Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Para tetangga


__ADS_3

Kemudian Shin datang dan berdiri di belakang Norin.


Semua orang membelalak kan matanya melihat pria tinggi tegap di belakang wanita yang tengah berbicara dengan mereka.


"tuh kan bener ada Eun Woo, mister mister kami mau minta foto dan tanda tangannya ya, boleh ya?"


"iya mister saya juga,"


Beberapa wanita hendak menyerbu Shin namun Norin membentangkan tangannya.


"mba Norin pelit banget sih, jangan di keukeup sendiri napa mba?" seorang gadis belia protes karena ia tidak bisa melewatinya.


"dia bukan Cha Eun Woo Bu ....dia....dia...!"


"saya kekasihnya Norin, kalian ingat, saya kekasihnya Norin dan bukan artis yang kalian bilang itu," ucap Shin tiba tiba.


Seketika semua orang yang hendak menyerbu Shin menganga lebar mendengar pengakuan pria yang hendak mereka serbu.


"be...be...betul itu Rin?" kata seorang wanita paruh baya.


Norin kebingungan menjawab pertanyaan mereka.


"bener itu ibu ibu, saya kan udah bilang. pria itu bukan artis tapi pengusaha kelas kakap sekaligus kekasihnya mba Norin bahkan mereka sebentar lagi mau nikah. Kalau ngga percaya tanya aja sama sopir pribadinya," ucap Rizal sambil menunjuk ke arah sang sopir.


"be..benar itu yang di katakan sama mas Rizal, makannya bos saya kemari untuk menjemput mba Norin kembali ke kota."


Norin terbengong melihat ke arah dua orang yang tengah berbicara bohong.


"kenapa mereka bisa kompak gitu bohongnya!" Norin bermonolog.


Sementara Shin tersenyum saja di belakang Norin.


"wah, mba Norin keren punya pacar konglomerat dan ganteng banget kayak artis korea."


"iya nih mba Norin, hebat ya!"


"sudah....sudah...kalau begitu semuanya bubar dari sini, belum pada masak kan? nanti pada di cariin suaminya mau minta makan." Rizal mengusir mereka dan mereka pun mulai bubar kembali ke rumahnya masing masing.


Rizal menatap puas pada orang orang itu, akhirnya Ia bisa menampar orang orang yang suka mengolok olok kakaknya secara langsung meskipun apa yang dia katakan entah benar atau tidak.


"kamu itu kenapa bicaranya ngaur sih? apa yang kamu katakan ngga sesuai dengan kenyataannya lho?" Norin kesal pada Rizal yang sudah bicara bohong. Sementara Rizal hanya menggaruk tengkuknya sambil nyengir.


kemudian norin menoleh ke belakang."anda juga tuan, kenapa harus bohong ngaku ngaku kekasih saya?" Norin juga kesal pada bos nya itu. Sementara Shin tersenyum saja.


Norin kesal pada dua orang pria itu, kenapa harus membohongi warga kampung? jika warga tau semua itu hanya omong kosong, Norin akan jauh lebih malu karena bisa saja mereka menganggap Norin tukang bohong serta wanita tukang halu yang ingin punya kekasih orang kaya.


Kemudian Norin kembali masuk ke dalam rumahnya menyerempet bahu Shin dengan kasar sambil wajahnya di tekuk.


Norin duduk di sofa ruang keluarga dengan perasaan kesal.


"sebaiknya tuan cepat pulang dari sini!" ucap Norin pada pria yang tengah duduk di sampingnya dengan pandangan lurus ke depan.


Shin melirik pada wanita di sampingnya."saya akan pulang jika kamu mau ikut pulang juga."


"hukuman saya masih satu Minggu lagi tuan, lebih baik tuan pulang duluan saja nanti saya menyusul!"


"who's boss? hukuman dari pria itu tidak berlaku dan saya sudah memecatnya."


"pecat?"


"Hem, karena dia sudah berani mengusik wanita yang saya cintai dan menjauhkan saya darinya. kau tau bagaimana saya tersiksanya tanpa mu di sana? so saya tidak akan pulang jika kamu tidak ikut pulang."


"tapi...saya masih ingin di sini."


"sepertinya saya sama sepertimu masih ingin di sini bersamamu....!"


Norin menatap serius pada pria di sampingnya begitu pula dengan pria itu. Mereka saling pandang menatap dalam sorot mata itu.


Shin memajukan wajahnya hendak mengecup bibir mungil yang selalu bikin ia ketagihan.


"Ehem" suara deheman terdengar keras di telinga mereka. Membuat Shin mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"mending buruan nikah mba, dari pada bikin dosa terus," Rizal meledek sembari melewati ruang keluarga menuju dapur dengan tatapan lurus ke depan.


Norin menunduk malu telah kepergok adiknya. Sementara Shin hanya menggaruk tengkuknya.


Tak selang lama, terdengar teriakan anak kecil di luar rumah.


"Tante.......Tante Noriiin !" teriak anak kecil itu.


"siapa yang memanggilmu itu ?" tanya Shin.


"sepertinya keponakan saya, sebentar ya saya liat dulu."


baru saja Norin berdiri, sorang anak kecil perempuan langsung menerobos masuk ke dalam rumah.


"tante.........!" naya berlari ke arah Norin sambil merentangkan kedua tangannya. Norin menangkap bocah itu lalu menggendongnya dan menciuminya.


"Naya kangen banget sama Tante tauu...!"


"baru juga satu Minggu."


"kan satu Minggu itu lama banget tantee!"


"iya deh iyaa gimana Naya aja. Oia Naya kesini dengan siapa?


"sama mama Tante, tapi mamanya balik lagi katanya mau jemput kak Hasbi dulu ke sekolah."


"oh begitu..."


"om ini siapa tante?" tanya nanya sambil menatap pada pria yang tengah duduk dan memperhatikan mereka.


"oh, itu..itu..!"


"saya kekasih nya...Tan Tante Norin." Shin segera menimpalinya.


"kekasih itu apa Tante ?" tanya naya dengan polos.


"Naya masih kecil mana tau urusan orang dewasa, udah yuk ikut om Rizal aja jangan ganggu Tante yang lagi pacaran." Rizal berjalan menghampiri mereka dan langsung menggendong Naya.


"tapi Naya masih kangen sama Tante Norin om!"


"pacaran itu apa sih om?"


"halah bocah, kepo mulu. yuk kita jalan jalan beli es krim. Naya mau ngga?"


"mauuu!"


"lanjutin lagi aja pacarannya mba, tapi jangan sampe ke blablasan ya? Ha ha ha...!" kemudian Rizal pergi sambil menggendong Naya.


Norin menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Tak selang lama, Bu Aminah datang habis mengajar lalu melihat pada Shin yang hanya duduk seorang diri di sofa.


"lho tuan Shin kok sendirian aja, mana Norin nya?


"I ibu sudah pulang?"


"iya tuan."


"apa ibu seorang guru?" tanya Shin.


"iya tuan, saya hanya honorer !"


"o begitu?"


Norin keluar dari kamarnya dan melihat ibunya tengah berbicara dengan Shin.


"ibu baru pulang?


Bu Aminah menoleh pada anaknya baru keluar kamar."iya Rin, Oia tadi pak Rio nitip salam sama kamu Rin! dia juga nanyain kabar kamu."


"Rio, siapa Rio ?" tanya Shin penasaran.

__ADS_1


Bu Aminah melirik pada pria yang bertanya."Oh, itu pak Rio itu......"


"emm....tuan kita jalan jalan sekitaran kampung yuk, mau tidak ?" Norin menyela pembicaraan mereka.


Shin mengangguk menyetujui ajakan Norin.


"yaudah yuk, Bu kita pergi dulu ya?"


"yaudah hati hati !"


"apa kita mau pergi dengan mobil ?" tanya Shin setelah berada di teras rumah.


"tidak perlu, kita? jalan kaki saja."


"okey, let's go.....!"


Mereka berjalan beriringan menapaki jalanan kerikil kecil melewati satu rumah ke rumah lainnya.


"apa kamu lahir di tempat ini?"


Norin mengangguk." saya lahir dan besar di kampung ini."


"tapi......!"


Norin melirik." tapi kenapa tuan!"


"kamu tidak seperti orang kampung, wajahmu cantik, serta kulitmu putih bersih tidak seperti wanita wanita yang datang ke rumah tadi. mereka kenapa kulitnya semua hitam."


"apa tuan sedang mengejek orang kampung?"


"oh bukan begitu, hanya saja terlihat aneh. kenapa kamu berbeda dari orang orang di kampung ini?"


"apa tuan berfikir saya melakukan operasi plastik ?"


Shin menelisik wajah Norin lalu mencubit kecil pipinya, menarik hidungnya dengan gemas sampai wanita itu kesusahan bernafas. Kemudian Norin menepis kecil tangan kekar itu.


Shin tersenyum. "sepertinya wajahmu asli!"


Norin mencebik kan bibirnya." lagi pula dari pada operasi plastik buang buang uang, lebih baik uangnya buat beli sawah dan ladang yang banyak."


"Ha ha ha.....! Shin tertawa lebar.


Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan dengan tatapan kagum pada pasangan yang menurut mereka romantis.


Dari kejauhan seorang wanita bertubuh subur tergopoh gopoh menghampiri dua orang yang tengah berdiri di tengah jalan kerikil kecil.


"Norin...Norin....!" teriak wanita itu.


Norin menoleh pada orang yang tengah berlari kecil ke arahnya.


"Susi....!"


"huh huh huh huh" suara nafas Susi bergemuruh.


"kenapa lari lari kek gitu Sus? nanti BB kamu jadi turun lho!" tanya Norin pada wanita gemuk memakai daster yang sudah terlihat robek di bagian lengannya.


"i...i...itu....yang....yang....aku harapkan Rin..... biar cantik kayak..... kamu," jawab Susi dengan nafas yang masih ngos ngosan.


Norin tersenyum saja, Sementara Shin memasang wajah datar. Ia kesal wanita itu telah mengganggu mereka.


Susi menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya. Setelah nafasnya kembali normal ia baru menyadari kalau di antara mereka ada seorang pria asing tampan berwajah khas Korea.


Susi mendongak kan wajahnya tinggi ke atas karena postur tubuhnya yang hanya memiliki tinggi badan 155 cm, menatap wajah tampan itu dengan mulut menganga lebar.


Shin merasa risih di tatap wanita berpenampilan lusuh seperti itu, kemudian ia memalingkan wajahnya.


"ini....ini...a...apa pria yang di ceritakan oleh orang orang kalau pria ini a...adalah calon suami kamu Rin?" ucap Susi dengan gagap saking terpesonanya pada ketampanan Shin.


Shin melirik sekilas ke arah Shin." Bu........!"


"iya benar, saya kekasih Norin !" jawab Shin memotong ucapan Norin. kemudian ia melingkarkan satu tangannya di pinggang Norin tanpa ada rasa canggung.

__ADS_1


Susi menatap iri pada tangan Shin yang melingkar itu." kamu beruntung ya Rin, bisa dapat pacar ganteng dan kaya. coba aja dulu aku ngga buru buru kawin dan ikut kamu merantau ke kota mungkin nasibku kayak kamu Rin, punya pacar orang Korea dan kaya.


Norin hanya tersenyum kecut." andai kamu tau yang sebenarnya sus, mungkin kamu akan menertawakan aku." Norin bermonolog.


__ADS_2