Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.3)


__ADS_3

Apakah kamu mempunyai bukti bahwa putriku, Aishi Humaira adalah seorang laki-laki dan telah melakukan operasi transgender?" Suara dingin Safira kembali mengingatkan mereka pada awal dari semua masalah ini.


Benar, pertengkaran ini terjadi karena sebuah rumor buruk yang sengaja disebarkan oleh seorang santri perempuan di pondok pesantren.


Sari menjadi lebih pendiam daripada sebelumnya ketika berhadapan langsung dengan kedua orang tua Ai. Pasalnya, dia tidak mengira kedua orang tua Ai akan datang langsung ke sini untuk ikut campur, hal yang lebih mengejutkan lagi dia tidak menyangka jika Ai dan orang tuanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Bila Ai adalah gadis yang lemah lembut dan tampak seperti orang yang mudah ditindas, maka Safira dan Ali seolah memiliki aura dominan yang cukup menggetarkan mentalnya sekarang. Mungkin untuk Ali ini wajar saja mengingat dia adalah seorang laki-laki dan Ayah, tapi tidak biasa untuk seorang perempuan memiliki aura dominasi.


"Nak, sebelumnya aku dan suamiku telah mendengar kamu berteriak-teriak bila Ai adalah seorang laki-laki dan pernah melakukan operasi transgender, lalu kamu juga mengakui jika semua rumor buruk itu disebarkan oleh mu. Sekarang aku bertanya, untuk semua keyakinan bahwa Ai adalah seorang laki-laki bahkan pernah melakukan operasi transgender, untuk semua keberanian mu menyebarkan rumor buruk ini di pondok pesantren, dimana bukti atas semua ucapan yang keluar dari lisanmu?" Safira mengulangi kembali pertanyaan dengan sabar, tatapan matanya memang dingin namun nada suaranya masih terdengar ramah, setidaknya untuk Safira sendiri tapi berbeda dengan orang yang mendengar.


"Buktinya..." Sari dengan gugup membalas tatapan Safira.


"Ai tidak seperti kami, para perempuan. Dia... tidak mempunyai buah dada dan dadanya pun datar seperti seorang laki-laki." Sambungnya menjawab.


Safira mengernyit terganggu.


"Oh, hanya karena ia tidak memiliki apa yang 'perempuan' pada umumnya miliki?" Safira bertanya-tanya tapi tidak membutuhkan sebuah jawaban.


"Lalu, bagaimana dengan seorang perempuan yang tidak bisa mengandung dan melahirkan? Bukankah mengandung dan melahirkan adalah tugas yang pasti seorang perempuan lewati setelah menikah? Menurut mu apa 'perempuan' itu masih bisa dikatakan perempuan?" Kali ini Safira benar-benar membutuhkan sebuah jawaban.

__ADS_1


Sari meremat kedua tangannya kian gugup.


"Itu tidak mungkin...dia adalah perempuan sekalipun tidak bisa mengandung dan melahirkan." Jawab Sari setelah berpikir singkat.


Safira tersenyum,"Kenapa? Bukankah dia tidak bisa mengandung dan melahirkan? Dia tidak sama seperti 'perempuan' diluar sana yang bisa mengandung dan melahirkan."


Sari bingung.


Bahkan sekalipun seorang perempuan tidak bisa mengandung dan melahirkan, perempuan itu masihlah perempuan. Dia tidak bisa menjadi laki-laki.


"Sekalipun... sekalipun ia tidak bisa mengandung dan melahirkan, ia masihlah seorang perempuan." Kata Sari tidak punya jawaban lain.


Sari jelas lebih tidak mengerti lagi. Kasus antara Ai dan perempuan itu berbeda karena mereka berasal dari dua kelamin yang berbeda. Ai adalah seorang laki-laki dan bukan seorang perempuan.


"Ai adalah laki-laki dan dia pernah melakukan operasi transgender." Kata Sari keras kepala menahan rasa takut.


Safira dan Ali saling menatap, mereka tahu bila tidak ada gunanya menggunakan kelembutan untuk berbicara dengan Sari.

__ADS_1


"Aku membutuhkan sebuah bukti, bukan praduga. Tidakkah kamu mengerti ini sebelumnya?" Safira tiba-tiba menjadi lebih serius dari pemerintah, bahkan dia tidak menutup-nutupi nada dinginnya ketika berbicara dengan Sari.


"Dia tidak memiliki-"


"Bukti, aku hanya butuh bukti dan bukan hanya dugaan saja. Jika kamu hanya berpatokan pada dugaan saja, maka aku juga bisa membuat dugaan kepadamu." Safira memotong dingin, dia sudah bosan mendengarkan alasan yang sama dan terus diulang-ulang.


"Jika kamu masih berbelit-belit saja maka aku dan suamiku tidak punya cara selain membawa masalah ini ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik." Ancam Safira serius.


Sari terkejut, dia sangat ketakutan.


"Tidak Tante, tolong jangan lakukan itu. Bukankah ini hanya masalah sepele saja?" Sari masih tidak mengerti situasinya.


Membuat orang-orang yang sedari tadi menyimak kompak mendesah tidak berdaya. Tangan-tangan mereka sungguh gatal ingin mencubit Sari agar segera menyadari situasi serius saat ini.


"Sepele?" Safira tersenyum dingin.


"Apa menurutmu mencemari nama baik seseorang, menjatuhkan martabatnya dihadapan banyak orang, dan menyakiti kesehatan batinnya adalah sebuah masalah sepele? Tidakkah kamu pernah berpikir sebelumnya jika masalah 'sepele' ini dapat memberikan banyak resiko untuk masa depan putriku?" Tanya Safira tajam.

__ADS_1


"Ini..." Sari hanya berharap Ai segera pergi dari pondok pesantren ini dan dia tidak memikirkan dampak-dampak negatif yang Safira sebutkan tadi.


"Kamu tidak bisa menjawab maka biarkan hukum yang berbicara. Berbicara denganmu di sini terlalu berbelit-belit, enggan menjawab tapi masih keras kepala di posisi yang paling benar, tidakkah kamu malu dengan dirimu sendiri?" Safira ingin menyudahi pembicaraan karena tidak ada gunanya berbicara, toh Sari juga sedari tadi enggan memberikan jawaban.


__ADS_2