Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.8)


__ADS_3

"Benar, bukan ada apa-apa?" Mega tidak yakin.


Dia ikut mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya tapi tidak menemukan siapapun. Di sini sunyi, sangat sunyi. Hanya ada mereka bertiga saja di tempat ini.


Ai tersenyum kecil,"Benar kok."


"Tapi Ai, bila benar apa yang rumor katakan dan bila Ustad Vano memang tidak mengenali mu lalu kenapa dia memberikan mu perhatian lebih?" Asri adalah seorang pengamat di sini.


Dia melihat dan memperhatikan bagaimana perhatian Ustad Vano selama ini kepada Ai. Walaupun hanya dua hari tapi perhatian yang Ustad Vano berikan di hari-hari itu terbilang banyak dan terkesan di sengaja.


"Asri jangan salah paham," Ai menyentuh tangan Asri dengan pandangan masih betah memandangi langit malam.


"Apa yang kamu pikirkan tidak seperti itu." Sambungnya dengan suara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Dia sangat tahu kualitasnya sendiri dan dia juga tahu hukum sosial di dunia bahwa orang normal hanya bisa bersama dengan orang normal lainnya.


"Tidak Ai, aku sangat yakin dengan apa yang aku pikirkan ini. Jujur, dari apa yang aku lihat selama dua hari itu hanya Ai satu-satunya santri wanita yang diperhatikan dengan ketat oleh Ustad Vano. Selain daripada Ai, aku tidak pernah melihatnya. Bahkan Ustad Vano terlihat sangat enggan berdekatan atau bahkan berbicara dengan santri wanita lain tapi jika itu Ai, Ustad Vano tampak menikmati setiap waktu kalian bersama."

__ADS_1


Ai memejamkan matanya menahan harapan yang lagi-lagi ingin membumbung tinggi. Tidak, dia harus mengendalikan semuanya dari sekarang. Meskipun Hana pernah memberitahunya jika rumor itu tidak benar bukan berarti wanita beruntung yang mengisi hati Ustad Vano adalah dirinya.


Ai sungguh tidak ingin terlalu berharap karena dia sudah berulangkali merasakan sakitnya jatuh.


Jatuh dari harapan yang tidak sampai, bukankah ini agak ironis?


"Asri, jangan bicarakan lagi tentangnya. Aku takut ada yang mendengar dan menyebarkan rumor buruk lagi tentang Ustad Vano. Dia pasti tidak suka mendengarnya nanti." Ai tidak ingin membicarakan mengenai masalah Ustad lagi.


"Lalu, bagaimana dengan tentang mu dan Ustad Azam? Aku dan Asri sudah menceritakan masalah kami, dan sekarang adalah giliran mu." Ai mengalihkan pembicaraan.


Asri menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Ai sudah tidak ingin membicarakannya maka dia tidak bisa terus membahas topik ini. Asri harus menghormati keinginan Ai.


"Aku tidak tahu." Bisik Mega, memeluk lututnya dengan pikiran yang sudah menerawang jauh ke tempat lain.


"Aku dan dia sudah bertunangan sejak kecil, lebih tepatnya kami dijodohkan." Lanjut Mega mulai mengenang masa lalu tahun-tahun manis tapi nyatanya menipu.


"Aku memutuskan menyukainya, mengikutinya kemanapun setiap kali kami bertemu. Aku mencoba bertingkah lucu dan manis di depannya tapi responnya tidak pernah berubah. Dia masih Ustad Azam yang dingin, datar, dan tidak suka berekspresi. Dulu..yah, dulu sekali aku pikir dia seperti itu karena memang sudah karakter yang terbentuk di dalam darinya. Tapi..aku salah karena dia bertingkah seperti itu kepadaku bukan karena memang sudah karakternya tapi itu karena dia tidak menganggap aku penting sama seperti aku menganggapnya penting. Sampai 2 tahun yang lalu dia tiba-tiba meminta pertunangan kami dibatalkan. Aku tidak percaya dan memilih pergi ke rumahnya untuk memastikannya secara langsung. Dia tidak ada di rumah pada saat itu tapi sebagian besar sepupunya sedang berkumpul di sana. Sembari menunggu kedatangannya aku dan mereka berbincang-bincang ringan seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya. Tapi itu tidak lama karena salah satu sepupunya tiba-tiba memberikan ku ponsel milik Ustad Azam. Ketika layar menyala apa kalian tahu foto milik siapa yang menjadi wallpaper nya?" Mega mencuri pandang melihat ekspresi Asri dan Ai di sampingnya.

__ADS_1


Mereka tampak khusyuk mendengar dan tidak pernah menyela sedikit pun ucapannya.


"Siapa?" Ai balas bertanya.


Mega tersenyum tipis,"Ini foto Kak Sasa, ada fotonya di dalam ponsel Ustad Azam."


"Astagfirullah..apa kamu yakin itu adalah foto Kak Sasa?" Asri menyentuh lengan Mega tidak percaya.


Mega mengangguk ringan.


"Itu adalah foto Kak Sasa, sangat cantik dan manis. Aku akhirnya tahu alasan kenapa Ustad Azam ingin memutuskan pertunangan kami. Dia akhirnya menemukan wanita yang membuat hatinya luluh dan itu nyatanya bukanlah aku."


"Ya Allah.." Ai sama terkejutnya dengan Asri.


Pantas saja Mega selalu acuh tak acuh ketika bertemu dengan Sasa. Mereka tidak mengira jika ada cerita klise dibalik sikap dingin Mega terhadap Sasa.


"Jadi..inilah alasan selama ini kenapa aku selalu menjaga jarak dengan Ustad Azam."

__ADS_1


Asri lagi-lagi mengemukakan pendapatnya sebagai seorang pengamat sejati. Tidak hanya memperhatikan sikap Ustad Vano kepada Ai, dia juga memperhatikan bagaimana sikap Ustad Azam kepada Mega.


"Aku pikir masalah mu dengan Ustad Azam lebih ke salah paham daripada sebuah em.. pengkhianatan." Ujar Asri sambil memperbaiki duduknya senyaman mungkin.


__ADS_2