
"Apa yang Mega katakan benar. Masjid Abu Hurairah luasnya tidak main-main. Kita bertiga tidak akan cukup untuk membersihkannya dalam waktu yang singkat kecuali dilakukan secara beramai-ramai." Ai diam-diam mengeluh.
Bukannya dia tidak bersyukur, tidak, Ai malah bersyukur bisa menjaga jarak dari Ustad Vano. Hanya saja hukuman yang mereka dapatkan terlalu berat dan kejam.
Mereka hanya bertiga dan butuh waktu yang lama untuk membersihkannya.
"Mereka benar-benar suka memberikan kita hukuman." Kata Mega misuh-misuh.
Sekarang kedua temannya juga harus merasakan imbasnya.
"Itulah mengapa aku tidak berani bertingkah di depan mereka." Desah Ai tertekan.
Dia meluruskan kedua kakinya agar lebih nyaman. Setelah itu dia mengangkat kepalanya menatap hamparan langit cerah yang tidak berujung dengan pikiran melayang entah kemana.
Lihat, dia tidak menyukaimu, Ai. Jika dia benar menyukaimu maka lalu kenapa dia memberikan mu sebuah hukuman berat?. Batinnya sekali lagi merobek luka di dalam hatinya.
"Apa kalian tahu siapa Almaira?" Tanya Ai tiba-tiba.
"Aku pernah mendengarnya semalam tapi tidak pernah melihatnya secara langsung." Kata Asri ikut meluruskan kakinya di samping Ai.
"Aku juga tidak pernah melihat Almaira secara langsung tapi aku pernah mendengar tentangnya disebutkan. Kalau tidak salah bukankah dia adalah calon istri Ustad Vano?" Tanya Mega tidak sadar menyodok luka Ai.
Mega tidak sepeka Asri dalam urusan hati jadi dia tidak sadar telah menggores luka di hati Ai.
__ADS_1
Asri terkejut, dia diam-diam mengangkat kepalanya melirik bagaimana ekspresi Ai saat ini.
Dia pikir Ai akan sangat sedih tapi nyatanya dia salah. Ai malah kini sedang tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari hamparan langit.
"Benar, aku juga mendengar hal yang sama dari orang lain." Katanya sendu.
Beruntung Frida dan Tiara memperingatinya tadi pagi agar jangan terlalu mengharapkan Ustad Vano. Jika tidak maka dia akan terus terjebak di dalam angan-angan semu yang menyedihkan.
"Orang bilang dia baik dan berparas cantik." Kata Mega semakin menggores luka.
Asri pikir pembicaraan ini tidak sehat. Dia kemudian memutar kepalanya mencari topik pembicaraan yang lebih santai.
"Jangan bicarakan tentang dia, toh kita dan dia tidak saling mengenal sekalipun dia adalah anak Pak Kyai. Nah, yang terpenting sekarang adalah apa yang harus aku lakukan jika Bapak ku benar-benar datang besok ke sini." Katanya berpura-pura bingung.
Sungguh, meskipun mereka baru berteman tapi dia sudah sangat menyayangi Ai dan Mega. Dia pikir Allah mempertemukan mereka bertiga di sini karena Allah ingin mereka menjalin persaudaraan.
"Kalau Bapak kamu ke sini kami boleh salam, enggak?" Tanya Ai untungnya teralihkan.
"Boleh, kok. Aku malah senang kalian kenalan sama Bapak aku asalkan yah..jangan coba-coba tikung Ibuku di rumah yah." Kata Asri bercanda.
Tikung ibunya?
Kepala Ai dan Mega agak lambat mencerna kata-kata ini sampai akhirnya beberapa detik kemudian orang pertama yang mengaum adalah Mega.
__ADS_1
"Asri, astagfirullah! Emang muka aku sama Ai mirip kayak biawak apa pakek disangka-sangka nikung Ibumu. His.. lama-lama aku cubit, nih!"
Ai tertawa kecil,"Aku mana mau jadi Ibu tiri kamu, As. Pasti kerjaan aku di rumah ngelapangin dada mulu berurusan sama kamu."
"Benar, Ai. Aku juga mana sudi jadi Ibu tirinya. Kalau punya anak tiri kayak dia, Ibu tiri mana berani menindas." Ucap Mega diselingi tawa.
Asri senang mereka bisa santai,"Oh jadi anak tirinya gak mau tapi giliran sama Bapakku mau nih?"
Ai menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Tertawa seperti ini membuatnya menjadi lebih santai dan merasa ringan. Sekali lagi, dia bersyukur berteman dengan Asri dan Mega.
"Aku angkat tangan, hati dan jiwaku sudah milik seseorang yang Allah takdirkan untukku. Masalah ini ada baiknya kamu bicarakan dengan Mega saja karena sepertinya dia cukup tertarik." Lempar Ai kepada Mega.
Mega memutar bola matanya malas,"Akupun sama, hati dan jiwaku sudah dimiliki oleh orang yang Allah kirimkan untukku."
Asri tersenyum jail,"Kalau orang itu Bapakku, gimana?"
Seketika senyum Mega langsung menghilang,"Asri, ih!" Dia mengaum kesal.
"Astagfirullah, bercanda kok. Lagian mana mau aku punya Ibu tiri kayak kalian. Yang satu terlalu lembut dan yang satunya lagi jutek banget, aduh.. Bapak mana tahan sama kalian."
Setelah itu mereka berbincang-bincang sebentar sampai akhirnya mereka menyadari jika sebentar lagi akan masuk sholat ashar. Mereka lantas panik dam segera kembali ke asrama untuk membersihkan diri.
Mereka tidak mau telat dan mendapatkan hukuman lagi. Huh, lebih tepatnya mereka sangat trauma setelah mendapat kabar akan membersihkan masjid nanti malam!
__ADS_1