Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Al sakit


__ADS_3

Norin dan Anisa mendorong motor menuju bengkel yang letak nya cukup jauh. di tengah sedang mendorong motor, mereka menjadi pusat perhatian beberapa laki laki. Dua wanita cantik sedang mendorong motor pemandangan yang langka menurut mereka.


"kenapa motornya Eneng Eneng cantik?" tanya seorang pria.


"ban nya kempes pak," jawab Norin.


"waduh, saya masih muda lho kok di panggil bapak," protes pria tesebut.


"ya mana kami tau bapak itu masih muda atau sudah tua, kenal juga enggak," ketus Anisa.


Pria tersebut menggaruk tengkuknya."perlu bantuan ngga neng?"


"ngga usah, itu suami kami lagi nungguin di depan bengkel,"bohong Anisa.


"oh, jadi neng neng cantik ini udah pada punya suami toh?"


"ya begitulah, udah pada punya anak lagi." kemudian mereka melanjutkan mendorong motor tersebut tanpa menghiraukan pria yang seperti nya masih ingin berbicara dengan mereka.


Tak selang lama, sebuah mobil kecil warna merah berhenti tepat di samping Norin dan Anisa yang sedang mendorong motor. Kemudian kaca mobil tersebut terbuka lebar. Nampak wajah menor seorang wanita yang sangat mereka kenal. Lalu, wanita itupun tertawa terbahak bahak menertawakan Norin dan Anisa.


"Kasian sekali motor kalian, apes banget ya kayak hidup pemiliknya," ejek wanita tersebut.


Norin dan Anisa saling pandang, apa maksud dari ucapan wanita tersebut.


"ngomong apa sih lu sis? upas apes Upas apes," ucap Anisa mulai geram.


"mimpi ketinggian, inginnya jadi nyonya big bos namun pada akhirnya di putusin...malu nya tuh di sini ( menunjuk wajahnya ) dan sakitnya tuh di sini ( menunjuk dadanya ) emang udah nasib lho jadi perawan tua tetap akan menjadi perawan tua selamanya haha." Siska yang tampa sengaja mendengar pertengkaran antara Shin dan Norin tadi siang di kantor. Oleh karena itu, hal tersebut ia manfaatkan untuk menjatuhkan mental Norin lagi.


Dada Anisa naik turun, ia sudah benar benar kesal dan hendak mendekati wanita tersebut. Namun, tangannya di cekal oleh Norin dan menggeleng.


"dia itu kurang ajar kalau di biarkan aja Rin, biar aku tarik bibir tebalnya itu." ucap Anisa dengan menggebu gebu.


"Cih, lu juga calon janda, berani lu ngelawan gue? kalian itu memang sepasang sahabat sejati yang klop. yang satu perawan tua, dan yang satu lagi calon jendes, ha ha ha."


"brengsek lu ja la ng, awas aja lu gue plintir leher lu." Norin masih mencekal kuat lengan Anisa, ia takut temannya itu kalap lalu menyerang wanita yang sudah menghina mereka.


"ha ha kasian banget sih hidup kalian apesss banget kayak motor jelek lu itu. ngga kayak hidup gue yang mulus kayak mobil gue ini."


"dih, belagu banget lu sis, mobil seken dapat kreditan aja di banggain. sama kayak diri lu, perempuan seken yang di gilir sama om om...ha ha lu pikir gue ngga tau apa kerjaan lu selain kerja di kantor? dasar pe re k." balas Anisa geram.


Wajah Siska memerah dan ia hendak turun. Namun, sebuah mobil besar di belakang mobilnya membunyikan klakson karena mobil Siska menghalangi jalannya.


"awas aja lho janda, urusan kita belum kelar," ucap Siska lalu melajukan mobilnya.


"Dasar perempuan sundel yang ngga pernah ngaca," umpat Anisa kesal.


"udah lah Nis, yuk buruan dorong lagi bentar lagi tuh di depan. keburu maghrib nih."


Kemudian mereka melanjutkan lagi mendorongnya hingga sampai di bengkel.


"wah, neng kenapa motornya?" tanya tukang bengkel di pinggir jalan.


"kempes mang."


"yaudah neng saya kerjakan sekarang, Eneng Eneng duduk dulu aja ya."


Anisa dan norin menunggu sambil duduk di kursi plastik. di tengah penantian mereka tiba tiba, sebuah mobil silver berhenti di pinggir jalan.


"Anisa, Norin...!" teriak seorang pria.


Anisa dan Norin menoleh pada mobil yang berhenti tersebut.


"Youn....!" ucap mereka bersamaan.


Youn turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati dua wanita yang tengah menatapnya heran. Norin dan Anisa berdiri bersamaan.

__ADS_1


"Youn, kenapa kamu bisa ada di sini ?" tanya Norin. Norin heran kenapa pria asing itu ada di jalan alternatif karena Youn orang baru mana mungkin ia tau jalan tersebut.


"aku tadi mengikuti kalian dari perusahaan," jawab Youn jujur."


"jadi, kamu membuntuti kami ?" tanya Anisa.


Youn tersenyum lalu menggaruk tengkuknya.


"kamu seperti pria pengangguran saja Youn, mengikuti kami hingga kemari," ucap Norin.


Youn tersenyum lebar." iya, aku di sini memang pengangguran. Oleh karena itu aku mau cari pekerjaan di kota ini ha ha ha."


"terus, ada perlu apa kamu membuntuti kami hingga kemari?"


"tidak ada, hanya ingin bertemu saja."


"mau bertemu dengan siapa ?" tanya Norin lagi.


Youn melirik pada Anisa lalu menggaruk tengkuknya.


Norin yang mengerti lirikan mata Youn pun tersenyum tipis.


"dia masih istri sah orang Youn, jangan macam macam."


Anisa dan Youn tersentak lalu saling berpandangan. Kemudian Youn mengalihkan lagi pandangannya ke arah Norin.


"kau Rin, mana mungkin aku berbuat macam macam dengan istri orang. jangan kau pikir aku berani padanya."


Norin mencebik kan bibirnya."eem, jangan seperti itu nanti kau bisa jatuh cinta. kalau sudah jatuh cinta bagaimana?" goda Norin.


"ish...kau ini Rin, aku tidak mungkin jatuh cinta pada istri orang."


"kalau dia bukan istri orang lagi apa kamu akan jatuh cinta? goda Norin lagi.


"ya, ya...te..tergantung," ucap Youn dengan gugup sambil melirik ke arah wanita yang sedang menunduk.


"kalian sedang apa di sini?" tanya Youn tiba tiba mengalihkan pembicaraan.


"lihat tuh, kami sedang menunggu motor," tunjuk Norin pada motor yang tengah di kompa.


Youn manggut manggut.


drt drt drt...


ponsel Anisa bergetar lalu ia merogoh nya yang ia simpan di dalam tas. Sebuah telpon masuk dari ibunya di rumah.


"apa mah, Al demam lagi?"


"iya mah, iya Anis akan segera pulang."


"Nis, kenapa dengan Al?" Norin ikut panik mendengarnya.


"Al demam tinggi Rin, apa motornya masih lama Rin?"


"mang apa masih lama?" tanya Norin pada tukang bengkel.


"belum nemu yang bocornya neng."


"biar saya yang antar kamu pulang," ucap Youn tiba tiba.


Anisa terperangah dan menatap pada pria tampan itu.


"hei, kenapa bengong, aku serius. aku mau antar kamu pulang."


"iya Nis, lebih baik kamu pulang dengan Youn sekarang."

__ADS_1


"tapi, bagaimana dengan kamu Rin?"


"ngga usah menghiraukan aku, udah cepetan pulang, kasian Al."


"come on." Youn reflek menggandeng lengan Anisa dan menuntunnya hingga ke mobil lalu membukakan pintu untuk wanita tersebut.


"masuk lah." Anisa menurut. Ia memasuki mobil tersebut.


Sepanjang jalan Anisa gelisah, duduknya pun tak tenang.


" jangan cemas. percaya padaku Al, pasti baik baik saja."


Norin melirik pada pria di sampingnya lalu kembali duduk tenang.


Tiba di rumah, Anisa mendapati ibunya sedang menangis histeris melihat cucunya kejang kejang. Tidak biasanya Al kejang kejang seperti itu. Anisa ikut panik dan menangis dan hendak mendekapnya.


"jangan di dekap Anisa, tidur kan dan miringkan ke samping," ucap Youn tiba tiba nyelonong masuk ke kamar Bu Nia.


Anisa diam sejenak ia ragu. Namun kemudian, ia teringat bahwa Youn adalah seorang dokter. Lalu, Anisa mengikuti perintah Youn membaringkan Al dan memiringkan nya. Youn mendekati balita itu, memeriksa tubuhnya dengan telapak tangannya.


"panas sekali," gumam Youn.


"coba tolong ambilkan air kompres," titah Youn.


Anisa segera mengambil air untuk kompres. Setelah itu, ia memberikannya pada Youn.


Youn menerima air kompresan dari Anisa lalu mengompres kepala Al selama dua menit hingga kejangnya reda.


"Ayok Anisa, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Youn segera menggendong Al sampai di depan mobil. Setelah itu, ia memberikan Al pada Anisa karena Youn akan menyetir mobil.


Youn melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Anisa masih tergugu meratapi anaknya yang masih demam tinggi.


"tenang Anisa, Al akan baik baik saja."


Tiba di rumah sakit, Al langsung di tangani oleh dokter. dalam keadaan seperti ini Anisa bingung bagaimana caranya ia bisa membayar uang rawat Al, sementara dirinya hanya memegang uang lima ratus ribu untuk kebutuhan sehari harinya.


Tak selang lama. Norin datang menyusul ke rumah sakit." Anis......gimana Al?" tanya Norin yang baru saja masuk ke ruang rawat Al. hanya ada Anisa di ruang itu sedang menatap bengong pada anaknya yang sudah tertidur. Sementara Youn tidak tau kemana.


Anisa menoleh dengan mata berkaca kaca lalu memeluk sahabatnya itu.


"kamu kenapa Nis?" tanya Norin pada sahabatnya yang tengah duduk dan bengong.


"aku aku bingung Rin, aku...aku boleh minjem uang kamu ngga? aku sama sekali ngga pegang uang Rin. aku bingung untuk bayar rumah sakit ini. Aku ngga tau kalau Al akan masuk rumah sakit lagi jadi waktu itu uangku ku berikan pada mertua ku di kampung karena aku ngga tega liat adik Rendi yang dagang asongan di jalanan karena Rendi tidak pernah lagi mengirim mereka uang."


"kasihan sekali hidup mu Anisa, menikah dengan pria yang tak memiliki tanggung jawab seperti pria brengsek itu." Youn tampa sengaja mendengar percakapan Anisa dan Norin di balik celah pintu.


"ya Allah Nis, kamu mulia sekali sih. padahal kamu udah di sakiti sama anaknya tapi masih aja peduli sama orang tuanya. kamu ngga usah khawatir aku ada tabungan kok, ngga usah minjem biar biaya rumah sakit aku yang nanggung. tapi, ini di dompet aku cuma bawa satu juta kamu kasih dulu aja ke admistrasi sebagai uang muka. nanti sisanya aku ambil dulu di ATM."


"makasih banget ya Nis, beruntung aku memiliki sahabat kayak kamu." Anisa memeluk Norin.


"kalau gitu aku titip Al dulu ya sebentar."


"yaudah."


Anisa berjalan menuju tempat administrasi. "permisi mba, saya mau membayar uang muka atas nama alfa robby."


"pasien balita yang tadi sore masuk ya bu?"


"benar mba."


"oh, sudah lunas Bu, semuanya sudah di tanggung."


"hah, si siapa yang melunasinya mba?"


"atas nama tuan Youn."

__ADS_1


"tu tuan Youn....?"


__ADS_2