Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Shin Dilema


__ADS_3

Norin tidak dapat memejamkan matanya, ia terus saja berguling ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Besok malam akan ada momen yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.


"apakah gelar perawan tua benar benar akan segera berakhir?" Norin bermonolog.


Mestinya Norin senang dan bahagia karena status "perawan tua" sebentar lagi akan berakhir. Tidak akan ada lagi orang yang mengolok serta menghinanya karena Norin akan memiliki seorang suami dan menjadi seorang istri. Namun, entah mengapa ia merasa biasa saja, seperti bukan suatu hal yang istimewa di hatinya.


Norin bangkit lalu berjalan keluar rumah. Ia duduk di teras lalu menatap pada kelap kelip bintang yang bertebaran di atas langit.


"tuan Shin!" gumam Norin lirih.


Bohong jika Norin tidak merindukan sosok pria bermata sipit itu. Norin tidak bisa menampik perasaannya bahwa ia tengah merindukannya.Tapi, Norin benci pada kenyataannya, kenyataan bahwa pria itu hanya mempermainkannya.


Norin menutup kelopak matanya." tolong ya Allah, tolong hapus dia dari pikiranku ini ! tolong gantikan oleh sosok mas Rio, laki laki akan menjadi suamiku."


Malam menjelang pagi. Norin masih betah meringkuk di kasur kecilnya sampai panggilan dan ketukan pintu terdengar samar samar di telinganya.


Dengan berat, ia mengejap perlahan lalu bangkit dan menyeret kedua kakinya untuk membukakan pintu.


Nampak pria tinggi dan manis tengah berdiri di hadapannya sembari tersenyum lebar ke arahnya. Norin mengucek matanya agar kesadarannya pulih seratus persen.


"suprise!" ucap pria tersebut.


Norin melebarkan mata bulatnya.


" Rizal !"


" iya mba, ini Rizal." Lalu Rizal mengulurkan tangannya menyalami tangan kakaknya.


"kamu kapan datangnya zal, kok kakak ngga tau ya!"


"jam tujuh tadi, semalam ibu nyuruh Rizal pulang dulu hari ini katanya mba ku yang cantik ini mau di lamar orang."


Norin tersenyum tipis.


"orang mana mba calonnya?"


Norin mengedik kan bahunya sebagai isyarat dia tidak tahu Rio orang mana.


"ibu yang tau zal, dia kepala sekolah dimana ibu ngajar."


"apa dijodohin sama ibu?"


"ngga, lakinya aja yang bilang pengen lamar mba secepatnya."


"tapi mba suka ngga sama dia?"


"ngga tau zal, jalanin dulu ajalah. eh mba mau mandi dulu ya terus ntar anterin mba ke pasar!"


"siap mba!"


Norin bergegas pergi mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tiga puluh menit kemudian, Norin sudah rapi dan cantik. Kemudian ia menghampiri adiknya yang tengah memainkan laptop di ruang tamu.


"kuliah kamu gimana zal, ngga ada masalah kan ?"


"ngga ada mba, Rizal masih nyusun skripsi mudah mudahan taun depan lulus biar cepat bisa nyari kerjaan."


"jangan grusak grusuk zal, nikmati aja prosesnya."


"Rizal pengen cepat lulus dan kerja mba, biar mba ngga perlu biayain Rizal lagi trus Rizal bisa bantu ibu. Udah cukup mba ngurusin pendidikan Rizal dari SMP sampe kuliah. Saatnya mba mikirin hidup mba sendiri, apalagi bentar lagi mba punya suami harus fokus pada keluarga baru mba."

__ADS_1


Ucapan Rizal membuat Norin terdiam." kalau aku udah nikah nanti apa aku masih bisa memberikan uang untuk ibu serta saudaraku? apalagi nanti aku harus berhenti berkerja." Norin bermonolog.


"mba...mba!" panggilan Rizal menyadarkan Norin dari lamunannya.


"kenapa zal?"


"kok mba melamun? mikirin apa mba?"


Norin menggelengkan kepalanya."ngga ada Zal. yaudah yuk anter mba ke pasar dulu."


Mereka bergegas pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Dan tiba di pasar yang cukup ramai Norin mulai memilih apa saja yang hendak di beli. Sementara Rizal mengekor di belakang seperti bodyguard saja.


Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah kamar berukuran besar. Seorang pria yang masih berpenampilan acak acakan menatap nanar pada sebuah tas hitam dan beberapa paper bag yang teronggok di atas meja.


"aku rindu sekali padamu Rin!"


Kemudian ia berjalan mendekati meja tersebut lalu mengambil tas berwarna hitam. Tas sederhana tanpa merek itu ia peluk dengan erat.


"aku benar benar rindu kamu Rin! apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bertemu denganmu? aku pun tak tau dimana alamat rumah keluargamu."


plaakk


Sesuatu terjatuh ke atas lantai yang berasal dari dalam tas yang terbuka. Norin tidak sempat menutupnya kembali setelah ia mengambil kunci dan ATM dengan buru buru.


"apa itu?"


Shin berjongkok, ia mengambil sebuah benda tipis lalu menatapnya. Ia merasa heran, alamat kartu itu menunjukan alamat yang berbeda dengan tempat tinggal Norin di kota.


Norin masih menggunakan kartu keluarga dan KTP kampung. meskipun sudah memiliki tempat tinggal sendiri di kota tapi ia belum menikah oleh karena itu ia masih ikut kartu keluarga ibunya.


"Apakah ini kartu identitas Norin? dan apakah Norin sekarang berada di alamat yang tertera ini?"


Senyum mengembang di bibir tipis pria bermata sipit itu. Lalu, dengan semangat ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Shin menguyah roti nya dalam diam." aku akan menyusul mu nanti, dan setelah itu aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi," ucap Shin lalu tersenyum menyeringai.


Shin memasuki kantornya dengan pandangan lurus ke depan dan berekspresi datar.


"Selamat pagi tuan Shin?" sapa tari. Sementara seorang wanita yang tengah bermasalah dengannya tengah bersembunyi di bawah meja resepsionis. Ia tidak mau bertemu dengan pria yang sekarang di ketahui sebagai pemilik perusahaan tersebut. Siska tidak mau di keluarkan dari perusahaan itu karena bisa membuat dirinya sulit bertemu dengan Doni. Oleh karena itu Siska menghindari setiap ada Shin.


" udah jauh tuh, bangun lu!" ucap tari.


Kemudian Siska berdiri lalu mengeluarkan nafas besar.


"sampe kapan lu mau main petak umpet siska?"


"sampe dia lupa sama masalah ini," jawab Siska.


" dia ngga bakal lupa sama lu kalau si Norin belum kembali lagi ke pabrik ini."


Siska terdiam, lama lama ia kesal juga harus main petak umpet, ruangnya terbatas untuk bergerak. padahal Siska udah di keluarkan dari kantor tersebut tapi dia masih kekeh tidak mau keluar.


" cuma ada satu cara supaya lu ngga di keluarkan dari kantor ini?"


"apa ?" tanya Siska dengan wajah serius.


"lu minta maaf tuh sama si Norin dan baik baikin dia biar dia juga nanti ngga tega liat lu di keluarin."


"what? lu nyuruh gue merendahkan harga diri gue di depan si perawan tua itu? enak aja, sampe kapan pun gue ngga bakal sudi."


" ya terserah lu, mau apa ngga, toh lu yang ngerasain. Udah ah sana pergi gue mau kerja. gue ngga mau ikutan sial nya kayak lu ya." Tari mengusir Siska dari meja kerjanya. Ia sudah merasa kesal dengan tingkah wanita itu yang selalu membuat hidupnya ribet.

__ADS_1


Shin memasuki ruang kerjanya, ruangan yang terlihat acak acakan karena tidak pernah di bersihkan semenjak Norin pergi.


Shin berkacak pinggang melihat ruangannya berantakan.


"sudah saatnya aku menyuruh cleaning servis untuk membersihkan ruangan ini, jangan lagi menyuruh Norin karena dia bukan pembantuku melainkan wanitaku."


Shin menatap foto Norin di ponselnya lalu mengusap usap wajahnya.


"you are very beautiful, i really love you, aku rasa aku sudah gila, gila karena cintaku tak pernah kau balas." Shin berbicara sendiri seolah olah berbicara di hadapan orangnya.


tok tok tok


Pintu di ketuk dari luar, Shin menoleh lalu muncul lah paman Lee. Ekor mata Lee mengitari sekitaran ruangan Shin yang terlihat kotor.


" apa kau betah kerja di ruangan kotor seperti ini Hoon?"


"kebetulan sekali paman ada di sini, aku mau minta tolong carikan cleaning servis khusus untuk membersihkan ruangan ku."


"apa kau tidak menyuruh Norin untuk membersihkan ruangan mu lagi? bukankah dari dulu aku sudah menawarkannya padamu tapi kau menolak."


"karena aku baru sadar jika Norin bukan pembantuku melainkan wanitaku."


Ha Ha Ha Ha....


Shin kesal ditertawakan oleh paman Lee.


"mau apa paman kesini? jika tidak ada hal yang penting lebih baik paman ke luar saja."


Lee berhenti tertawa lalu menatap serius pada ke ponakannya itu.


"kau mengusirku?"


"ya, bisa di bilang seperti itu."


"kau tau aku kesini mau memberitahumu hal yang penting?"


"apa?"


"apa kau sudah mendengar pabrik yang berada di Vietnam terbakar tadi malam?"


"What?" Shin berdiri, ia terkejut atas informasi yang di dapat dari paman Lee.


"kenapa bisa terbakar?" tanya Shin dengan wajah serius.


"aku belum tau pasti bagaimana kejadiannya. yang pasti Daddy mu menyuruhku untuk meminta mu yang menangani masalah itu. karena Daddy mu sulit untuk menghubungimu. kenapa ponselmu selalu tidak aktif?


" bukan pertanyaan yang penting. lantas kenapa harus aku yang menangani masalah itu paman?"


"karena anak Daddy mu cuma satu yaitu kamu. makannya cepat lah menikah lalu kau buat anak sebanyak banyaknya agar kau tak pusing nanti."


Shin mencebik kan bibirnya, ia kesal atas lelucon pamannya itu.


"aku tidak bisa ke Vietnam, aku mau menyusul wanitaku."


"apa kau mau menerima akibatnya Hoon jika keinginan ayahmu di tolak? kau harus siap siap saja untuk hengkang dari negara ini lalu meninggalkan wanita mu dan menikah paksa dengan jodoh pilihan daddy mu?"


Shin menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengacak acak rambutnya yang sudah rapih. Shin benar benar dilema.


Di tempat lain, di rumah sederhana. Norin dan ibunya sibuk memasak untuk acara lamaran nanti malam.


"ibu seneng sekali akhirnya anak ibu ada yang melamar?" ucap Bu Aminah di sela sela memasak dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Norin hanya tersenyum saja menanggapinya.


__ADS_2