Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.16)


__ADS_3

"Astagfirullah, ini orang dari dulu kok gak berubah-ubah, yah! Kerjaannya nyari masalah terus!" Dumel Asri heran.


Ai mengangkat bahunya tidak perduli,"Lupakan saja. Dia mungkin masih belum bisa melupakan masalah malam itu."


Ai tidak ingin terlalu memikirkan Sari karena sekali lagi dia tidak ada hubungannya dengan apapun yang Sari lakukan. Bila suatu hari Sari mencari masalah kepadanya Ai akan bertindak tegas, tidak akan diam saja melihat dirinya diganggu.


"Ai kita sudah besar sekarang, hem?" Mega mencubit pipi Ai bangga.


Asri juga ikut-ikutan mencubit pipi Ai, merasakan kulit lembut yang agak kasar karena lumpur diwajahnya sudah mulai mengering.


"Ya Allah, jangan seperti ini. Aku malu dilihat sama orang." Ai dengan panik menyelamatkan pipinya dari Asri dan Mega.


"Kenapa malu?" Mega masih ingat mencubit pipi Ai.


Habisnya pipi Ai sudah lebih agak berisi daripada pertama kali tinggal di pondok.


"Apa kalian tidak sadar jika banyak orang yang sedang memperhatikan kita? Lihat, kita sangat kotor dan tanpa menggunakan alas kaki. Apa kalian tidak malu?"


Asri dan Mega sontak melihat sekelilingnya. Memang benar ada beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka, dan bahkan ada pula santri yang tidak sungkan-sungkan menertawakan penampilan mereka yang terlihat cukup lucu.


"Oh.." Asri kini beralih memperhatikan kedua kakinya tanpa alas kaki. Kaos kaki yang ia gunakan pun sudah kotor semua tertutupi oleh lumpur.


"Aku pikir kita seharusnya segera membersihkan diri." Ujar Asri baru menyadari situasinya yang sangat kotor dan berantakan.


Mega juga sangat malu menjadi bahan perhatian banyak orang. Jika ini dalam hal kebaikan mungkin tidak apa-apa tapi ini dalam hal yang memalukan, coba bayangkan mau taruh dimana wajahnya?


"Pergi...pergi." Mega adalah orang pertama yang melarikan diri kemudian disusul oleh Ai dan Asri.


Mereka membawa baju ganti dan peralatan mandi ke kamar mandi. Sesampai mereka di tempat mandi Asri menawarkan diri mandi di tempat pribadi dan mereka berdua tidak terkejut.


Mereka pikir Asri juga sama seperti mereka, malu bertemu banyak orang dengan keadaan berlumpur seperti ini. Yah, ini untuk Mega tapi tidak untuk Ai. Alasannya?


Dia mengerti kekurangannya dan dia tidak ingin ada orang-orang yang melihat apalagi mengetahui kekurangannya.


Ini adalah satu-satunya alasan Ai lebih suka mandi sendiri.

__ADS_1


Di sisi lain Asri bukannya malu mandi di kamar mandi umum. Namun, dia sedang butuh sendiri untuk meluapkan perasaan dan emosinya. Oleh karena itu, ketika masuk ke dalam kamar mandi ia langsung menghidupkan air keran sebelum menumpahkan tangisannya.


Dia menangis sejadi-jadinya, tangisan yang tidak pernah siapapun lihat sebelumnya.


Hatinya sakit, itu sangat sakit. Siapa bilang dia tidak merasa kecewa?


Tidak, dia amat sangat kecewa karena laki-laki yang ia cintai sudah memiliki wanita lain dihatinya.


Berjuang untuk merebutnya?


Jangan bercanda, Asri adalah seorang wanita dan sebagai wanita ia sangat tahu bahwa sifat alami mereka adalah rasa cemburu. Melihat laki-laki yang disukai berbicara dengan wanita lain saja rasanya sangat tidak enak apalagi bila tahu ada wanita lain yang berusaha ingin merusak hubungan. Bukankah Asri sama saja tidak punya hati?


Lalu, bagaimana dengan perasaannya?


Siapa yang peduli, lagipula ini hanya patah hati biasa saja, yah mungkin. Ini adalah resiko untuk siapapun yang mencoba mencicipi manisnya jatuh cinta.


Ini adalah sebuah resiko yang tidak bisa dihindari.


"Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar. Cukup mulai menyibukkan diri dan menghindarinya bila bertemu. Di sini juga banyak laki-laki yang bisa aku mangsa, patah hati ini tidak akan bertahan lama." Ia menghibur dirinya sendiri, menguatkan hatinya bahwa patah hati itu adalah hal yang biasa.


Di lain tempat dengan waktu yang bersamaan, Kevin masih di sawah mengawasi santri laki-laki yang sedang memanen kangkung.


Masih jelas di dalam ingatannya ketika senyuman Asri tiba-tiba menghilang ketika melihatnya berbicara dengan Sasa. Senyum lepasnya yang menular tiba-tiba menjadi lebih redup dan terkesan dipaksakan. Dalam waktu singkat, dia tiba-tiba bertindak aneh dan berjalan mendekati santri laki-laki lain.


Mengulurkan kedua tangannya yang sedang memegang surat berwarna merah muda dengan kepala tertunduk dan gugup.


Dia yakin surat itu awalnya dibuat Asri untuknya. Tapi karena melihatnya sedang berbicara dengan Sasa membuat Asri segera berubah pikiran.


"Apakah kamu sudah tahu hubunganku dengan Arumi?" Dia bertanya kepada seseorang yang tidak ada di sini, menatap linglung genangan lumpur jejak yang Asri tinggalkan.


"Aku... sungguh sangat bingung." Dia mengusap wajahnya ketakutan.


Benar, apa yang ia rasakan saat ini adalah sebuah ketakutan.


Dia takut,

__ADS_1


"Jika kamu tahu hubunganku dengannya, akankah kamu menjaga jarak dariku dan memilih untuk melupakanku?"


"Kevin,"


Kevin menoleh, entah sejak kapan Ustad Vano sudah ada di belakangnya. Akankah Ustad mendengar semua yang ia katakan tadi?


Kevin tidak tahu dan sejujurnya ia tidak terlalu memikirkannya.


"Ustad." Dia bersikap sopan, menjadi dirinya yang biasa dilihat oleh orang-orang.


"Sayur apa saja yang akan dipanen hari ini selain kangkung?" Ustad Vano berdiri di samping Kevin, memperhatikan santri laki-laki yang sedang serius memetik kangkung.


Kevin mengingat.


"Hanya kangkung dan beberapa keranjang kentang. Ustazah bilang mereka akan membuat perkedel kentang untuk menu makanan tambahan beberapa hari ini."


Ustad Vano menganggukkan kepalanya ringan. Setelah itu mereka berdua diam membisu tanpa niat melanjutkan topik pembicaraan.


Tinggi mereka hampir sama, ini hanya hampir karena Ustad Vano beberapa sentimeter lebih tinggi dari Kevin.


Sekilas, mereka adalah tipe-tipe yang banyak disukai gadis karena mulai dari tinggi hingga bentuk tubuh yang proporsional, tidak ada alasan untuk tidak menyukai mereka apalagi dengan wajah yang tampan sebagai nilai plus.


Mereka benar-benar patut menarik perhatian para gadis.


"Ada yang salah denganmu." Ucap Ustad Vano tiba-tiba.


Kevin tidak yakin.


"Yah, aku sedang memikirkan hukuman apa yang harus aku berikan kepada Adit, Ustad." Ujar Kevin dengan nada ringan.


"Bukan masalah ini, tapi masalah gadis itu. Sejak kejadian tadi kamu terlihat linglung dan suka melamun, Kevin." Ustad Vano mengoreksi dengan cepat.


Ah, masalah Asri...


Kevin memejamkan matanya, menatap hamparan langit di depannya yang cerah dan berawan.

__ADS_1


__ADS_2