Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.13)


__ADS_3

Aku sudah mengatakan ini sebelumnya," Bola mata hitamnya kemudian jatuh pada puncak kepala Ai, sang kekasih yang ia yakini kini sedang menangis.


"Hatiku sudah lama menjadi milik putri Om dan Allah adalah saksinya bahwa tiada hari ataupun malam aku lewati tanpa menyebut namanya dalam sujud. Allah adalah saksinya bahwa tiada hari dan malam aku lewati tanpa menyebut namanya dalam munajat ku. Yang aku inginkan hanyalah putri Om terlepas apakah ia bisa memberikan ku keturunan atau tidak. Aku hanya menginginkan Ai dan bukan wanita lain. Jika sejak awal aku menginginkan keturunan, aku tidak akan pernah memperjuangkan Ai. Jika sejak awal aku menginginkan keturunan, Allah tidak akan meridhoi ku menapaki jalan ini. Tapi tidak Om, aku tidak menginginkan keturunan karena aku tahu putri Om, Allah kirimkan ke dunia ini dengan sebuah kelebihan. Kelebihan yang hanya dimiliki oleh orang-orang beruntung saja. Aku ridho dengan kelebihan Ai dan aku pun lebih ridho dengan semua yang Allah tetapkan kepada kami nanti." Jawaban Ustad Vano bagaikan air sejuk yang mengalir lembut membasahi kekecewaan Ai.


Membuat hatinya tersentuh oleh perasaan hangat yang menggetarkan jiwa dan bahkan, air mata yang kini mengalir dari sudut matanya tidak lagi mengandung kesedihan melainkan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Nak, aku tidak ragu dengan jawaban dan janjimu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku tidak ridho bila putriku dipoligami nanti. Dia adalah putri yang sangat ku cintai, rasa sakitnya adalah rasa sakit ku juga. Sekalipun ia tidak keberatan ada wanita lain di dalam rumah tangga kalian tapi tidak denganku. Aku sangat-sangat keberatan kamu menghadirkan wanita lain di dalam rumah tangga kalian. Karena itulah, maukah kamu menjadikan putriku sebagai satu-satunya hidupmu terlepas kalian memiliki keturunan atau tidak? Jika kamu mau menerima syarat ini maka aku akan ridho putriku dihalalkan oleh mu tapi jika kamu tidak bersedia, maka malam ini adalah perjumpaan terakhir kalian."


Syarat ini sama seperti syarat yang Abi ajukan kepada Ali dulu saat datang meminang Safira. Hari itu Ali adalah orang yang menerima syarat tapi hari ini ia adalah pemberi syarat. Ia merasakan perasaan krisis dimana putrinya menjadi milik laki-laki lain dan sewaktu-waktu bisa disakiti. Oleh karena itu, untuk menjamin kebahagiaan putrinya dia harus mengajukan syarat yang sama seperti Abi dulu.


"Demi Allah, Om, di dalam hatiku tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk membawa wanita lain di dalam rumah tangga nanti. Bagiku, ini sungguh tidak adil karena duniaku hanya akan menjadi milik Ai. Jika bukan Ai, aku tidak menginginkan wanita lain, Allah adalah saksinya." Ustad Vano lagi-lagi membuat mereka dilanda rasa cemburu dan penuh kekaguman.


Tanpa ragu dan tanpa menunggu waktu lama Ustad Vano menjawab setiap pertanyaan Ali. Membuat hati para wanita dilanda perasaan kagum juga cemburu ingin berada di posisi Ai.


Hei, memangnya hati wanita mana yang tidak akan jatuh sejatuh-jatuhnya diperlakukan selembut ini oleh seorang laki-laki?


"Bila ada hari kamu mengingkarinya?" Ali masih menguji.

__ADS_1


Ustad Vano menggelengkan kepalanya menolak pemikiran ini.


"Aku tidak akan." Katanya tidak suka memikirkannya.


Namun Ali masih bersikeras menanyakannya dan masih bersikeras menguji kesungguhan Ustad Vano.


"Bila ada hari dimana kamu mengingkarinya?"


Ustad Vano tetap menolak mengikuti alur yang Ali inginkan. Ia masih dengan tegas menjawab,"Aku tidak akan karena Allah menjaga hatiku hanya untuk Aishi Humaira seorang."


"Mas..." Suara Safira gemetar menahan kebahagiaan.


Semua kekhawatirannya selama ini, semua ketakutannya selama ini memikirkan bagaimana nasib Ai di masa depan malam ini langsung tersapu bersih oleh setiap kata-kata serius yang Ustad Vano ikrar kan.


Dia lega, dia bahagia, dan dia sangat bahagia mengetahui ada laki-laki luar biasa yang sangat mendambakan putrinya.


Dia sungguh lega.

__ADS_1


Ali tersenyum lebar, hatinya kini menjadi tenang.


"Maka pulanglah temui orang tuamu untuk membicarakan tanggal pernikahan kalian dan segera hubungi kami setelah kamu membuat keputusan." Kata-kata ini bagaikan angin segar untuk Ustad Vano.


Membasuh rasa lelah dan letih nya untuk semua perjuangan yang ia lalui agar bisa meraih tangan Ai.


"Vano, aku harap pernikahan kalian bisa dilaksanakan secepatnya jika tidak ingin melihatku berubah pikiran."


Di bawah tatapan semua orang Ustad Vano akhirnya membentuk garis senyuman kelegaan di wajah tampannya. Dia terlihat sangat bahagia dan perasaan syukur tampak jelas di dalam sorot matanya.


"Terimakasih, Om. Aku...aku akan segera memberitahu keluargaku dan tolong...tolong jangan berikan Ai kepada siapapun. Aku sungguh akan menikahinya sesegera mungkin."


Terimakasih ya Allah, sungguh aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu. Batinnya bersyukur.


...وَّلَمْ اَكُنْ بِۢدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا...


..."....Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."...

__ADS_1


...(QS. Maryam 19: Ayat 4)...


__ADS_2