
Di hukum didalam dapur nyatanya tidak seburuk yang mereka pikirkan. Meskipun banyak menyita waktu dan tenaga, namun karena dihukum di sinilah mereka bisa mencoba beradaptasi dengan dapur.
Mereka diajarkan bagaimana cara menanak nasi, membuat bubur, membuat lauk-pauk yang sederhana dan tergolong makanan rumah. Sangat menyenangkan menambah ilmu di dalam sini.
Setelah sholat subuh mereka langsung kembali ke dapur umum untuk mulai menyajikan makanan. Mereka bertiga menebarkan piring di sepanjang meja yang sungguh sangat banyak dan tidak ada habis-habisnya.
Ini melelahkan, mereka pikir sarapan pagi ini akan terlambat tapi ternyata tidak karena Ustad Vano dan Ustad Azam datang membantu di stan makanan umum. Mereka berpisah, bila Ustad Vano dan Ustad Azam menyajikan makanan di stan santri laki-laki maka mereka bertiga menyajikan makanan di stan santri perempuan.
Pekerjaan jadi lebih mudah diselesaikan karena yang datang membantu bukan hanya Ustad Vano dan Ustad Azam namun para petugas kedisiplinan asrama laki-laki juga datang membantu. Staf dapur juga kasihan melihat mereka bertiga bekerja sehingga banyak yang keluar untuk membantu.
Alhasil awal hari yang melelahkan tiba-tiba menjadi awal hari yang penuh akan kehangatan. Untuk sekali lagi mereka merasakan betapa pentingnya ikatan tali silaturahmi. Di kala susah ataupun senang, tali itu tidak meregang bergerak jauh ingin melepaskan diri tapi semakin erat.
Mashaa Allah, suatu hari tali-tali ini akan saling tarik-menarik. Entah itu surga atau ke neraka siapa yang memutuskan adalah manusia itu sendiri.
Bila tali silaturahmi tetap terjaga dalam hal kebaikan, maka sudah tentu surga akan menarik tali-tali ikatan ini. Akan tetapi bila tali silaturahmi terputus karena sebuah keburukan, maka neraka sendirilah yang akan menyambungkan tali-tali ini untuk menariknya masuk ke dalam.
Naudzubillah, seburuk-buruk tempat adalah neraka dan sebaik-baik tempat adalah surga. Maka tetapkan langkah di jalan Allah agar senantiasa berada di dalam lindungan Allah.
"Kalian bisa sarapan lebih dulu." Ujar Ustad Vano setelah melihat waktu di jam dinding yang sengaja di taruh di perbatasan antara stan santri laki-laki dan perempuan. Jam itu sangat besar, dan pastinya cukup berat.
Saat ini Ustad Vano berdiri di wilayah stan makanan laki-laki sedangkan mereka bertiga berdiri di wilayah stan makanan perempuan.
Mereka dihalangi oleh tabir hijau tua khas milik stan makanan. Mereka hanya bisa saling melihat wajah saja. Tapi karena menghindari fitnah, mereka bertiga menundukkan kepala ketika berbicara dengan Ustad Vano.
Asri dan Mega secara alami menutup mulut. Menyerahkan urusan Ustad Vano sepenuhnya kepada Ai, sang pawang kulkas berjalan.
__ADS_1
Wajah Ai tersipu.
"Kami akan menunggu teman-teman yang lain, Ustad." Kata Ai dengan jantung berdebar.
"Tidak perlu menunggu mereka. Kalian bisa sarapan lebih dulu agar nanti bisa menyempatkan waktu beristirahat sebelum kembali membersihkan dapur." Ustad Vano tidak menerima penolakan.
Ai melihat kedua sahabatnya, mereka mengangguk antusias karena bisa makan lebih dulu dan punya waktu untuk beristirahat sebelum membersihkan dapur!
Ah, mereka akan sangat sibuk selama tiga hari ini.
"Baiklah, Ustad. Kami akan sarapan lebih dulu. Lalu, bagaimana dengan Ustad dan yang lainnya?"
Ustad Vano dan yang lain sudah bekerja keras juga, sehingga tidak adil rasanya bila dia, Mega, dan Asri lebih dulu sarapan.
Ustad Vano menoleh ke belakang, para petugas kedisiplinan asrama laki-laki sedang duduk berkelompok di depan stan makanan.
"Ini ada beberapa makanan ringan dan minuman susu kedelai, makanlah selagi masih hangat. Jika sudah dingin rasanya tidak lagi enak."
"Makanan!" Asri dan Mega saling lihat.
Mereka terbiasa makan apa adanya di sini dan jarang bisa makan makanan dari luar. Jadi, ketika mendengar mereka akan mendapatkan makanan ringan dan susu kedelai dari Ustad Vano, semua kelelahan mereka rasanya sepadan!
"Aku..." Ai ingin menolak tapi dengan sangat santai memotongnya.
"Mashaa Allah, kebetulan sekali, Ustad. Beberapa hari yang lalu Ai pernah bilang jika dia rindu makanan luar tapi tidak bisa keluar membeli karena pondok tidak mengizinkan. Untungnya ada Ustad Vano hari ini yang memberikan jadi kerinduan Ai bisa terpuaskan." Dia-sungguh-hanya-asal-berbicara.
__ADS_1
Faktanya, Ai bukanlah maniak makanan ringan dan ia juga tidak terlalu suka makan makanan luar. Ini sudah menjadi kebiasaannya dari sejak kecil karena Ayah dan Bunda selalu membuatnya makanan bila ingin makan.
"Ustad-" Ai ingin membatah tapi Mega lebih dulu berbicara.
"Tidak perlu malu, Ai. Ustad Vano sekarang sudah mengabulkan keinginan mu jadi tidak ada salahnya menerima. Lagipula jika kamu tidak menerimanya maka kamu akan semakin rindu ingin makan makanan dari luar." Mega tanpa malu mendorong Ai sebagai korban 'keserakahannya' dengan Asri.
Mereka tidak jahat, okay.
Lagipula Ustad Vano sendiri yang menawarkan mereka sebuah kebaikan jadi bagaimana mungkin mereka bisa menolak?
Ustad Vano tersenyum kecil,"Maka ini adalah sebuah kebetulan."
Ai tidak berdaya. Dia dijadikan kambing hitam tapi mau bagaimana lagi, kedua sahabatnya pasti sangat ingin memakannya. Jadi, dengan sangat terpaksa- padahal faktanya dia sangat senang menerima perhatian kecil dari Ustad Vano!
"Kalau begitu aku akan menerimanya. Terimakasih, Ustad." Ai mengulurkan tangannya mengambil kantong plastik hitam itu dari tangan Ustad Vano.
Namun, entah itu disengaja atau tidak, Ustad Vano tiba-tiba mengangkat tangannya lebih tinggi lagi. Membuat Ai sulit menjangkau.
"Ini.." Dia ragu mengatakannya karena dua sangat pendek, ah!
Senyuman Ustad Vano lebih dalam lagi.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau mengambilnya?" Tanya Ustad Vano pura-pura tidak mengerti.
"Itu...tangan Ustad terlalu tinggi. Aku tidak bisa menjangkaunya." Kata Ai malu bercampur gugup.
__ADS_1
Suara detak jantungnya saat ini bagaikan alarm peringatan bahwa waktu-waktu rasanya terlalu manis!