
"Nggak, aku alergi sama wanita bawel aja." ucapnya santai
"Hahaha, baguslah kalau alergi, berarti saya aman." ucapku tersenyum
"Ngomong-ngomong, kamu koq tahu banyak hal tentang Nathan, bahkan makanan yang dia tidak suka, terus bisa sarapan bareng, aku curiga, apa kamu selingkuhan dia." tanyanya menyelidiki
"Hah? selingkuhan apa sih ! yaa saya tahu makanan yang dia tidak suka karena dia cerita lah, kalau masalah sarapan bareng yaa jelas aja bareng kan saya tinggal di Paviliun Pak Nathan." ucapku keceplosan
"A...apa?." ucapnya menggebrak meja makan
Lalu pengunjung lain menatap kami sinis.
"Waduh gawat aku keceplosan lagi." ucapku lirih
"Huss jangan berisik Pak, Bapak kira ini rumah Bapak apa, pakai segala gebuk-gebuk meja, kasihan lho Pak mejanya kan nggak salah !" ucapku mengalihkan pembicaraan
"Iya maaf aku kaget, aku gak percaya aja, kamu koq bisa tinggal di sana? coba jelasin !" ucapnya
"Iya pas saya datang ke Bandung, temen saya Mimin ngajak saya cari kos dekat Kafe, eh taunya ketemu Pak Nathan, jadinya ditawari tinggal gratis di Paviliun kosongnya, yaudah saya mau, lumayan kan, lagian saya di sana terpisah tempat sama Pak Nathan, saya kan dibelakang, terus juga ada asisten rumah tangga dia juga, jadi amanlah." ucapku santai
"Oh begitu, nanti kalau kamu sudah jadi pacar bohongan aku, kamu pindah aja, masa pacar Satrio tinggal dirumah cowok lain." ucapnya ketus
"Ya Bapak emang ngasih uang ke saya, tapi bukan berarti Bapak bisa ngatur saya seenaknya dong, saya masih mau disana pokoknya." ucapku tegas
"Oh gitu, apa jangan-jangan kamu suka sama Nathan?" tanyanya melotot
"Ya nggak lah, bukan gitu Pak, saya sudah janji akan menemani asisten rumah tangga Pak Nathan, namanya Bi Asih, dia sudah seperti Ibu saya sendiri." ucapku takut salah ucap
"Ok baiklah, kalau memang mau mu begitu, tapi sewaktu-waktu kalau kamu mau pindah atau beli rumah, kasih tahu aku saja, oh ya uang yang kamu minta, nanti malam akan aku transfer." ucapnya
"Makasih Pak, maaf saya jadi banyak merepotkan Bapak, saya juga terpaksa minta uang secepatnya, karena itu untuk keluarga saya dikampung, terutama untuk biaya Adik-adik saya sekolah dan biaya Bapak dirumah sakit." ucapku pelan
"Iyaa nggak apa-apa, kapanpun kamu butuh uang laporkan saja ke aku, kalau memang Bapakmu sakit, nanti kita jenguk saja, kalau perlu besok, nanti biar aku izinkan ke Nathan." ucapnya padaku
"Eh yang bener Pak, tapi jangan besok deh, saya nggak enak, masa baru kerja sudah libur, gimana kalau 3 hari lagi? itu saya bisa tuh ambil libur." ucapku antusias
"Ok, baiklah terserah kamu aja, selama aku nggak sibuk , aku pasti bantu kamu, bagaimanapun kalau kita punya orang tua kita harus pandai menjaga nya, sebelum Tuhan mengambil mereka." ucap Pak Satrio berkaca-kaca
__ADS_1
"I..iya Pak." ucapku pelan
Sebenarnya aku malas sih pergi ke kampung berduaan sama dia, tapi demi Bapak nggak apa-apa lah, sekalian aku mau ngenalin dia ke keluarga ku, supaya mereka gak mendesak aku nikah, lagian ini kan udah jadi kesepakatan bersama, apa salahnya aku manfaatin kontrak ini.
Ditengah lamunanku, tiba-tiba pesanan kami sudah datang dan ditaruh di meja.
"Makasih yaa Uda." ucapku pada pemilik warung langganan ku
"Iyo Neng Nadia, selamat menikmati bareng pacar nya." ucap Uda meledek
"Ih uda apaan sih." ucapku kesal
Lalu Uda Ramdan hanya tersenyum dan meninggalkan kita.
Aku pun langsung mencuci tangan di wadah air yang disediakan. Dan sepertinya Pak Satrio jijik dan nggak paham.
"Pak, udah cuci tangan disitu, kalau makan disini nikmatnya pakai tangan , nggak pakai sendok dan garpu." ucapku menahan tawa
"Ih koq gitu sih, menjijikkan banget, aku itu gak pernah makan nggak pakai sendok." ucapnya frustasi
"I..iya, baiklah, terpaksa deh , habis lapar banget." ucapnya menggerutu
Lalu ku perhatikan dia tampak masih jijik dan mencelupkan tangannya ke wadah cuci tangan lalu dia mengelap tangannya dengan tissue.
"Yuk Pak kita makan, jangan lupa doa dulu biar setan gak ikut Bapak melulu, ntar ngomel-ngomel mulu, selamat makan calon pacar bohongan." ucapku meledek
Dia pun hanya diam dan terlihat kesal, kamu ku perhatikan akhirnya dia melakukan suapan pertama dari tangannya. Awalnya jijik namun lama-kelamaan malah lahap, seperti orang kelaparan selama 3 hari.
Aku termenung tidak percaya, malah aku yang kelaparan saja belum sempat menyuap, lah dia malah udah habis dan minta tambah + air mineral.
"Hei malah bengong, katanya lapar, malah ngeliatin aku terus, kamu naksir yaa, yah nggak heran sih, emang aku kan idola para perempuan."ucapnya percaya diri
"Dih, siapa yang terpesona, yang ada saya bingung, katanya jijik lah malah nambah, aneh banget kayak orang kelaparan." ucapku kesal
"Ya emang aku lapar, dari pagi aku kan gak sarapan, habis pacar aku malah bikin sarapan buat cowok lain." ucapnya menggoda
Karena aku malas bicara, akhirnya aku langsung makan saja.
__ADS_1
Akhirnya kami selesai makan, tiba-tiba ada anak kecil yang mengamen diluar warung dan diusir, lalu Pak Satrio membelanya.
"Bu, maaf jangan usir dia, biar dia menghibur kami disini, kasihan dia seperti nya kelaparan." ucap Pak Satrio
"Oh iyaa maaf Pak, kamu anak kecil silakan masuk." ucap Uni
"Makasih Uni, makasih om Tante." ucap Anak itu
"Baik saya akan bernyanyi buat kalian suami istri yang baik." ucapnya
"Eh eh dek, kami belum nikah dan bukan suami istri." ucapku kesal
"Huss, udah biarin aja sih, dek kamu nggak usah nyanyi, sini makan aja disini, biar om yang bayarin." ucap Pak Satrio
"Makasih om, tapi saya mau bawa pulang aja boleh?, kasian emak lagi sakit dan Adik-adik saya juga masih kecil." ucap anak yang umurnya sekitar 8 tahun itu
"Lho Ayah kamu kemana dek, kasian udah kerja masih kecil juga?." tanyaku
"Maaf Tante, Ayah saya sudah meninggal sejak saya usia 6 tahun dan Ibu tidak menikah lagi." ucapnya sedih
"Maafin Tante yaa adik kecil, sekarang kamu duduk sini." ucapku sambil memberikan kursi
"Udah kamu nggak boleh sedih, Om juga sudah nggak punya orang tua sejak kecil, sekarang kamu makan , nanti Om belikan juga untuk Adik-adik mu dan Ibu mu." ucap Pak Satrio
"Makasih yaa Om Tante." ucapnya kegirangan
Lalu Pak Satrio memesan makanan yang banyak untuk anak itu.
"Dek, nanti makanan nya kamu ambil yaa, sudah Om bayar, ini ada uang sedikit untuk biaya berobat Ibu mu." ucap Pak Satrio sambil memberikan uang Rp 1.000.000,-
"Ya Allah makasih banyak Om Tante." ucapnya sambil menangis
"Iya sama-sama, kamu taruh uangnya ditasmu yaa, jangan sampai ada yang mengambil nya." ucapku hanya bisa memberi pesan padanya, karena uangpun aku tak bawa
Lalu akhirnya Anak itu makan , aku dan Pak Satrio kembali ke Kafe lagi, nggak menyangka dibalik tingkah menyebalkan nya dia ternyata orang baik. Bahkan aku saja dibayarin.heheh
*Author jadi bingung pilih Satrio apa Nathan yaa? Kalau kalian jadi Nadia gimana?
__ADS_1