
Mega tidak membantah,"Bukankah begitu?"
Mengatakan ini sama saja mencari pertengkaran. Ai tanpa sadar menghela nafas panjang. Dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Kalian berdua tenanglah dulu. Ini adalah masalah sepele dan bisa kita bicarakan dengan baik-baik-"
"Masalah sepele?" Potong Sari murka. Dia kemudian menatap Mega nyalang, Mega tidak takut dan malah masih santai di depan Sari.
Sikapnya yang santai dan tidak takut membuktikan jika Mega sangat meremehkan Sari. Tentu saja hal ini semakin membuat Sari bertambah marah. Dia ingin membuktikan bahwa di sini derajat seseorang tidak berguna bahkan sekalipun dia adalah orang yang miskin.
"Dia jelas-jelas merendahkan ku!" Emosi Sari masih berkobar.
Ai lagi-lagi menghela nafas panjang. Dia harus melapangkan dadanya untuk menahan semua amarah Sari yang tampaknya tidak mudah dipadamkan. Dia mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundak Mega dan Sari secara bersamaan.
"Lupakan masalah ini..aku tidak mempermasalahkannya. Jika kalian memang mau maka ambillah asal kalian harus kembali berdamai-ah!" Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Sari sudah menepis tidak sabar tangan Ai.
Entah disengaja atau tidak, Sari melakukannya dengan keras saat menepis tangan Ai. Membuat punggung tangan Ai memerah.
"Beraninya kamu!" Sontak saja hal ini mengundang kemarahan Mega.
Mega dengan kasar mendorong pundak Sari hingga hampir saja terjatuh. Tidak terima dengan kekasaran Mega, dia mendorong balik Mega dengan kuat tapi tidak bisa membuat Mega terjatuh.
__ADS_1
Jelas saja kontak fisik ini membuat mereka semakin diambang permusuhan. Di dalam dada mereka ada permusuhan yang sudah tumbuh entah sejak kapan. Memanasi hati mereka agar segera melampiaskannya dengan cara masing-masing.
"Kalian berhentilah! Ini di pondok pesantren!" Ai pulih dari keterkejutannya dan melihat pemandangan yang hampir membuatnya jantungan.
Bagaimana bisa ceritanya sampai sejauh ini?
Pertengkaran ini, dia seolah-olah melihat kejadian 11 tahun lalu di sekolah taman kanak-kanak dulu. Mega juga dulu bertengkar seperti itu tapi bedanya kali ini Mega melakukan itu karena membelanya.
"Aku pikir kita harus segera memanggil Ustazah untuk melerai mereka!" Asri berdiri gusar di samping Ai.
Dia ingin melerai tapi takut kena amukan mereka. Dia ingin menonton saja tapi rasanya itu sangat berdosa, maka satu-satunya cara adalah memanggil Ustazah atau petugas kedisiplinan asrama putri untuk menuntaskan masalah ini.
Ai juga tidak kalah paniknya dengan dia.
Ai menggigit bibirnya gugup, dia takut tapi tidak bisa hanya menonton. Alhasil, baru saja beberapa detik dia mengatakan itu Ai langsung melemparkan dirinya ke dalam pertempuran. Niatnya ingin melerai tapi dia tidak tahu jika kedatangannya malah memperkeruh keadaan.
"Berhentilah! Kita sekarang ada di pondok pesantren! Jika Ustazah tahu kalian bertengkar maka hukumannya akan sangat berat!" Kata Ai seraya memposisikan dirinya ke tengah-tengah. Dia membentangkan kedua tangannya untuk memberikan jarak kepada Mega dan Sari.
Awalnya ini berhasil, tapi hanya awalnya saja karena beberapa detik kemudian Sari mendorong Ai menjauh agar menyingkir dari pertempuran. Dia melakukan itu karena kesal Ai tidak membelanya tadi. Dia pikir Ai adalah orang kaya dan makanan bukanlah hal yang sulit untuk dia beli kembali. Lagipula dia hanya meminta satu atau dua bungkus, bukan satu kantong plastik besar jadi Ai seharusnya tidak memperhitungkannya!
Ai terdorong menjauh. Dia tertangkap tidak siap dan langsung jatuh ke lantai dengan siku kiri sebagai penahan bebannya. Tangan kirinya menjadi sakit, Ai tidak tahu apakah itu terluka atau tidak karena dia tidak sempat memeriksanya sebelum Asri ikut campur ke dalam pertempuran!
__ADS_1
"Astagfirullah Sari! Kamu lagi-lagi kelewatan batas!" Teriaknya sebelum berlari masuk ke dalam pertempuran.
Dia ikut menyerang Sari, menarik jilbabnya untuk melampiaskan kemarahannya tadi. Dengan Mega, dia bekerjasama untuk meluapkan amarah serta ketidakpuasan mereka kepada Sari. Menarik jilbab Sari hingga terlepas dan melemparkannya ke sembarang arah. Tidak cukup sampai di sana saja, mereka juga menarik rambut Sari yang panjang bergelombang dan belum sempat disisir rapi tadi. Sedangkan Sari sendiri merasa sangat kewalahan karena dilawan dua orang tapi bukan berarti dia mau menyerah. Badannya sudah agak berisi sejak kecil dan tenaganya pun besar jadi dia masih bisa mengimbangi mereka.
Dia menggunakan kedua tangannya untuk menarik jilbab Asri dan Mega. Membuat jilbab mereka berdua miring kesana kemari menjadi berantakan dan kacau.
"Kalian pikir aku takut! Dua lawan satu tidak masalah!" Teriak Sari sangat marah.
Sementara itu Ai yang masih tercengang di lantai akhirnya mendesah tidak berdaya untuk yang kesekian kalinya.
" Ya Allah, Asri.." Bisiknya seraya bangun dari lantai.
"Setidaknya kamu membantuku bangun dulu sebelum pergi bertengkar!" Keluhnya pada orang yang sibuk membuat keributan.
"Astagfirullah, Ai sadar! Apa yang baru saja kamu katakan! Ini tidak benar!" Dia memukul keningnya kesal.
"Apa kepalamu sakit, Ai?" Teriak Mega di tengah-tengah pertempurannya.
Ai tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat mereka bertiga saat ini.
"Kepalaku tidak apa-"
__ADS_1
"Dia mengalami geger otak! Ai akan mengalami koma! Kamu sangat keterlaluan Sari! Jika dia benar-benar koma maka kamu akan masuk penjara!" Itu adalah teriakan nyaring Asri yang asal memotong ucapannya!
Padahal dia baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan kepalanya!