
"Begini," Dia meraih tangan Safira dan menggenggamnya lembut.
"Bila kamu masih tidak tahu artinya Ali belum menceritakannya. Tiga tahun lalu Bunda pernah mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sejujurnya Bunda tidak mengalami luka serius, hanya kulit bagian betis Bunda saja yang robek." Katanya sembari menunjukkan bekas luka jahit di betis sebelah kanan.
Lukanya sangat panjang.
Safira saja sampai bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1
"Ini bukan luka yang serius tapi karena ambulans datang terlambat Bunda kehilangan banyak darah. Alhasil masalah yang tidak serius menjadi serius. Bunda kekurangan darah dan membutuhkan donor darah golongan O. Pada saat itu rumah sakit kehabisan stok darah jadi mau tidak mau mereka harus pergi mencari ke rumah sakit lain. Di samping itu darah Ayah dan Ali tidak cocok untuk golongan O, hanya Sifa yang cocok. Namun Sifa masih belum cukup umur untuk memenuhi persyaratan sebagai pendonor. Tapi Allah berkehendak lain, saat itu Dinda kebetulan datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan anak-anak disabilitas, dokter bilang Dinda memang sudah biasa datang berkunjung ke rumah sakit untuk menghibur pasien anak-anak. Dia melihat rumah sakit kebingungan mencari stok darah untuk golongan O jadi dia menawarkan diri untuk donor darah karena darahnya juga golongan O. Jadi dari sanalah pertemuan Bunda dengan Dinda, semua diawali dari hari itu. Kemudian Ali dan Dinda bertemu karena kecelakaan Bunda, tapi itu sangat singkat karena Ali harus bergegas ke pondok untuk mengurus pengunduran dirinya. Bagi Ali pertemuan itu tidak ada apa-apanya namun bagi Dinda tidak. Dia meminta kedua orang tuanya bertemu dengan kami untuk membicarakan masalah perjodohan. Tapi Ali langsung menolak perjodohan tersebut dengan alasan dia sudah punya seseorang di hatinya. Lalu, setelah penolakan itu Dinda tidak pernah terlihat lagi dan menghilang tanpa kabar. Bunda merasa tidak enak kepadanya dan belum sempat berterima kasih secara serius. Jadi, Bunda meminta Ali mencari Dinda. Bila bertemu, Ali harus membawa Dinda bertemu dengan Bunda. Nah, jadi kedatangan Dinda malam itu adalah karena permintaan Bunda untuk menyampaikan rasa terimakasih yang tertunda. Nak, secara garis besar Ali tidak pernah menganggap Dinda lebih dari seorang kenalan, tidak hanya Dinda namun ini berlaku untuk semua wanita yang mendekati Ali. Sungguh, Bunda tidak pernah berharap bila Dinda masih menyukai Ali sampai sekarang hanya karena pertemuan singkat itu. Bahkan Bunda tidak menyangka karena permintaan Bunda tiga tahun yang lalu rumah tangga kalian harus diganggu oleh Dinda. Bunda pikir dia sudah melupakan Ali sejak hari itu, tapi tidak menyangka bukannya melupakan Dinda malah semakin berulah." Sepanjang Bunda menceritakan tentang awal mula pertemuannya dengan Dinda, Safira tidak pernah bersuara.
Dia diam mendengarkan di samping tapi hatinya kembali berdenyut sakit karena menyesal telah menuduh suaminya melakukan hal-hal yang buruk.
Ali setia kepadanya jadi bagaimana mungkin dia meragukannya?
Ali tidak mau.
__ADS_1
"Adapun mengenai wanita yang dia gunakan sebagai alasan hari itu untuk menolak Dinda memang benar adanya. Dia sudah mempunyai seseorang di dalam hatinya sejak 11 tahun yang lalu."
Deg
Jantung Safira berpacu cepat. Ada harapan sekaligus ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Satu tahun yang lalu Ali pernah mengatakan bila dia sudah menyukai Safira sejak lama. Ayah juga mengatakan hal yang sama kepada Abi, maka mungkinkah perasaan Ali sudah berakar untuk Safira sejak 11 tahun yang lalu?
__ADS_1
Tapi.. bukankah Ali masih 14 tahun pada saat itu?