Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 27.2


__ADS_3

Dinda membeku di tempat. Kakinya terasa kaku dan berat tidak bisa digerakkan. Tenggorokannya kering, dia membuka mulut beberapa kali ingin berbicara tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia sangat terkejut sampai tidak bisa berbicara atau menggerakkan tangannya. Tapi detak kuat jantungnya ketika melihat amplop putih tidak bisa dikendalikan.


Itu sangat sakit, sungguh sangat menyakitkan.


"Bu Dinda akan ikut bersama kami ke kantor polisi. Setelah di sana Bu Dinda bisa memilih dan memutuskan untuk menggunakan jasa pengacara dari kepolisian atau jasa pengacara dari luar." Polisi itu lalu mengangguk ringan kepada polwan cantik yang ada di belakangnya.


Polwan itu kemudian mendekati Dinda setelah menerima sinyal. Mengeluarkan borgol dan memakaikannya di kedua tangan Dinda.


"Bagaimana bisa..aku sama sekali tidak bersalah!" Dinda baru tersadar ketika logam dingin itu menyentuh kulit putihnya yang terawat dengan baik.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah dan aku difitnah!" Teriaknya semakin menarik perhatian banyak orang.


Orang-orang yang awalnya diam-diam mengintip kini berdatangan mendekati ruang guru. Mereka melihat wanita cantik meronta-ronta histeris dengan tangan terborgol tidak mau dibawa oleh polisi.


"Pak kepala sekolah! Pak kepala sekolah tolong aku! Katakan kepada mereka jika aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah!" Dinda berusaha melepaskan diri dari kedua polwan yang sedang mengapitnya. Berjuang keras ingin mencari perlindungan dari kepala sekolah.


Kepala sekolah hanya menatapnya datar. Wajah ramah yang biasanya terbentuk di sana segera menghilang digantikan dengan ekspresi dingin yang membuat Dinda takut.


"Maaf Bu Dinda, tapi sekolah ku tidak membutuhkan seorang penjahat di dalamnya. Sudah cukup satu anak menjadi korbannya, sisanya aku tidak ingin melihat mereka merasakan yang sama."


"Penjahat?" Orang-orang mulai berbisik.


Mereka saling pandang dengan kejutan yang tidak bisa disembunyikan.


"Apakah Bu Dinda pernah menyakiti seorang anak?"


Mereka kenal Dinda. Reputasinya di sekolah dan di hati para orang tua sangat bagus. Dia cantik juga ramah, berhati lembut dan mudah berkomunikasi dengan anak-anak. Jadi, banyak dari mereka yang menyukainya.


Namun sekarang, ketika mereka melihat dia ditangkap polisi di dalam ruang guru membuat mereka dilanda kejutan. Mereka tidak menyangka wanita lembut ini ternyata menyimpan bisa dihatinya.


"Aku dengar beberapa hari yang lalu ada seorang siswa yang menjadi korban pembulian!" Mereka ramai berkumpul.


"Benar! Anakku kebetulan satu kelas dengan anak itu! Kasihan sekali, kecil-kecil anak itu sudah diuji mentalnya."


"Eh..dia juga terlibat kasus percobaan penculikan! Aku mendengarnya saat polisi membacakan surat penangkapannya!" Salah satu Ibu-ibu rempong ikut berbicara.

__ADS_1


"Astagfirullah, aku tidak percaya dia punya sisi ini. Padahal dia sangat lembut kepada anak-anak.." Yang lain berbisik masih belum bisa mempercayainya.


"Ini adalah pelajaran agar kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja.. contohnya seperti kasus ini. Untung saja polisi sudah bergerak cepat menangkapnya. Jika tidak, anak-anak yang akan menjadi korban selanjutnya mungkin adalah anak kita!"


"Mengerikan! Aku akan gila jika anak ku disakiti."


Semua suara-suara itu tidak bisa Dinda hentikan atau lebih tepatnya dia tidak perduli karena saat ini otaknya seolah membeku ketika mendengar kata 'penjahat' keluar dari mulut kepala sekolah.


"Pak..bukan aku yang menjadi penjahat di sini! Itu bukan aku! Itu adalah.." Linglung, kepalanya mulai berdengung. Ingatan-ingatan rasa sakit yang tidak ada habisnya menghujani kepala Dinda.


Ingatan akan hari dimana dia melihat kasih sayang Ali kepada Safira, ingatan akan hari dimana dia melihat Ali tertawa bersama dengan Safira dan Ai, ingatan akan hari dimana dia melihat si kembar berada di dalam pelukan masing-masing, ingatan akan hari dimana dia melihat Ali menatap Safira dengan penuh cinta..


Tatapan yang selalu dia impi-impikan.


Semuanya..


Semuanya diambil oleh Safira. Perhatian, tawa, kasih sayang, cinta, dan kebahagiaan itu.. harusnya menjadi miliknya. Tapi itu semua karena Safira!


Dia merenggut apa yang seharusnya menjadi miliknya!


Bahkan air mata yang menyesakkan mulai mengalir dari sudut matanya. Dia menangis..


Untuk semua rasa sakit dan kekecewaan yang telah memenuhi hatinya, dia menangis untuk semua itu!


"Jika Safira tidak mengambilnya dariku! Jika Safira tidak merebutnya dariku! Maka semua ini tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan pernah merasa sesakit ini..hiks.."


"Dia mulai gila.."


"Apa dia punya gangguan kejiwaan?" Bukannya bersimpati orang-orang malah berpikir bila Dinda punya masalah dengan kejiwaannya.


Mereka tidak pernah tahu dan mau mengerti bahwa rasa sakitnya mendambakan seseorang seringkali menjerumuskan mereka ke jalan yang salah. Karena itulah,


Allah selalu meminta hamba-Nya untuk selalu mencintai-Nya. Buat Allah jatuh cinta karena ketika Allah mencintai hamba-Nya, Dia tidak akan membuat hamba-Nya kecewa karena sebuah pengharapan.


Allah akan memberikan yang terbaik untuk kekasih-Nya, membuat mereka bahagia dan semakin dekat dengan-Nya.

__ADS_1


Ketika hati dipenuhi akan rahmat Allah, percayalah rasa bahagia itu tidak akan pernah terukur nikmatnya. Kesejukan dan ketenangan hati tidak akan pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata karena rasanya Allah begitu dekat.


Sangat dekat sampai rasanya seorang hamba dipenuhi oleh rasa rindu kepada-Nya yang tidak tertahankan. Mereka adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang sudah dengan gagah berani melepaskan dunia untuk cinta yang terukur indahnya.


Benar, mereka adalah para penghuni surga yang membuat iri para bidadari surga, Allah'ualam Bishawab.


"Bawa dia keluar." Perintah polisi itu kepada bawahannya.


Dia kemudian menoleh menatap kepala sekolah dan guru-guru yang lainnya. Polisi tersebut mengucapkan terimakasih untuk kerjasama mereka sebelum menyusul bawahannya ke mobil.


Di sepanjang jalan menuju mobil Dinda terus saja berteriak dan meronta-ronta sembari menyalahkan Safira. Akan tetapi semakin dia berteriak dan membuat masalah semakin kuat pengekangan kedua polwan itu menjaganya sampai akhirnya Dinda menyerah.


Dia tidak rela tapi terpaksa masuk ke dalam mobil polisi. Air matanya tidak berhenti mengalir, membasahi wajah cantiknya yang kini telah berubah menjadi pucat pasi.


"Ya Allah..aku tidak salah, aku tidak salah! Ini adalah salah Safira dan bukan aku. Bukankah Engkau lebih tahu dari mereka jadi katakanlah kepada mereka bahwa aku tidak bersalah! Katakan dan jangan diam saja hiks.." Isaknya kembali menangis.


Ya Allah.. bagaimana mungkin Engkau begitu tidak adil kepadaku?


Setelah memberikan Mas Ali kepadanya kini Engkau permalukan aku di depan banyak orang! Hilang!


Hilang sudah harapan hidupku. Karirku hancur dan semua orang memandangiku sebagai penjahat yang mengerikan!


Ya Allah, bukankah Engkau begitu tidak adil terhadap hidupku?


Bagaimana mungkin Engkau hanya menganggap hidupku sebagai lelucon saja?


Katakan, dimana belas kasih Mu!


Dimana belas kasih Mu ya Allah, dimana!


BERSAMBUNG...


2 hari lagi Tamat, yey!


Maaf telat update, badan saya dari semalam meriang💚

__ADS_1


Kalau ini up tanggal 30 berarti NovelToon gangguan


__ADS_2