
Dia tadi sempat meringis menahan sakit dan bahkan aku juga sempat melihatnya memegang lututnya karena tidak tahan merasakan rangsangan rasa sakit.
"Ini tidak serius, hanya luka kecil." Dia jelas berbohong.
"Lalu.. istirahatlah di sini. Bila sudah merasa lebih baik Ustad sebaiknya segera pergi agar tidak menimbulkan fitnah."
Aku ingin berbalik kembali ketempat tidurku tapi Ustad Azam memanggilku agar jangan pergi.
"Jangan pergi, duduklah di sini dan mari bicarakan hubungan kita."
Ah, kenapa dia ingin membicarakan masalah ini di waktu yang tidak tepat? Saat ini aku sudah tidak punya keberanian lagi untuk terus berhadapan dengannya.
"Tidak bisa, aku takut ada yang datang dan berpikir yang macam-macam tentang kita berdua."
"Kami tidak perlu khawatir, Ustad Vano sudah mengisolasi lantai ini sehingga tidak ada yang berani naik ke sini."
Ah, apa ini hanya kebetulan saja?
Aku dengar biasanya lantai dua selalu terbuka untuk santri laki-laki bila jam malam kami sudah habis.
"Duduklah, lebih baik kita memanfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan masalah kesalahpahaman yang terjadi diantara kita."
__ADS_1
Aku sangat gugup. Aku ingin pergi tapi hatiku menolak pergi menjauh karena aku masih sangat-sangat mencintainya. Lalu, bila semua kesalahpahaman dijernihkan, apakah kami bisa kembali melanjutkan hubungan ini?
"Kita bisa membicarakan besok." Karena aku sangat malu berhadapan dengannya saat ini.
"Lebih cepat lebih baik." Sudah jelas dia menolak saran ku.
"Baik.. baiklah." Terpaksa aku mendudukkan diriku di lantai dengan jarak yang lebih jauh lagi dari sebelumnya. Tapi kami masih bisa saling mendengar dari jarak sejauh ini.
"Aku telah mendengar semuanya."
"Aku tahu." Karena itulah aku tidak berani melihat mu!
"Pertama, aku tidak pernah memutuskan pertunangan kita. Saat itu orangtuamu tiba-tiba berkunjung ke rumah ku dan berbicara dengan kedua orangtuaku. Mereka bilang kamu ingin mengakhiri pertunangan kita dengan alasan kamu ingin fokus sekolah dulu dan tidak ingin memikirkan masalah percintaan sebelum benar-benar dewasa. Aku awalnya menolak permintaan mereka karena meskipun kita bertunangan kita tidak pernah bertemu sejak aku pergi mondok. Tapi mereka bersikeras memutuskan dengan alasan ini adalah permintaan langsung darimu. Aku kecewa, terpaksa mengabulkan permintaan mereka dengan syarat kamu harus mondok di sini."
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"Mega, ini adalah kebenaran yang sebenarnya. Aku tidak pernah ingin membatalkan pertunangan kita, tapi itu kamu, orangtuamu mengatakan jika kamulah yang ingin membatalkan pertunangan kita. Saat itu aku sungguh sangat marah tapi tidak bisa menghubungimu meskipun aku menelpon berkali-kali. Bahkan pesan yang aku kirim pun tak satupun yang kamu balas. Apakah semua tindakanmu ini adil untukku?" Nada suaranya agak lebih tinggi, dia tidak seperti Ustad Azam yang selalu aku lihat.
Tapi apa yang dia katakan tentang aku sepenuhnya tidak ada yang benar. Aku tidak pernah meminta permintaan konyol itu kepada kedua orangtuaku dan aku bahkan tidak pernah berpikir akan memutuskan pertunangan dengan Ustad Azam, cinta pertamaku!
"Ini semua tidak benar, apa yang Ustad katakan sangat bertolakbelakang dengan apa yang aku alami. Hari itu.. kedua orangtuaku tiba-tiba pulang dengan wajah masam. Mereka mengatakan jika Ustad sendirilah yang ingin memutuskan hubungan pertunangan kita karena Ustad ingin fokus menuntut ilmu dulu. Mama dan Papa mengatakan itu kepadaku jadi bagaimana mungkin mereka mengatakan hal yang berbeda kepada, Ustad?"
__ADS_1
Aku sungguh tidak mengerti ini.
"Aku pun tidak tahu tapi demi Allah, semua yang aku katakan ini benar, Mega. Jika kamu tidak percaya maka bertanyalah kepada kedua orang tuaku." Dia sungguh sangat serius.
"Bila apa yang Ustad Azam katakan tadi benar lalu kenapa ada foto Kak Sasa di ponsel, Ustad?"
Dia tidak bisa membatah mengenai foto ini karena aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri.
"Sasa, memangnya salah menyimpan foto adik sendiri?
Hah, adik?
Bagaimana.. mungkin-ah, Sasa..Sasaqila Arumi?
Dia.. adalah Arumi?
"Maksud Ustad, dia adalah Arumi?"
"Ya, siapa lagi jika bukan dia."
Ya Allah, aku sangat shock!
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku tidak menyadari bila Sasa adalah Arumi, adik kandung Ustad Azam yang sudah bertahun-tahun pergi mondok mengikuti Ustad Azam.