Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 4.2)


__ADS_3

Setelah sholat isya semua santri segera kembali ke asrama masing-masing untuk menaruh mukena, sajadah, dan Al-Qur'an sebelum pergi ke stan makanan.


Di asrama, Ai dan Asri sedang mengobrol ringan sambil merapikan peralatan sholat mereka. Mereka membicarakan tentang malam pertama mereka di sini yang cukup berkesan dan lumayan menguras tenaga.


Terkadang, obrolan mereka akan diselingi topik usil Asri yang masih membicarakan seputar anak santri laki-laki. Dia tampak kagum dan tidak bisa menahan ekspresi antusias di wajahnya yang sudah memerah.


"Ya Allah, Ai...selain dapat teman yang baik kayak kamu di sini aku juga bisa mendapatkan asupan vitamin hati yang memuaskan!" Katanya sangat senang.


Ai menggelengkan kepalanya tidak berdaya, romansa di usia mereka bukanlah sesuatu yang aneh. Hanya saja karena ini di dalam pondok pesantren maka sensasi cinta malu-malu kucing ini jauh lebih menyegarkan daripada di dunia luar.


Diam menyimak semua ungkapan rasa syukur Asri tanpa bisa mengatakan apa-apa, sudut mata Ai tiba-tiba menangkap kedatangan Mega. Dia berjalan masuk ke kamar sendirian dengan wajah datarnya yang mencolok. Matanya lebih suka menatap ke bawah daripada membalas tatapan rasa ingin tahu dari teman-teman sekamar yang lain.


Ai ingin sekali memanggil Mega dan mengucapkan rasa terimakasihnya, tapi sebelum dia bisa melakukan itu Sari sudah ada di sampingnya dengan senyuman lebar tidak biasa.


"Ai! Kamu udah selesai belum beres-beresnya?" Tanya Sari terlihat mencurigakan.


Asri bahkan harus menutup mulut dan terpaksa meluangkan waktunya yang berharga untuk mengamati gerak-gerik Sari yang mencurigakan.


Ai tersenyum,"Alhamdulillah, aku dan Asri baru saja selesai beres-beres. Mau berangkat sekarang?" Ai pikir Sari ke sini karena ingin mengajak mereka jalan bersama ke stan makanan.


Tapi siapa yang sangka justru Sari mendatanginya karena menginginkan sesuatu.


"Eh..nanti aja deh kita pergi ke sana. Lagian di sana juga kita nunggu setengah jam sebelum bisa makan malam." Katanya sambil cengengesan.

__ADS_1


Memang, karena banyak santri yang harus dilayani maka mereka akan mengalami penundaan selama 15 sampai 30 menit untuk pembagian makanan secara merata. Sejujurnya, ini sudah biasa terjadi sehingga Ai tidak terlalu terkejut.


"Oh..tapi aku pikir kita harus segera ke sana agar staf dapur tidak kewalahan saat membagikan makanan." Kata Ai masih dengan senyum.


Sari mengangguk tidak puas,"Yah, kamu bisa ke sana lebih dulu tapi apa kamu mau membantuku sebelum pergi?"


Asri langsung memalingkan wajahnya, memutar bola matanya malas.


"Bantuan apa? Insha Allah jika aku mampu pasti dibantu kok." Kata Ai tidak ragu.


Sari tersenyum lebar, tangannya menggaruk alisnya pura-pura berpikir.


"Apa kamu masih menyimpan makanan yang kami susun di dalam lemari mu tadi siang? Itu..jika kamu tidak masalah maukah kamu membagikannya kepada ku satu atau dua bungkus roti? Em..saat ini aku sangat kelaparan. Aku tidak sanggup menahannya sampai makan malam."


"Aku masih-"


"Ai." Panggil Mega memotong ucapan Ai.


"Mega.." Ai terkejut tapi dia juga senang di sapa oleh Mega.


Mega berjalan ringan mendekati Ai dan Asri. Dia tersenyum tipis kepada mereka dan bersikap seolah tidak ada Sari di sini.


"Semua makanan yang ada di dalam lemari Ai adalah milikku. Kebetulan tadi siang aku belum kebagian jadi sekarang aku akan mengambil bagian ku." Katanya seraya menatap Sari dengan angkuh.

__ADS_1


Sari tercengang, dia berhadapan lagi dengan Mega di sini dan tanpa persiapan apapun. Tapi gengsinya sangat tinggi sehingga dia tidak mudah mengalah.


"Oh, itu salahmu sendiri karena tidak mendapatkan bagian jadi kamu tidak bisa menginginkan milik Ai!" Kata Sari culas.


Mega tersenyum ringan,"Bukankah itu karena seseorang yang terlalu rakus sehingga aku tidak mendapatkan bagian ku? Hah..aku ingat seseorang mengambil lebih dari dua bungkus sedangkan yang lain mengambil dua bungkus. Hei, apa kamu tahu siapa orang rakus itu?" Tanyanya berpura-pura tidak tahu tapi sinar matanya jelas menunjukkan ejekan.


Sari sangat marah dipermalukan seperti ini oleh Mega. Dia tahu jika Mega sebenarnya tahu siapa itu tapi berpura-pura tidak tahu saja untuk membuatnya malu.


"Aku.. tidak tahu." Bohong Sari menahan emosinya.


Mega lalu tertawa kecil. Beberapa waktu kemudian wajahnya kembali datar, sorot matanya yang tajam seolah sedang memandang rendah Sari.


"Jangan terlalu serakah, jika kamu ingin berteman maka bertemanlah dengan hati." Peringat Mega dingin.


Sari sudah tidak tahan lagi dipojokkan olehnya.


"Apa maksudmu selama ini aku ingin memanfaatkan Ai?"


Mega tidak membantah,"Bukankah begitu?"


Bersambung..


Ikuti Alurnya wkwkwkw..

__ADS_1


Insha Allah besok saya akan up 4 chapter 🍁


__ADS_2