Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Youn mualaf


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Shin masih saja melakukan pencarian atas Norin tanpa henti. Norin seperti di telan bumi karena tidak ada yang tahu dimana keberadaan dirinya. Shin benar benar frustasi dan putus asa. Selama sebulan ini Shin tidak fokus bekerja membuat reputasi perusahaan menurun sehingga sang ayah yang berada di Korea memintanya untuk kembali ke negara asal dan memintanya untuk mengurus perusahaan pusat saja.


Permintaan sang ayah membuat Shin semakin frustasi. Jika ia kembali ke Korea itu artinya ia harus meninggalkan Norin dan juga, harus melupakannya. Namun, rasa besar cintanya pada wanita itu membuat shin memilih untuk terus bertahan di Indonesia dan terus mencarinya dengan berbagai upaya meskipun menentang keinginan sang ayah.


Saat ini, Shin sedang duduk di kursi kolam renang dengan pandangan menerawang ke atas. Keputusan Youn untuk tidak lagi tinggal di rumahnya dan memilih tinggal di apartemen yang telah di sewanya membuat Shin menjadi merasa sangat kesepian di mansion besarnya tersebut.


Shin baru menyadari jika memiliki harta yang melimpah tidak bisa menjamin hidup seseorang bahagia. Seperti dirinya saat ini, ia memiliki harta yang melimpah namun hidupnya jauh dari kata bahagia. Hati dan fikirannya tak pernah merasakan ketenangan selalu dirundung kegelisahan setiap detik.


"Hoon...!"panggil sang paman tiba tiba datang dan menghampirinya. Shin melirik dengan ekor matanya namun tak balik menyapanya.


Lee menggeser kursi di samping Shin lalu mendudukinya menatap lekat pada keponakannya yang terlihat sedang berputus asa dan tak memiliki semangat hidup. Lee tahu apa penyebab keponakannya seperti itu. Kepergian Norin membuat Shin lebih banyak mengurung diri dan menyepi. Sangat jarang masuk kantor dan Shin sudah tidak peduli lagi pada perusahaannya tersebut. Sebenarnya, Lee ingin marah atas sikap Shin yang sekarang tidak lagi memikirkan perusahaan. Namun, Lee tidak tega jika harus memaksanya dan takut membuat Shin akan merasa semakin tertekan.


"Kau tak perlu memikirkan perusahaan dan omongan ayahmu. Terus lah berusaha untuk mencari kekasihmu itu. Hanya satu pesanku padamu. Setelah kau menemukannya...menikahlah, karena aku yakin setelah menikah dia tidak akan meninggalkanmu lagi."


"Aku....aku tidak tau, kemana lagi aku harus mencarinya uncle,"ucap Shin dengan suara parau menahan tangis.


"Masih banyak cara Hoon, berfikir lah. Jika kau berdiam diri seperti ini terus bagaimana kau bisa menemukannya."


Shin menelan saliva nya lalu mengusap wajahnya.


"Ya sudah aku pulang dulu. Tetap semangat okey." Lee beranjak pergi meninggalkan Shin yang masih merenung.


Di tempat lain tepatnya di rumah sederhana bercat biru, Anisa sedang mempercantik dirinya.


"Kamu mau kemana Nis? kok rapih dan cantik banget." tanya sang ibu.


"Youn mau ngajak Anis ke luar mah," jawab Anisa sambil melukis bibirnya dengan lipstik warna nude.


"Nis...!" ucap sang ibu dengan raut wajah cemas.


"Iya mah."


"Apa ngga sebaiknya kamu menjaga jarak dengan Youn Nis? soalnya kamu belum resmi bercerai. mamah tidak enak dengar bisik bisik tetangga membicarakan kamu dan Youn."


"mah, Anisa dan Youn hanya sekedar berteman dan tak lebih mah. Lagi pula kami perginya ngga hanya berdua tapi ada Alina dan suaminya."


"Oh, begitu. emang nya kalian mau kemana?"


"Anis ngga tau mah. Youn ngga ngasih tau dia bilang nanti juga tau sendiri."


"ya sudah kalau gitu hati hati. mamah yang akan jaga Al."


"iya mah, makasih ya."

__ADS_1


Tin tin tin


"Itu kayaknya orangnya udah datang Nis. yaudah mamah mau nidurkan Al dulu. dia belum bobo siang." Bu Nia bergegas keluar dari rumahnya. Juga, Anisa bergegas keluar dari kamarnya untuk pergi bersama Youn.


"hai, sudah siap?"


"sudah."


Youn membukakan pintu mobil untuk Anisa lalu ia menaiki mobil tersebut.


"Sebenarnya kamu mau ngajak aku kemana Youn?"


"Aku...aku malu bilangnya Nisa. Nanti saja kau lihat sendiri. Kita jemput Robbi dan istrinya dulu."


Anisa mengangguk.


Youn melajukan mobilnya menuju perumahan komplek dimana Robbi dan istrinya tinggal.


"Assalamualaikum ummi Alina." sapa Anisa pada wanita cantik yang sedang berdiri menyambutnya di depan rumahnya.


"Wa'alaikum salam mama Anisa." jawab Alina sambil tersenyum.


"Lho, Al nya mana?"


"Al lagi bobo siang sama neneknya."


"Robbi mana nyonya Alina?" tanya Youn karena pria itu tidak ada di antara mereka.


"Masih di dalam sebentar lagi paling ke luar."


Tak selang lama, orang yang di tunggu pun keluar.


"hai bro," sapa Youn.


Robbi tersenyum." kau sudah benar benar siap bro?"tanya Robbi tiba tiba.


"Siap seratus persen bro," jawab Youn lalu tersenyum.


Anisa mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti atas ucapan dua pria di hadapannya. Beda lagi dengan Alina yang sudah di beri tau oleh suaminya.


"Ya sudah yuk kita berangkat sekarang." kemudian, mereka berjalan beriringan menuju mobil Youn.


Dalam hati Anisa bertanya tanya mau kemana tujuan mereka. Tapi, Anisa memilih diam dan ikut saja. Tiba di sebuah masjid cukup besar. Youn memberhentikan mobilnya tepat di depan masjid tersebut. Anisa heran kenapa mobilnya berhenti di depan masjid? Tapi, Anisa memilih untuk diam saja.

__ADS_1


Setelah itu, mereka beriringan memasuki masjid. Tampak sepuluh orang dan diantara mereka seorang pemuka agama sudah menunggu kedatangan mereka. Anisa di buat heran kembali. Ada apa dan mau apa sebenarnya? pikir Anisa.


Ashadualla ilahailallah wa ashadu Anna muhammadarrasuallah.


Dengan terbata bata, di depan pemuka agama dan di depan para saksi Youn mengucapkan dua kalimat syahadat. Setetes air mata meluncur di pipi Anisa. Ia terharu dan senang sekali melihat Youn menjadi seorang mualaf.


"Jadi kejutan ini yang mau kamu tunjukan ke aku Youn?" gumam Anisa dalam hati dan seulas senyum tersungging di bibirnya.


Setelah itu, pemuka agama tersebut memberi wejangan tentang akidah dan syariat Islam. Youn terlihat serius sekali mendengarkannya.


"Welcome to muslim family bro. Aku harap Islam mu bukan sekedar Islam KTP saja ha ha ha." Ledek Robbi setelah mereka keluar dari masjid.


Youn tertawa kecil sementara Alina dan Anisa hanya tersenyum saja.


"By the way apa kita langsung pulang?" tanya Robbi.


"Apa kalian tidak lapar sudah mengantar dan menungguku tadi?"


"Jangan di tanya bro, aku lapar sekali. Bagaimana dengan kalian para bidadari apa merasa lapar seperti aku?" tanya Robbi sambil menoleh ke belakang dimana Alina dan Anisa duduk.


"Lapar juga dong bi," jawab Alina. Sementara Anisa hanya diam saja.


"Let's go. kita cari restauran dulu." kemudian Youn mengemudikan mobilnya mencari restauran.


Youn memarkirkan mobilnya di depan sebuah restouran. Lalu, mereka turun dan jalan beriringan memasuki restauran tersebut. Ke datangan mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Dua pria tampan dan dua wanita cantik merupakan pasangan yang serasi di mata mereka.


Kedatangan mereka juga tak lepas dari sepasang pria paruh baya dan wanita muda dan kebetulan mereka memilih duduk di meja yang berdekatan dengan sepasang kekasih tersebut.


"Tuan Youn," sapa pria paruh baya. Youn yang baru saja hendak mendaratkan pinggulnya di kursi menoleh ke arah meja di sampingnya.


"Anda tuan Robert."


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini tuan Youn."


Sang wanita mengalihkan pandangannya ke samping karena ia tidak ingin di kenali oleh salah satu wanita yang sangat di kenalnya.


"yeah. Anda dengan siapa tuan Robert? kekasih baru anda atau sekedar one night stand?" Ledek Youn.


"Kekasih dong ha ha. Sayang kenalkan dia tuan Youn temanku sekaligus panther bisnis." ucap pria paruh baya itu pada Siska.


Siska gelagapan, mau tak mau ia pun menoleh ke arah empat orang yang sedang melihat ke arahnya.


"hi, tuan Youn," sapa Siska dengan senyum yang dipaksakan. Namun, Siska tidak menyapa pada yang lainnya dan ia pun pura pura tidak mengenal Anisa.

__ADS_1


"Ck, ternyata aki aki juga kau hembat Siska." gumam Anisa dalam hati lalu tersenyum menyeringai.


Namun tak lama, seorang waiter menghampiri mereka dan memberikan buku menu.


__ADS_2