
"Itu..aku diberitahu oleh Bu guru Dinda. Dia bilang..dia bilang ada monster di sekolah ini. Bu guru juga mengatakan kepadaku bahwa dia ingin monster itu keluar dari sekolah ini sehingga dia memintaku untuk menyebarkannya ke teman-teman di kelas. Aku..aku sama sekali tidak bersalah di sini..aku melakukannya agar Bu guru Dinda tidak marah.." Mega akhirnya mengakui.
Sambil terisak dia menceritakan semuanya kepada mereka. Termasuk apa yang Dinda katakan kepadanya beberapa hari yang lalu.
"Dinda.." Safira menghirup udara dingin.
"Aku tahu wanita ini tidak mudah." Katanya sambil menatap Ali. Suaminya menjadi semakin bersalah, hanya karena penolakannya 2 tahun lalu Dinda terus saja mengganggu istri serta anaknya.
Namun kali ini masalahnya sudah sangat serius, Ali tidak akan melepaskan masalah ini dengan mudah lagi.
"Tapi meskipun begitu langkahmu tidak sepenuhnya dibenarkan. Bukankah masih bisa bertanya kepada kedua orang tuamu apa langkah ini benar atau tidak-oh, aku lupa bila mereka juga punya pendapat yang sama dengan dirimu. Hah, benar-benar kekanak-kanakan. Sekarang," Dia menoleh menatap wanita glamor itu.
"Katakan kepadaku dengan jujur apakah anakmu pantas mendapatkan semua ini atau tidak setelah melihat kelakuannya?"
"Dia..dia pantas mendapatkannya. Nyonya tenang saja karena setelah ini aku akan mendisiplinkan anakku!" Jawabnya panik.
Safira tersenyum tipis,"Tapi bagiku ini masih belum pantas karena apa yang dia lakukan terlalu kejam untuk kesehatan mental Ai. Adapun hukuman yang dia dapatkan akan ditanggung oleh kalian berdua selaku orang tua. Mas, setelah ini aku menyerahkan semuanya kepadamu." Kata Safira ringan namun masih di dengar oleh mereka.
__ADS_1
"Pak Presdir.. masalah ini kami akan bertanggungjawab sepenuhnya dan tolong maafkan sikap putri kami yang tidak disiplin." Suami wanita glamor itu berusaha bersikap baik di depan Ali.
Ali mengangguk singkat,"Bagus, inilah yang aku inginkan. Untuk itu aku memutuskan pekerjaan mu akan diambil alih oleh dia-" Ali menunjuk Papa Rina.
"Dan pekerjaan dia akan diambil alih oleh dirimu. Dari kejadian ini kamu harus belajar bahwa dalam urusan apapun kamu tidak bisa menggunakan kekayaan sebagai ukuran rendahnya seseorang. Tapi gunakanlah pikiran mu yang jernih agar masalah ini tidak terulang lagi. Setelah pulang dari sini, kalian berdua bisa melapor ke bagian personalia untuk pergantian posisi." Ucap Ali final.
Dia memang kejam tapi dia masih memberikan Papa Mega kesempatan untuk tetap bekerja di perusahaannya. Meskipun posisinya tidak setinggi sekarang tapi ini lebih baik daripada Ali memberhentikannya bekerja.
"Pak Presdir, Anda tidak bisa melakukan itu. Aku bekerja keras untuk sampai ke posisi ini dan itu bukanlah perjalanan yang mudah!" Papa Mega panik, wajahnya pucat pasi dan bahkan suaranya terdengar bergetar.
"Bila kamu tidak bisa menerimanya maka aku tidak akan memaksa. Silakan kemari semua barang-barang dan pindah ke perusahaan lain yang lebih baik. Mungkin di perusahaan lain kinerja mu masih bisa diterima dengan baik. Juga, kamu harus tahu bahwa aku tidak butuh karyawan yang angkuh sekalipun mereka itu cerdas dan mampu. Namun, kemampuannya tidak akan berguna bila moralitas mereka kosong. Sekarang, apa kamu ingin mengeluh lagi?" Ujar Ali tidak ingin pusing.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ
wa laa tusho''ir khoddaka lin-naasi wa laa tamsyi fil-ardhi marohaa, innalloha laa yuhibbu kulla mukhtaaling fakhuur
__ADS_1
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman 31: Ayat 18)
"Pak..apa yang Anda katakan tadi itu benar?" Papa Rina ikut berdiri ketika melihat Ali dan keluarganya akan pulang.
Ali tersenyum,"Aku melihat kesabaran dan kerendahan hatimu, Allah sangat mencintai orang-orang yang bersabar dan rendah hati. Oleh karena itu aku memberikan posisi itu untuk kamu meskipun hadiahku tidak sehebat milik Allah. Namun walaupun begitu, ini adalah bentuk syukur ku karena telah dipertemukan dengan orang-orang yang mencintai Allah pula. Pak, aku akan menunggu ide-ide terbaik mu." Kata Ali sopan dan ramah sambil menjabat tangan Papa Rina.
"Alhamdulillah.. terimakasih, Pak. Terimakasih!" Papa Rina terus saja mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada Ali, sedangkan Papa Mega di samping sudah lemas duduk tidak berdaya di sofa.
Karir yang sudah susah payah dia bangun dalam sekejap runtuh. Dia sudah selesai.
Bersambung..
Ada yang ingat dengan Davin dan Rein?
Hehe rencananya saya mau buat novel tentang mereka tapi dicicil gitu. Kira-kira ini cocok gak kalau saya buat dengan tema kelahiran kembali atau semacamnya?
Yang jelas bukan islami, heheh..
__ADS_1
Lanjut?