
Ai mengetuk pintu ruang staf asrama putri dengan sopan dan ringan agar tidak mengganggu para staf yang sedang bekerja di dalam.
"Assalamualaikum, Ustazah Nur?" Kebetulan ada satu Ustazah yang Ai kenal. Namanya Ustazah Nur, dia adalah wanita berkacamata yang kini sedang sibuk melihat komputer dengan serius.
Beberapa staf mengangkat kepala mereka melihat ke arah pintu masuk, mereka menyempatkan diri tersenyum sebelum kembali ke pekerjaan masing-masing.
"Waalaikumussalam. Apa kalian mencariku?" Ustazah Nur segera berdiri mendekati mereka bertiga.
"Benar, Ustazah. Kami ingin meminta bantuan kepada Ustazah." Kata Ai malu.
Wajah lembut dan pipi merah Ai masih Ustazah Nur ingat dengan baik. Jadi dia langsung menyapa Ai ketika ingatan tentang Ai berhasil di konfirmasi.
"Baiklah, tapi sebelum itu kalian lebih baik masuk dulu agar tidak menghalangi orang lain yang ingin masuk ke dalam." Ustazah Nur mengarahkan mereka untuk duduk di kursi depan mejanya.
Dia memperbaiki letak kacamatanya sebelum bertanya,"Kalian butuh bantuan apa? Jika ini masih di dalam ruang lingkup pondok pesantren maka kami akan membantu."
Ai melihat Asri dan Mega. Dari matanya jelas dia ingin mereka berbicara. Tapi Asri dan Mega menutup mulut mereka serapat mungkin. Mereka bertindak seolah hanya Ai lah yang membutuhkan bantuan sedangkan mereka tidak.
Karena Asri dan Mega bersikap seperti itu, Ustazah Nur pikir jika yang membutuhkan bantuan hanyalah Ai sehingga dia mengarahkan mata empatnya untuk memperhatikan Ai.
__ADS_1
Ai menjadi canggung,"Em, begini Ustazah. Aku..apa aku bisa meminjam telpon pondok untuk menghubungi kedua orang tuaku? Ini..ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan mereka."
Tiada obat yang paling manjur untuk hati kecuali mendekatkan diri kepada Allah dan berbicara dengan kedua orang tua. Seberat apapun masalah akan terasa lebih ringan bila melibatkan Allah dan meminta doa kepada kedua orang tua.
Ustazah Nur sekali lagi memperbaiki letak kacamatanya. Dia menggelengkan kepalanya sambil menunjuk pengumuman besar yang ditempel di pintu masuk ruang staf.
"Kamu tidak bisa melakukannya hari ini karena jadwal kalian sudah diatur oleh pondok pesantren. Kalian bisa menghubungi orang tua kalian selama 7 menit setiap hari minggu secara bergiliran. Jika kamu tidak ingin mengantri maka kamu bisa datang pagi-pagi untuk mengambil barisan depan atau jika tidak kamu harus bersabar untuk mengantri mendapatkan giliran. Semuanya sudah tertulis dengan jelas di pengumuman itu."
Ai dan yang lain mengikuti arah jari telunjuk Ustazah Nur dan melihat jika di sana memang ada lembaran besar yang berisi pengumuman.
"Em..maaf Ustazah, kami tadi tidak memperhatikannya." Ai meminta maaf dengan sopan.
"Tapi..apa kami bisa mendapatkan keringanan dari pondok pesantren? Karena ada sesuatu hal yang ingin kami bicarakan." Katanya dengan canggung dan malu.
Ustazah Nur tersenyum ramah,"Maaf, Ai..shi? Ya, peraturan harus dijalankan sesuai dengan aturannya sendiri. Apalagi kalian adalah santri baru jadi ada baiknya untuk beradaptasi selama 1 minggu ke depan sampai kalian diizinkan menghubungi kedua orang tua kalian. Tinggal jauh dari keluarga memang tidak menyenangkan tapi percayalah berjauhan dengan mereka membuat kalian akan lebih menyadari bahwa mereka sangatlah penting dan berharga. Nah, untuk saat ini kalian harus menahannya sampai 1 minggu ke depan. Kembalilah ke sini di hari minggu."
Ai dan yang lainnya kecewa. Tapi mereka tahu bahwa peraturan adalah peraturan. Mereka tidak bisa memintanya meskipun mereka melakukan upaya drama sekalipun.
"Terimakasih Ustazah untuk informasinya. Insha Allah di hari minggu yang akan datang kami akan kembali ke sini lagi."
__ADS_1
Ustazah Nur tersenyum lagi,"Sama-sama. Aku akan menunggu kedatangan kalian."
Ai, Asri, dan Mega lalu berdiri dari kursi mereka. Mengucapkan salam sebelum keluar dari ruang staf asrama putri.
"Padahal aku ingin sekali berbicara dengan Ibu dan Bapak." Kata Asri sambil mendesah tidak puas.
Mereka melihat tempat duduk yang biasa digunakan santri untuk berkumpul dan berdiskusi masalah pelajaran dihari biasanya. Ini adalah tempat khusus untuk santriwati dan Satri laki-laki tidak diizinkan masuk atau lewat jika tidak ada kepentingan khusus.
"Yah, mau bagaimana lagi. Ini adalah aturan yang sudah ditetapkan pondok pesantren dan kita sebagai santri baru tidak punya wewenang untuk meminta keringanan." Ucap Mega tidak berdaya.
Ai juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia memilih untuk menutup mulutnya dan menikmati kedamaian ditengah-tengah lara hatinya.
"Kita hanya perlu menerimanya dengan lapang dada karena semua ini sudah ada yang mengatur." Bisiknya sambil memejamkan mata, meresapi angin kencang yang berhembus menerpa wajahnya-
"Uhuk..uhuk..kita lebih baik pulang ke asrama saja karena di sini panas dan berdebu!" Asri tidak sengaja menghirup debu yang beterbangan. Membuatnya tersedak dan berakhir terbatuk-batuk.
Sedangkan Mega sudah menyelamatkan wajahnya dengan menggunakan kain jilbab, dia sama sekali tidak perduli dengan keluhan Asri karena dia suka di sini meskipun banyak debu. Hanya Ai yang tidak terpengaruh oleh semua kekacauan yang disebabkan oleh kencang tadi.
Dia hanya memejamkan matanya menikmati setiap belaian angin di wajahnya.
__ADS_1
"Astagfirullah.." Asri sekali lagi membuat keributan tapi Mega dan Ai masih tidak perduli.