Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bonus Lagi


__ADS_3

Sekarang sudah seperti ini dan Azira tahu bahwa ia tidak bisa mengembalikan semuanya lagi. Ia juga sadar apa yang ia lakukan ini punya konsekuensi yang besar jika ditemukan. Mungkin ia harus ditendang keluar dari rumah ini, yah ini adalah yang terbaik. Dan fatalnya jika mereka semua sangat marah maka kemungkinan Azira akan berurusan dengan aparat hukum.


Yah, perbuatan jahat seperti ini tentu saja tidak bisa diterima semua orang.


Tapi ketika Ibunya dulu diperlakukan seperti ini tidak ada yang marah, mengapa?


Padahal Ibunya juga punya hati dan pasti merasakan kecewa jika pasangan bersama dengan wanita yang lain.


Melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, di sana ada rahasia besar yang baru saja Azira sembunyikan. Sayangnya itu tidak bisa dikunci dari luar atau kalau bisa, mungkin Azira tidak akan merasa sepanik ini.


"Humaira-lho, Azira kok gak ada di sini?" Bingung Bibi Sifa ketika masuk ke dalam kamar ia tidak menemukan Azira. Padahal sebelum keluar tadi ia sudah berpesan kepada Azira agar menemani Humaira di sini selama ia dan Bibi Safa mengurus sesuatu di bawah.


Berdeham pelan, kepala Azira sedikit turun untuk menyembunyikan kegugupannya. Saat ini apapun bisa terjadi jika Bibi Sifa berniat menyingkap tudungnya, tapi untung saja keluarga ini punya kebiasaan aneh. Tidak mengizinkan siapapun membukanya selain sang suami.


Nah, hal kedua yang menakutkan adalah kamar mandi yang ada di sini. Itu adalah tempat yang paling menakutkan Azira saat ini, hampir saja ia tidak bernafas setiap kali melihat ke tempat itu.


"Dia..dia izin keluar tadi Bibi." Jawab Azira memberikan alasan, berusaha mengontrol suaranya sekecil mungkin.


Bibi Sifa mengernyit heran mendengar suara Humaira yang tidak biasanya, namun karena gugup mungkin membuat nyali keponakannya ini menjadi kecil. Yah, setidaknya itu adalah apa yang ia pikirkan saat ini.


"Kamu jangan terlalu gugup karena nanti bisa-bisa kamu langsung pingsan jika tidak bisa mengontrolnya." Ucap Bibi Sifa bercanda, menggoda keponakannya yang saat ini terlihat tegang.


Tapi yah, wajar saja setiap pengantin mengalami kegugupan di hari pernikahannya. Pasalnya ini adalah momen sekali seumur hidup dan tidak bisa terulang dua kali lagi, kecuali yah..jika mencari pasangan yang baru lagi.


Tapi anehnya, keluarga mereka tidak ada yang pernah bercerai maupun mencari pasangan yang lain lagi setelah menikah. Mereka pasti akan setia dengan satu pernikahan yang mereka yakini sekali seumur hidup.


"Aku..aku akan berusaha." Ucap Azira mencicit, bahkan kedua tangannya kini sudah basah di dalam. Perasaan ini terlalu menegangkan, ah!


Tersenyum maklum, Bibi Sifa tidak lagi ingin menggoda keponakannya karena setelah diperhatikan tadi Humaira bukannya merasa tenang malah semakin tegang. Jadi setelah dipikir-pikir lebih baik tutup mulut saja daripada mengucapkan hal-hal yang aneh.


"Oh, ya Bibi lupa ngasih tahu kalau Mama kamu gak bisa ke sini untuk temani kamu. Nanti saat kamu turun ke bawah dia baru yang ambil alih kamu dari Bibi jadi kamu gak perlu khawatir, okay?" Nanti saat akad ia dan Bibi Safa menuntun Humaira turun ke bawah dan di sambut dengan Mama Humaira. Di bawah Mamanya akan mengambil alih Humaira dan menuntun Humaira ke tempat akad, jadi sebenarnya ini cukup mudah.


Azira yang lagi-lagi harus mengeluarkan suara, namun karena tidak sanggup lagi membuat kecurigaan semakin banyak maka ia hanya bisa mengangguk patuh, diam adalah pilihan terbaik jika tidak ingin rencananya gagal.


"Ya udah, sementara menunggu Bibi Safa datang Bibi mau ke toilet dulu. Kamu juga kalau butuh apa-apa langsung ngomong ke Bibi biar semuanya berjalan dengan baik."


Deg


Duduk Azira langsung tegak, ia merasakan perasaan dingin yang menakutkan perlahan mengaliri punggungnya. Tanpa sadar kedua matanya menatap ke arah Bibi Sifa yang sudah berjalan santai menuju kamar mandi, ia ingin menghentikannya namun suaranya bahkan lebih mencurigakan lagi.


Azira bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan Bibi Sifa. Tidak! Tidak bisa, Bibi Sifa sudah terlalu dekat-


Cklack


"Sifa, kita harus segera turun karena yang lain sudah menunggu mempelai wanita di bawah." Tiba-tiba sebuah suara penyelamat menginterupsi tangan Bibi Sifa yang sempat akan menyentuh gagang pintu kamar mandi.


"Astagfirullah, kenapa kau tidak menghubungi ku sedari tadi?" Panik Bibi Sifa seraya membawa langkahnya kembali mendekati Azira yang sudah bisa bernafas lega.


Punggungnya sudah bisa merasa rileks sekarang dan bahkan kedua tangannya sudah tidak lagi saling meremat.


Ini baik, pikirnya.


"Tidak perlu panik, santai saja." Peringat Bibi Safa sambil mendekati Azira dan Bibi Sifa.


Ia perlahan membantu Azira berdiri dari duduknya dan merapikan kain gaun yang bisa saja tidak sengaja Azira injak sehingga berakhir tersandung, hal-hal seperti ini memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa saat hari pernikahan. Karena gugup pengantin wanita kadang tidak tidak bisa memperhatikan langkahnya dan berakhir tersandung gaunnya sendiri.


"Jika kau panik maka yang akan lebih panik adalah Humaira."


"Hem, kau benar." Merilekskan tubuhnya, Bibi Sifa dan Bibi Safa lalu dengan langkah pelan-pelan menuntun Azira keluar dari kamar Humaira. Membawanya melewati koridor rumah yang sudah penuh dengan hiasan cantik khas acara pernikahan.


Ini adalah sesuatu yang memanjakan mata!


"Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak pernah melihat sampah itu di rumah? Kemana ia pergi?" Bibi Safa bertanya bingung karena sejak pagi ia tidak pernah melihat kehadiran Azira. Lebih baik memang jika ia tidak ada karena suasana hatinya jadi lebih baik.


Azira yang sedang dicari hanya bisa tersenyum sinis, berpikir apakah wanita kejam ini masih bisa tertawa jika ia tahu nanti orang yang menikah bukanlah keponakan tersayang mereka, namun manusia sampah yang selalu dipandang menjijikkan di rumah ini.


Ekspresi itu, Azira sudah tidak sabar lagi ingin melihatnya.


"Azira mungkin sudah ada di bawah," Bisik Bibi Sifa menjawabnya.


"Jangan dibicarakan lagi karena saat ini yang terpenting adalah hari bersejarah untuk gadis manja ini." Lanjutnya berusaha mengalihkan pembicaraan.


Karena ini adalah hari pernikahan yang bersejarah untuk Humaira maka tidak baik rasanya membicarakan masalah Azira. Ini adalah hari yang membahagiakan dan seharusnya mereka semua ikut berbahagia dengan hari ini.


"Hem, kau benar." Gumam Bibi Safa tidak lagi ingin membicarakan masalah Azira yang selalu membuat mata dan hatinya iritasi.


Lalu, beberapa menit kemudian sampailah mereka ke anak tangga yang akan mengantarkan mereka menuju tempat akad. Dari atas mereka bisa melihat tempat akad yang indah dan ratusan tamu undangan yang dengan mata penasaran sekaligus takjub menatap ke arah mereka. Tidak, itu lebih tepatnya ke arah pengantin wanita yang penuh misteri.

__ADS_1


Mereka tidak bisa melihat sang pengantin wanita dengan jelas karena tudungnya, akan tetapi mereka semua tahu bahwa pengantin ini pastilah sangat cantik sehingga membuat mempelai laki-laki yang luar biasa tampan jatuh cinta terhadapnya.


"Humaira." Panggil Mamanya seraya mengambil alih Azira dari Bibi Sifa dan Bibi Safa. Menuntunnya dengan hati-hati, ia lalu mendudukkan Azira di sebuah kursi putih lembut yang sudah dihias cantik dan elegan.


Begitu cantik, begitu serasi dengan gaun pengantinnya yang mewah.


"Apakah acaranya sudah bisa kita mulai?" Menundukkan kepalanya, dari sini Azira bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang tadinya berbisik-bisik kini mulai menjadi sunyi.


Tapi, ada yang aneh. Azira sepertinya mencium wangi yang sedikit tidak asing. Siapa yang punya Azira tidak yakin karena ia tahu betul jika ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang asing, dia tidak punya kenalan siapa-siapa ingat.


"Baiklah kalau begitu, silakan tangan mempelai laki-laki menjabat tangan wali mempelai wanita. Akad sekarang sudah bisa di mulai." Suara laki-laki itu lagi menambah kegugupan Azira.


Meskipun bukan pernikahannya namun tapi setelah duduk di sini ini sama saja menjadi pernikahannya. Ah, bukankah ia dan Humaira tidak ada bedanya?


Ya, Azira adalah anak dari laki-laki kejam yang ada di depannya kini dan laki-laki ini akhirnya yang akan mengantarkannya ke masa depan...


Yang belum pasti.


Hah, Azira tidak tahu bagaimana tanggapan calon suami paksaannya ini jika tahu bahwa yang ada di sampingnya bukanlah Humaira.


"Saya nikahkan dan saya jodohkan anak kandung perempuan saya Azira Humaira, dengan engkau Muhammad Furqon Rasidiq Bin Muhammad Fadillah Rasidiq dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat 70 gram dibayar tunai.” Suara Ayah dengan lantangnya yang tenang juga berwibawa.


Seketika membuat nafas Azira tertahan, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba hatinya bergetar setelah mendengar ini.


Menerima sentakan dari tangan calon mertuanya, Furqon dengan teguh menguatkan jabatan tangan mereka seraya menyerukan sebuah penerimaan yang sakral dan merupakan sebuah jembatan akan kebahagiaannya di masa depan nanti. "Saya terima nikah dan jodohnya Azira Humaira Bin Muhammad Ramadan Rozik dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 70 gram dibayar tunai," Sentak Furqon dengan satu kali nafas yang mantap dan berani.


Bahkan tatapan matanya yang tajam juga teguh tidak gentar sekalipun saat berurusan dengan calon mertuanya yang berwibawa juga tangguh.


"Sah?" Teriak tetua yang sedari tadi memandu acara pernikahan ini.


"SAH!" Teriak semua orang bergembira dan antusias. Mereka sudah tidak sabar melihat seperti sosok pengantin wanita yang kini sudah resmi menjadi milik Furqon, seorang dokter bedah yang tampan juga sempurna. Pasti mereka adalah pasangan yang cocok dan serasi jika dilihat sekilas, keluarga ini di masa depan akan sangat bahagia, ah!.


Namun kegembiraan ini hanya bertahan sebentar sebelum suara teriakan pilu seorang gadis menginterupsi kegembiraan semua orang.


Di lantai dua mereka bisa melihat seorang gadis dengan wajah acak-acakan berusaha turun ke bawah. Gadis ini sudah tidak perduli dengan penampilannya karena satu-satunya yang ia pikirkan sekarang adalah menghentikan pernikahan ini.


"Hu-Humaira?" Semua orang yang mengenal Humaira terkejut dengan kedatangannya.


Bukankah yang sedang duduk di samping Furqon adalah Humaira?


"Humaira, bagaimana bisa kamu ada di sini, Nak?" Tanya Mama Humaira panik melihat Humaira yang seharusnya menjadi pengantin ternyata baru datang dengan keadaan berantakan seperti ini.


"Mama, Ayah.. pernikahan ini tidak bisa terjadi karena yang duduk di sana adalah Azira bukan Humaira!" Histeris Humaira sakit hati sambil memeluk Mamanya sedih. Ia bahkan lupa jika obat biusnya masih belum sepenuhnya pergi dari tubuhnya sehingga membuat badannya masih lemas.


"Azira?" Bingung keluarga Furqon terkejut.


Mereka semua tidak bisa duduk diam karena orang yang menikah adalah putra mereka sendiri, tidak adil rasanya jika hari kebahagiaan putranya justru menjadi hari paling hancur dalam hidupnya.


"Bukankah kamu adalah Azira, lalu mengapa kamu bilang wanita ini adalah Azira," Tanya Ayah Furqon jelas merasa bingung mengapa ada dua Azira di sini.


"Ini.." Mama Humaira tidak bisa menjelaskan dan lebih memilih menenangkan Humaira yang masih menangis lemas di dalam pelukannya.


"Begini Pak, di sini ada pelayan yang juga bernama Azira. Jadi..jadi pernikahan ini sesungguhnya tidak bisa-"


"Mengapa tidak bisa?" Suara Bibi terpotong oleh Azira.


Tersenyum dingin, perlahan tangan lentik nan cantik Azira bergerak membuka tudung yang menutupi wajahnya. Menyingkap wajah cantik yang tidak banyak menggunakan make up, melihat ini seketika warna wajah Furqon langsung berubah.


Awalnya ia ingin bersuara menyatakan ketidak terimaannya dalam masalah ini. Namun ketika melihat Azira, Furqon memutuskan hanya untuk menontonnya saja. Melihat hal apa yang bisa dilakukan gadis ini.


"Bukankah aku adalah Azira Humaira, jadi mengapa pernikahan ini tidak bisa?" Ucapnya dengan senyuman kepuasan, menatap angkuh Bibi Safa yang sedang menatapnya tajam penuh kebencian.


Apa?


Apa kau pikir selamanya aku akan terus kau injak-injak?


Hah! Aku tidak akan cukup bodoh terus membiarkan mu bertindak menghinaku, karena aku sampah maka aku akan memperlakukan selayaknya sampah!


Terdengar bisikan dari para tamu yang datang, drama keluarga seperti ini jarang-jarang mereka melihatnya secara langsung, ah!. Mereka hanya bisa menemukannya di dalam drama Korea atau sinetron Indonesia jadi mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan siaran langsung ini di sini!


"Azira, perhatikan tingkah laku mu!" Marah Ayah tidak bisa lagi menahan kemarahannya.


Menunjuknya dengan tangan kiri, tatapan jijik penuh kemarahan ia acungkan kepada Azira. Gadis yang kini sudah resmi menjadi istri sah Furqon.


"Pernikahan jelas untuk Humaira sehingga kau tidak bisa merebutnya dengan cara kotor seperti ini!"


"Mengapa aku tidak bisa?" Tersenyum dingin.

__ADS_1


"Bukankah aku ini juga anak mu Ayah dan kau menikahkan laki-laki ini dengan ku yang jelas-jelas bernama Azira Humaira! Aku ini adalah Azira Humaira jadi mengapa aku tidak bisa menikah dengannya?" Menatap puas wajah kosong sang Ayah.


"Sebagai wali kau sendiri yang menikahkan ku dengannya, jadi mengapa pernikahan ini tidak bisa sah?"


"Tapi.. yang Mas Furqon ingin nikahi adalah aku bukan kamu Azira! Jadi.. jadi pernikahan ini harus dibatalkan!" Teriak Humaira tidak tahan dengan drama yang Azira lakukan.


Gadis ini, gadis yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri berani menikamnya dari belakang. Betapa kejamnya!


"Baik itu bukan aku tapi kamu, lalu bagaimana dengan nama Azira Humaira? Itu juga aku bukan dan yang duduk di sini pun masih aku!"


"Kau..." Humaira tidak bisa berkata-kata dibuatnya, ia marah bahkan sampai ke tahap ia sangat membenci Azira!


"Mas Furqon, pernikahan ini tidak bisa sah karena yang Mas ingin nikahi adalah aku bukan gadis ini. Jadi..ini seharusnya batal?" Karena tidak bisa mendapatkan apa-apa dari Azira maka ia pun beralih meminta pertolongan kepada Furqon yang sedari tadi hanya mendengarkan drama mereka.


"Sebenarnya memang seperti itu tapi meskipun kita mengelak sekuat tenaga pernikahan ini akan tetap sah, apalagi kalian berdua mempunyai nama yang sama dan bersaudara. Maka siapapun yang duduk bersama ku tadi saat akad adalah istri ku." Jawab Furqon terlihat bimbang, tidak tega rasanya melihat Humaira menangis seperti ini.


Azira tertegun, ia lalu mengalihkan pandangannya agar tidak bisa melihat sang suami. Rasanya ia tidak tega telah menghancurkan pernikahan bahagia laki-laki ini.


"Tapi Mas..dia curang!" Teriak Humaira masih tidak terima dengan keputusasaan Furqon.


"Benar Humaira, dia memang curang. Namun securang apapun ia tetap saja kami adalah pasangan suami-istri sekarang." Jawab Furqon mengakui bahwa gadis yang ada di sebelahnya kini adalah istrinya dan ia pun bertanggung jawab atas segala perbuatan istrinya pada keluarga ini.


"Apa.. Mas mengakui dia adalah istri Mas?" Saat menanyakan ini perasaan sakit yang bertubi-tubi terus menghantam hatinya.


Mengapa?


Ini adalah hari pernikahannya tapi mengapa bisa menjadi seperti ini?


Ia seharusnya bahagia bukan?


Mengalihkan pandangannya dengan ekspresi yang teguh juga kuat, "Ya, dia adalah istriku dan pernikahan ini tetap sah meskipun kamu menolak." Ucapnya mengakui tanpa mempermasalahkan apa yang telah Azira lakukan terhadap pernikahannya yang gagal dengan Humaira.


"Hah.." Tubuh Humaira tiba-tiba limbung, kedua kakinya kini bergetar lemas tidak mampu menahan beban tubuhnya. Terlebih dengan kejutan yang ia dapatkan hari ini membuat Humaira berharap bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.


"Furqon, kemari Umi ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Panggil Umi Furqon sambil membawa langkahnya menjauh dari kerumunan. Mencari tempat yang aman untuk mendiskusikan masalah ini.


"Aku tahu Umi dan aku tidak akan pernah menarik kata-kataku." Suara Furqon keras kepala tidak berniat menarik kata-katanya lagi.


Menghela nafas panjang, Umi tahu betapa keras kepalanya Furqon. Namun sebagai seorang Ibu tentu saja ia khawatir jika perempuan itu akan menghancurkan kehidupan Furqon lebih jauh lagi, ia tidak sanggup melihat putranya harus disiksa seperti itu.


"Baik, Umi mengerti tapi kamu harus memikirkan masa depan mu juga. Perempuan ini kita tidak pernah mengenalnya bahkan dari perbuatannya saja Umi bisa katakan bahwa ia bukanlah perempuan yang baik-baik."


"Jadi, bagaimana jika batalkan pernikahan ini dan kamu bisa merencanakan pernikahan yang lain bersama Humaira?"


Mendengar kekhawatiran Uminya, Furqon tahu bahwa tidak semudah itu menerima Azira menjadi istrinya. Tapi entah mengapa Furqon tidak mempermasalahkan itu semua dan dengan rela mau menerima Azira.


Ia yakin sebagai suaminya, kelak Azira akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Tidak perlu Umi, Furqon tidak akan pernah membatalkan pernikahan ini." Ucapnya lembut seraya mengambil tangan lembut Uminya.


"Lagipula in shaa Allah suatu hari nanti Azira pasti bisa berubah menjadi lebih baik lagi, Furqon yakin dengan pemikiran ini."


Umi menatap diam mata hitam putranya, memperhatikannya dengan serius ia mencoba mencari apakah ada keraguan di sana namun setelah dicari-cari ia tidak menemukan apapun selain keyakinan.


Mengalah, "Baiklah jika itu pilihan mu, Umi bisa apa. Lagipula yang menjalankannya adalah kamu bukan Umi jadi kau bebas memilihnya." Pasrah Umi tidak ingin ambil pusing lagi sambil membawa langkahnya kembali ke tempat acara. Memperhatikan menantunya yang hanya bisa berdiri diam menundukkan wajah cantiknya.


Umi juga mendengar bisikan-bisikan cemoohan dari orang-orang di sekitarnya namun menantunya ini terlihat tidak perduli dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ayah," Panggil Furqon pada sang Ayah mertua yang sedang gelisah.


"Aku minta maaf untuk semua yang telah dilakukan istriku, tenang saja.. semua kekacauan ini akan Furqon ganti dan tolong sampaikan kepada Humaira bahwa aku minta maaf untuk semuanya. Aku berharap jika Humaira mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dariku, laki-laki yang tidak akan pernah mengecewakannya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Mencium tangan sang mertua, lalu Furqon menatap tanpa daya pada sang Ibu mertua yang masih setia memeluk Humaira. Ia terlihat hancur saat ini dan Furqon tahu bahwa tidak baik mendatangi Ibu mertua sekarang karena mereka saat ini adalah keadaan yang buruk.


Ayah tidak mengatakan apa-apa dan ia juga tidak menjawab salam dari Furqon. Ia juga tidak bereaksi ketika Furqon mencium tangannya, ah.. mungkin lebih tepatnya ia kini menjadi menantunya walaupun rasanya sedikit asing.


Setelah menjauh sang mertua, lantas Furqon mendatangi Azira yang masih setia menunduk. Memegang tangannya lembut, Furqon bisa merasakan jika tangan istrinya gemetaran. Hem, seperti yang ia duga istrinya tidak sekuat itu.


"Azira?" Panggil Furqon lembut pada sang istri yang masih tegang.


"K-kau..." Azira berjenggit kaget ketika melihat suaminya adalah orang yang menyelamatkannya dari preman-preman itu.


Tersenyum lembut, "Ayo kita pulang ke rumah." Ucapnya lembut sambil menarik tangan Azira mengikuti langkahnya. Meninggalkan kerumunan yang masih betah berbisik-bisik ria dan meninggalkan Humaira yang masih menangis pilu, kecewa dengan apa yang terjadi hari ini.


Ia marah jauh sampai tahap benci. Benci mengapa selama ini ia bersikap terlalu baik kepada anak haram itu. Jika waktu bisa diputar maka Humaira tidak akan pernah memberikan Azira wajah!


Bersambung...


Tolong jangan plagiat yah, hehe... Allah maha melihat lho🤭

__ADS_1


__ADS_2