menggunakan ku sebagai batu loncatan agar dia bisa berduaan dengan Kak Sasa.
Aku tidak akan pernah berhenti! Aku tidak akan pernah berhenti!
Aku tetap melangkah ke depan dan berpura-pura tidak mendengar panggilannya. Aku ingin pergi dan segera menyembunyikan diri darinya!
...๐๐๐...
Aku akhirnya berhasil melarikan diri dari mereka dan langsung terduduk di tanah begitu sampai di tempat Asri.
"Dimana, Ai?" Tanyaku kepada Asri.
"Ai ada di bagian timun." Jawabnya terdengar aneh.
__ADS_1
Apa ini hanya pendengaran ku saja yang bermasalah.
"Oh.." Aku mengangkat kepalaku untuk melihat keberadaan Ai. Di bagian timun memang ada Ai dan..Ustad Vano?
Aneh, kenapa aku selalu merasa kemanapun Ai pergi Ustad Vano pasti selalu mengikuti.
Tapi, Ustad Vano..
Vano..
Bukankah nama ini sama dengan teman kecil Ai di sekolah taman kanak-kanak dulu?
Aku memang tidak pernah melihatnya tapi Ai selalu menggambar anak laki-laki itu dulu. Ya Allah, apalagi yang aku pikirkan! Jelas-jelas Ai dan Ustad Vano punya perbedaan usia yang tinggi jadi bagaimana mungkin Ustad Vano adalah Vano teman Ai dulu!
"Um..apa di sini terlalu panas, Asri?" Mega merasa panasnya tidak terlalu terik.
"Tidak, ini panas tapi tidak terlalu panas." Dia benar.
"Tapi kenapa wajahmu sangat merah?" Dan anehnya lagi dia menjadi orang yang sangat sedikit berbicara saat ini. Padahal di antara kami bertiga dialah orang yang paling cerewet dan banyak bicara!
Juga, di sini ada beberapa santri laki-laki maka seharusnya Asri lebih bersemangat seperti tadi pagi!
"Aku.. benarkah?" Dia meraba wajahnya dengan panik.
Ini benar-benar aneh, sebenarnya apa yang terjadi saat kami berpisah tadi?
Bersambung..
Mau lanjut sore apa gimana nih? Wkwkwk..tapi tergantung kuota yah, kalau ada ya inshaa Allah saya up tapi kalau enggak ada kita hanya bisa bertemu besok๐
__ADS_1
Ini bagi 3 POV yah. Pertama Mega, setelah itu Ai atau Asri.
Oh ya, Pengantin Pengganti akan up di NovelToon kok karena setelah dipikir-pikir kayaknya agak belibet pindah lapak wkwkwkw.. kalian udah tahu keluh kesah author di sini kan๐คญ๐คญ๐คญ