Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 2.1)


__ADS_3

...Ya Allah, saat ku kehilangan harapan dan rencana tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu lebih besar dari kekecewaan ku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik dari impianku....


...Ali bin Abi Thalib...


...🍁🍁🍁...


"Yang lain sedang sibuk merapikan barang-barang tapi kenapa dia malah asik tertidur? Dia pikir ini rumahnya apa!" Ketika Frida dan Tiara masuk ke kamar Fatimah RA, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah wajah tertidur Ai yang tampak damai dan lelap.


Padahal teman-temannya yang lain sedang sibuk beres-beres tapi kenapa dia malah asik sendiri tidur, apalagi ini adalah pondok pesantren dan bukannya di rumah, sehingga Ai tidak bisa bertindak semaunya di sini.


"Biarkan aku membangunkannya!" Frida ingin masuk ke dalam tapi segera dihentikan oleh Tiara.


Dia menarik Frida keluar sebelum membuat keributan di dalam kamar Fatimah RA. Karena jika itu terjadi maka nama baik petugas kedisiplinan asrama putri akan terancam menjadi rusak. Para santri baru akan berpikir jika mereka tidak berkepala dingin dalam menyelesaikan masalah, bahkan hal yang paling buruk adalah Frida bisa-bisa dikeluarkan dari petugas kedisiplinan asrama putri.


Ini bahaya, Tiara tentu saja tidak ingin Frida berakhir seperti itu.


"Sudahlah Frida, kamu tidak boleh membawa urusan pribadi ke sini." Karena dia tahu Frida mempunyai perasaan untuk Ustad Vano.


Meskipun yah, Tiara juga mengakui bahwa dia memang menyukai Ustad Vano sama seperti wanita-wanita yang lain tapi dia masih bisa berkepala dingin dan memaklumi kegugupan Ai.


"Lagi pula dia mungkin saja sedang tidak sehat sehingga tidur sebentar untuk beristirahat tidak ada salahnya. Mau bangun juga percuma saja karena dia pasti hanya akan menganggur. Bukankah kamu juga melihatnya sendiri jika Ustad Vano yang mengambil barang bawaannya di luar?" Ujar Tiara menghentikannya.


Bukan hanya Frida, tapi dia juga melihat semua yang terjadi tadi siang. Mungkin lebih tepatnya Tiara selalu memperhatikan apa yang Ustad Vano lakukan sejak pagi secara diam-diam. Dia bukannya tidak sopan!

__ADS_1


Tidak, tidak sama sekali. Bukankah ini normal? Ketika seseorang sedang jatuh cinta mereka pasti ingin selalu melihat orang yang mereka sukai dan merindukannya apabila terpisah jauh. Tiara juga mengalami ini jadi apapun yang Ustad Vano lakukan dia pasti ingin, bahkan sangat ingin melihatnya.


Frida mendengus tidak suka tapi tetap mendengarkan apa yang dia katakan. Dia memutuskan tidak masuk ke dalam kamar karena hatinya masih tidak menyukai Ai.


"Manjakan saja terus dia. Jika suatu hari dia membuat masalah, jangan sampai aku mendengarkan keluhan mu!" Katanya memperingatkan.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Temannya ini masih belum bisa merubah sifat keras kepalanya meskipun sudah bertahun-tahun tinggal di pondok.


"Ra, kalau begitu kamar ini aku serahkan kepadamu sementara aku akan pergi ke kamar Aisyah RA untuk membantu yang lain. Hemph, aku sama sekali tidak dalam mood yang baik untuk melihat wajah sok polosnya itu." Katanya seraya menatap Ai malas.


Tiara tidak bisa menolak,"Ya, pergilah."


Dia kemudian berpisah dengan Frida. Dari depan pintu kamar Fatimah RA, dia melihat Frida bergabung dengan yang lain untuk mengarahkan santri baru segera bersiap-siap pergi ke masjid untuk sholat zuhur.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum?" Salamnya sopan dengan nada ramah.


Mereka segera menghentikan aktivitas beres-beres mereka.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, Kak."


Tiara lalu masuk ke dalam. Memberikan senyuman ramah sebelum mulai berbicara.


"Sebentar lagi azan Zuhur akan berkumandang jadi bagi yang tidak berhalangan segera mengeluarkan mukena masing-masing dan bersiap pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Sedangkan bagi yang berhalangan kalian bisa tetap tinggal di sini untuk melanjutkan beres-beres kalian sampai waktu sholat zuhur selesai. Setelah sholat zuhur selesai kalian semua berhalangan atau tidak akan diarahkan menuju stan makanan untuk makan siang. Secara garis besar hari ini kalian tidak terlalu aktif karena ini adalah hari pertama kalian. Inshaa Allah, mungkin besok pagi kalian sudah bisa aktif beraktivitas di sini sama seperti santri normal lainnya." Katanya dengan suara yang tidak terlalu keras juga tidak terlalu lemah.


Normalnya, mereka semua bisa mendengar suara Tiara kecuali Ai yang sedang tidur lelap.


"Jika kalian butuh pertanyaan jangan sungkan untuk bertanya agar kalian tidak kebingungan nantinya." Sambung Tiara memberikan mereka kesempatan untuk bertanya.


Setelah mendapatkan tawaran dari Tiara, beberapa mereka memutuskan untuk bertanya kepada Tiara dan dilayani dengan ramah pula oleh Tiara. Dibandingkan dengan Frida yang sensitif, mereka lebih nyaman dekat dengan Tiara.


Setelah selesai menjawab pertanyaan mereka satu persatu, Tiara mengalihkan pandangannya menatap Ai yang masih belum bangun. Dia pikir Ai mungkin belum akrab dengan anak-anak yang lain sehingga dia berinisiatif ingin membangunkan Ai. Namun sebelum dia bisa mendekati kasur Ai, sebuah suara ringan menghentikan langkahnya.


"Jangan bangunkan dia, Kak." Katanya menghentikan.


Tiara pikir gadis ini bermasalah dengan Ai,"Apa dia berhalangan?" Tanyanya basa-basi.


Gadis itu tidak tahu,"Aku tidak tahu. Tapi biarkan saja dia tidur sebentar lagi karena dari sejak kecil badannya tidak terlalu sehat. Mungkin perjalanannya ke sini membuat tenaganya berkurang banyak sehingga dia tidak punya cara selain tidur untuk memulihkannya."


Aishi Humaira.


Dia memang tidak akrab dengannya dulu tapi dia tahu Ai tidak sesehat anak-anak yang lain. Di sekolah taman kanak-kanak dulu Ai lebih banyak duduk di bangkunya menggambar hal-hal yang menurutnya monoton.

__ADS_1


Karena ini banyak orang menyukai Ai dan memperhatikan perhatian lebih kepadanya, guru dan siswa tidak ada bedanya jadi saat itu dia membenci keberuntungan Ai.


"Jadi kalian berteman?" Tanya Tiara sebenarnya tidak terlalu tertarik.


__ADS_2