Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Pengkhianatan Rendi


__ADS_3

Anisa kembali pulang ke rumahnya pukul satu siang. Ia melihat suaminya sedang menemani anaknya bermain puzzle di lantai.


Rendi menoleh ke arah pintu."dari mana kamu neng baru balik?"


"dari market a, abis beli kebutuhan Al."


"apa kamu ngga khawatir anak di tinggalin lama begitu?"


Anisa tersenyum sinis."Al udah biasa saya tinggalin setiap hari dan dia ngga rewel, karena dia tau mamanya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya serta keluarga ini."


"oh, jadi kamu nyindir saya karena saya cuma ngasih uang sedikit? Rendi merasa tersindir atas ucapan istrinya. Namun, ia tak terima.


"ya di fikir aja sendiri, uang lima ratus ribu sebulan cukup apa ngga a? jangankan untuk kami berdua untuk biaya rokok AA sebulan aja ngga cukup."


"ka........!"


"neng, kamu udah balik?" tanya sang ibu tiba tiba.


"udah mah, barusan."


Sementara Rendi nyelonong masuk ke kamarnya.


"mulai sekarang aku ngga akan tinggal diam a, aku ingin tau apa yang kamu lakukan selama ini di belakangku?"gumam Anisa sambil menatap punggung suaminya yang sedang berjalan ke kamar.


Pukul tiga sore. Rendi sudah rapi dan bersiap siap untuk pergi entah mau kemana. Anisa memperhatikan gerak geriknya. Kemudian ia menghampiri suaminya yang tengah menyisir rambutnya.


"mau kemana a udah rapih gini?"


"ada acara sama teman."


"oh!"


"mungkin aku pulangnya maleman, kalau kamu mau tidur tidur aja, aku bawa kunci cadangan.


"ya a!"


Kemudian Rendi ke luar rumah setelah mencium anaknya. Ia melajukan motornya setelah pamit pada Anisa. Anisa segera memanggil tukang ojek yang sudah ia pesan tadi di pengkolan.


"jangan sampai lolos ya mang?"ucap Anisa.


Tukang ojek itu terus saja mengekori motor yang di bawa oleh Rendi sampai masuk pada sebuah gang kecil. Lalu, Rendi memberhentikan motornya di sebuah rumah kecil seperti kontrakan.


"sampe di sini aja mang, mamang tunggu di ujung gang sana aja ya."


"iya neng hati hati."


Anisa mengintip di balik tembok rumah seseorang. Rendi memasuki rumah kecil itu lalu menutup pintunya.

__ADS_1


"rumah siapa itu sebenarnya?"gumam Anisa penasaran.


Anisa menunggu di balik tembok itu cukup lama. Namun, yang di tunggunya tak kunjung muncul dari dalam rumah itu. Dengan rasa penasaran ia nekat mendekati rumah tersebut. Anisa meletakan telinganya di daun pintu namun tidak ada suara apa apa di dalam. Anisa semakin penasaran dan semakin nekat. Ia menarik handle pintu itu dan ternyata pintunya tidak terkunci. Anisa memasuki rumah itu dengan pelan. sampai di dalam ia seperti mendengar suara aneh di sebuah kamar lalu ia meletakan telinganya di daun pintu tersebut.


"Ahh...oohh... emp... terus... mass.. Ahh!"


Suara de sa han itu membuat jantung Anisa berpacu dengan cepat. Dengan rasa tidak sabar Anisa menarik gagang pintu itu dan nampak lah suami yang sangat ia cintai selama ini tengah menunggangi seorang wanita yang tak lain adalah bawahan suaminya di pabrik.


Rendi terkejut atas ke hadiran Anisa yang tiba tiba. ia segera melepaskan penyatuannya dengan wanita itu lalu segera memakai celananya tanpa ****** *****. Sementara wanitanya hanya menarik selimut menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.


Anisa menatap nanar pada suaminya. Dadanya terasa sakit bagai di tusuk ribuan jarum melihat suami tercintanya menggauli perempuan lain. tangis pun pecah seketika.


"ini kelakuan mu di belakangku selama ini a? apa salah ku padamu sehingga kamu tega berbuat seperti ini padaku? kamu berzinah dengan perempuan lain di hadapanku."


"mas Rendi bilang sama perempuan itu siapa aku sebenarnya?" wanita itu menyahuti.


"diam kamu pelakor?" apa tidak ada laki laki lain sehingga kamu tega menggoda laki laki yang sudah memiliki istri dan anak? dimana otakmu?"


"mas Rendi jangan diam aja dong bilang sama dia siapa aku!"teriak wanita itu.


Rendi masih diam membisu.


"apa..apa yang akan kamu katakan? bilang siapa perempuan itu?"Anisa terus saja mencecar suaminya yang tengah diam saja.


"neng, maaf se..sebenarnya a..aku tidak zinah, tapi kami su...sudah me...menikah siri," ucap Rendi terbata bata.


"apa......menikah siri? kamu menikah lagi tanpa sepengetahuanku? ha ha ha......!"Anisa tertawa dalam tangis.


"kamu....suami sholehku, suami panutanku...suami yang aku anggap bisa menjadi sandaran ketika aku lelah ternyata tak ubahnya sebagai pria brengsek dan bajingan," ucap Anisa dengan lantang.


"baik, kalau begitu ceraikan aku sekarang juga." ucap Anisa sembari menatap tajam pada suaminya.


"ngga neng, aku ngga akan menceraikan kamu, maaf kan aku neng, aku khilaf. aku sayang kamu neng." Rendi terkejut atas permintaan istrinya, ia tidak mau jika harus bercerai dengannya.


"bulshit, kalau kamu sayang aku, kamu ngga akan tega nyakitin aku! tapi ini kamu tega sekali menikah diam diam di belakangku? apa itu yang namanya sayang? dan satu lagi, hanya karena pelakor ini kamu tega membuat ibu serta adikmu hidup sengsara dikampung. dimana hati kamu a?


"maafin aa neng, aa khilaf!" Rendi memegang tangan Anisa, Namun, Anisa menepisnya dengan kasar.


"jangan pernah sentuh aku lagi, aku jijik sama laki laki sepertimu. Cepat katakan talak tiga sekarang juga karena aku tidak sudi harus berbagi suami dengan pelakor murahan itu," ucap Anisa dengan suara lantang.


"ngga neng, saya tidak akan pernah menceraikan kamu." Rendi masih kekeh tidak mau menceraikan Anisa.


"okey, kalau gitu ceraikan pelakor itu!" tunjuk Anisa pada wanita yang tubuhnya di tutupi selimut.


"ngga bisa, aku tidak mau di ceraikan mas Rendi, aku lagi hamil anaknya.


Anisa memejamkan matanya sejenak lalu menatap nyalang pada suaminya dan mendekatinya. Ia mengepalkan kedua tangannya. Andai saja membunuh itu tidak dosa dan tidak masuk penjara mungkin sudah ia lakukan saat ini. Anisa mendorong kuat suaminya sehingga pria itu berbenturan dengan tembok.

__ADS_1


"dasar suami tidak tau diri dan egois!" ucap Anisa lantang. Lalu, ia beranjak pergi dari kamar sempit itu. tak lupa membanting pintu tersebut hingga satu engsel nya copot. Anisa berlari keluar sambil menyeka air matanya.


Rendi mengejar Anisa dari belakang sambil teriak."tunggu neng, maafin aa. aa khilaf neng, apa ngga mau cerai dari kamu neng, aa sayang kamu neng!" teriak Rendi dengan penuh penyesalan. Tanpa ia sadari bahwa ia telah menjadi tontonan para warga di gang tersebut.


"cepat pergi dari sini mang?" pinta Anisa pada tukang ojek yang menunggunya tadi.


"baik neng!"


Sepanjang jalan Anisa melamun," kemana aku harus pergi? andai ia tidak memiliki seorang ibu serta seorang anak, mungkin ia sudah pergi meninggalkan kota ini.


"neng, apa mau pulang ke rumah lagi ?"


Anisa menyeka air matanya."antar kan saya ke danau aja mang!"


Anisa belum siap ketemu ibunya dalam ke adaan kacau. Ia tidak mau ibu nya kecewa dan sedih jika tau nasib rumah tangga anaknya.


Tibalah Anisa di tepi sebuah danau buatan. danau yang sudah lama sekali tidak pernah ia kunjungi setelah menikah dengan rendi. Ia duduk di bangku panjang yang biasa dulu di duduki olehnya dan Norin. Tiba tiba Anisa teringat sahabatnya Norin, yang ia anggap masih menjalani hukuman di kampungnya.


"kisah hidup kita hampir sama ya Rin? kamu yang di khianati temannya si Doni dengan menghamili wanita lain lalu menikahinya. Sementara aku, aku di khianati temannya si Doni dengan menikahi siri wanita lain sampai wanita itu hamil. Apa kurangnya kita di mata mereka ya Rin? kita cantik, kita juga wanita mandiri dan bisa mencari uang sendiri tanpa harus membebankan hidup kita pada pasangan. kenapa mereka tega menyakiti kita Rin? apa salah kita pada mereka?"


Anisa menumpahkan semua air matanya setelah sekian lama tidak pernah menangis. tapi kali ini, ia ingin menangis yang sangat kencang sekali. Ia merasa benar benar hancur dan sakit tiada kira.


Sementara di sebuah mansion, Norin tengah berdiri di atas balkon kamar Shin. Menatap pada hamparan danau yang terlihat kecil dimatanya. Namun, keningnya berkerut,


lalu memperjelas penglihatannya dan sesekali mengucek matanya.


Tiba tiba dua buah tangan melingkar di perutnya, Shin memeluknya dari belakang. Norin tidak menghiraukannya, ia terus saja memperjelas penglihatannya.


"ada apa sayang? kamu lihat apa hem?"tanya Shin, ia penasaran Norin terus menerus mengucek matanya.


Norin mendongak wajahnya kebelakang menatap pada pria yang tengah memeluknya. Shin pun menatap pada wajah yang tengah mendongak itu.


"cup" kecupan mendarat tiba tiba di bibir Norin. Norin langsung mengalihkan wajahnya, ia tidak mau pria itu menciumnya berlebihan.


"saya seperti melihat sesuatu di seberang danau itu, apa tuan melihatnya juga ?"


"hmmm.....sepertinya! tapi sebentar saya ambil teleskop dulu." Shin melepaskan pelukannya lalu berjalan ke dalam kamarnya. Tak selang lama, ia kembali dengan membawa sebuah teropong di tangannya.


Shin mulai meletakkan teleskop itu di matanya. kemudian ia melepasnya lalu memberikannya pada Norin. Norin mulai memakainya, Nampak seorang wanita tengah duduk di sebuah bangku panjang yang biasa ia duduki dulu.


"itu.....itu seperti Anisa....teman saya tuan!" ucap Norin.


"benarkah, lantas sedang apa temanmu duduk sendirian di sana?"


Norin menggelengkan kepalanya."tapi teropong ini akurat kan tuan?"


"Kalau tidak akurat bagaimana aku bisa menemukanmu di sana?"

__ADS_1


"hah, jadi tuan pernah mengintip ku menggunakan teleskop ini ?" tanya Norin penasaran.


Shin tersenyum lalu tanpa permisi lagi Shin me nge cup bibir yang menggoda itu.


__ADS_2