Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 4.5)


__ADS_3

Padahal sebelumnya Sari sangat keras kepala dan sok kuat tanpa ada tanda-tanda akan menangis. Tapi lihat sekarang, begitu ada bala bantuan datang dia tiba-tiba berubah menjadi sosok gadis yang lemah dan teraniaya.


Sangat licik!. Batin Mega dan Asri bersamaan.


Ustad Vano dan laki-laki itu sontak menundukkan kepala mereka begitu menyadari jika Sari tidak menggunakan jilbab. Di belakang Sasa dan Tiara meminta izin kepada laki-laki paruh baya itu untuk masuk ke dalam. Sasa memungut jilbab Sari yang terlempar tidak berdaya di atas lantai karena ulah Asri. Dia menepuknya beberapa kali untuk menghilangkan debu sebelum membantu Sari memakai jilbabnya.


"Jangan menangis, masalah ini akan segera kita selesaikan di rumah kyai." Hibur Tiara sambil merapikan rambut panjang bergelombang Sari yang sudah acak-acakan.


Sari menggigit bibirnya menahan isak tangis. Dengan tangan bergetar dia mengusap wajahnya tampak seperti gadis yang memaksakan diri untuk tegar.


"Hah, siapa yang tadi mengatakan tidak ingin berurusan dengan orang lemah?" Ejek Mega di samping.


Mendengar ejekannya, Sasa dan Tiara sontak menatap Mega dengan tatapan tajam. Mereka mengisyaratkan untuk diam karena saat ini mereka sedang berhadapan dengan pengurus langsung pondok pesantren Abu Hurairah yang saat ini mereka tinggali.


Jika masalah ini sampai ke telinganya maka penyelesaiannya harus dibawa ke rumahnya. Tapi jika dia tidak mendengarnya maka masalah ini bisa diselesaikan di kantor petugas kedisiplinan.


Mega terpaksa menutup mulutnya rapat. Matanya yang jernih tanpa sadar bergerak memutar dengan malas. Saat ini, bertemu dengan seseorang yang dia benci untuk yang kedua kalinya membuat hati Mega menjadi semakin kesal.

__ADS_1


Kedua matanya bahkan mulai memerah dan menciptakan riak tipis.


"Bawa mereka ke tempat ku." Perintah Pak Kyai sebelum pergi dari asrama.


Ustad Vano dan laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa. Mereka tunduk dengan apa yang Pak Kyai perintahkan. Jadi setelah Pak Kyai pergi mereka dengan dingin mengikuti dari belakang. Membuat para santriwati yang diam-diam melihat pertunjukan tanpa sadar menundukkan kepala untuk menjaga pandangan.


Setelah mereka pergi Sasa langsung mendesah panjang. Dia menatap mereka berempat dengan pandangan rumit.


"Kalian.." Dia tiba-tiba sulit mengeluarkan kata-katanya.


"Kalian baru saja tiba di sini tadi siang tapi sudah membuat keributan yang besar. Tahukah kalian jika beberapa perbuatan tidak akan bisa ditoleransi oleh pondok pesantren? Karena masalah ini kalian akan terancam dikeluarkan dari pondok pesantren!" Sambung Sasa tidak main-main.


"Jika mereka ingin mengeluarkan aku maka keluarkan saja, aku juga tidak ingin tinggal di pondok pesantren ini." Ujar Mega tidak perduli.


Mereka bertiga langsung menatap Mega ngeri, tidak heran dia suka sekali membuat masalah karena nyatanya dia tidak takut dengan sangsi pondok pesantren.


Jika itu aku, mungkin Bapak akan langsung menjadikan ku kurban bila sampai dikeluarkan dari pondok pesantren!. Batin Asri ngeri.

__ADS_1


"Tolong bicaralah yang sopan dengan senior mu. Dia berniat menasehati mu secara baik-baik jadi seharusnya kamu merespon dengan baik pula." Tiara tidak suka dengan respon bias Mega.


Padahal rekannya sudah berbicara sopan namun dibalas dengan bias oleh Mega. Bukankah itu sama saja merendahkan rekannya?


Mega tentu saja tidak perduli. Dia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat mereka berdua dan kembali menjadi orang yang dingin.


"Sudahlah, kita lebih baik pergi ke rumah Pak Kyai agar masalah ini bisa diselesaikan." Sasa tidak mau memperpanjang masalah.


Dia dan Tiara langsung membimbing mereka menuju keluar dari asrama putri. Mereka berenam berjalan menyusuri jalan setapak yang telah diterangi cahaya dari lampu jalan. Di samping jalan ada sawah milik pondok pesantren yang sebentar lagi akan panen dan langit begitu terang malam ini karena cahaya bulan.


Seharusnya ini cukup menyenangkan hati tapi situasinya tidak tepat. Mereka berempat sibuk dengan pikiran masing-masing mulai dari Sari yang sedang mempersiapkan sandiwaranya, Asri yang sedang memikirkan pembelaannya, Mega sibuk dengan ingatan akan rasa sakit dihatinya, dan Ai gelisah memikirkan bagaimana reaksi Ustad Vano ketika melihatnya tadi.


Dia bertanya-tanya apakah kesan Ustad Vano kepadanya semakin buruk karena telah membuat 4 kesalahan dalam waktu 1 hari!


Ai tidak sanggup memikirkannya.


Beberapa menit berjalan akhirnya mereka bisa melihat rumah Pak Kyai. Ini tidak besar juga tidak kecil dan bahkan tidak mewah. Rumah ini mewakili arti kesederhanaan dan kehangatan karena rumah ini sangat cocok dihuni oleh sebuah keluarga besar yang rukun.

__ADS_1


Dari jauh mereka bisa melihat jika rumah Pak Kyai kedatangan banyak orang, tidak, lebih tepatnya rumah Pak Kyai selalu hidup setiap hari. Rumah akan tenang dan damai setelah masuk pukul 10 malam karena itu adalah waktu santri beristirahat. Tapi ada satu hal yang paling mencolok, yaitu keberadaan Ustad Vano yang tampak dingin berdiri di depan gerbang masuk. Di samping Ustad Vano berdiri pula seorang gadis cantik. Mereka berdiri di jarak yang cukup jauh dan bisa dilihat oleh banyak orang sehingga menimbulkan fitnah.


__ADS_2