Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.6)


__ADS_3

Satu demi satu santri mulai menyelesaikan sarapan. Mereka tidak tinggal diam di stan makanan karena harus pergi ke sekolah. Namun, banyak juga santri yang makan dengan lambat. Bukan hal yang mengherankan bila sebagian besar datangnya dari santri perempuan. Sedangkan santri laki-laki hanya menyisakan beberapa orang saja di meja makan.


Pertama-tama Ai, Mega, dan Asri mulai mengumpulkan peralatan makan yang ada di meja yang kosong untuk segera dicuci. Mereka sangat sibuk bekerja sampai-sampai tidak punya untuk saling bertukar sapa. Mereka berpisah ke meja terpisah agar lebih cepat selesai dan tidak terlalu memakan banyak waktu karena mereka juga perlu pergi ke sekolah.


"Maaf, apa benar namamu Aishi Humaira?" Seorang santri bertanya kepada Ai.


Ai menghentikan pekerjaannya sebentar, menjawab dengan sopan pertanyaan gadis itu.


"Benar, namaku adalah Aishi Humaira. Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Ai tahu mereka dari tahun masuk yang sama meskipun tidak saling mengenal.


Gadis itu kemudian menoleh kepada temannya dengan tatapan aneh sebelum kembali melihat Ai. Dia tersenyum canggung, menggelengkan kepalanya setelah itu kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan sarapan.


Ai tidak merasa ada yang salah dengan gadis itu jadi dia tetap tersenyum seperti biasanya dan mulai bekerja kembali mengumpulkan piring serta gelas yang kotor.


"Aku tidak yakin. Wajahnya memang seperti perempuan tapi tubuhnya terlalu kurus untuk ukuran seorang perempuan." Gadis itu dan temannya mulai berbisik-bisik.


Mereka mungkin tidak menyadarinya jika pembicaraan itu bisa di dengar oleh Ai, gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka.


Ai terkejut. Kedua tangannya sibuk bekerja terdiam tidak membuat gerakan lagi. Jantungnya memompa sangat keras di dalam tubuhnya. Tidak ada lagi perasaan manis seperti beberapa saat yang lalu ketika ia bertemu dengan Ustad Vano.


Bukannya manis, darah yang mengalir di dalam tubuhnya sekarang membawa emosi gelisah, gugup, panik, dan ketakutan.


Dia merasakan semua perasaan tidak nyaman ini di dalam dirinya.


"Aku juga sebenarnya tidak yakin," Teman gadis itu berbisik.


"Dia sangat cantik tapi... mengapa dadanya sangat datar?" Katanya bingung.

__ADS_1


Ai memejamkan matanya menahan sesak, hatinya sangat sesak saat ini. Rasanya sungguh tidak nyaman.


"Hei, jangan mengatakan itu. Dia menggunakan jilbab besar jadi mungkin saja dadanya di samarkan." Teman yang lain menimpali, dari bicaranya dia adalah orang yang suka berpikiran positif.


Ai membuka matanya kembali. Ada kerapuhan yang bersinar samar di dalam matanya. Memunculkan riak-riak tipis tanda-tanda akan menangis.


"Jangan bercanda. Sekecil apapun dada seorang wanita tapi masih bisa dilihat meskipun wanita itu menggunakan jilbab besar." Gadis itu segera membantah apa yang temannya katakan.


Ai mengambil nafas panjang, tersenyum tipis di sudut bibirnya dan mulai melanjutkan kembali pekerjaannya. Dia bersikap seolah tidak mendengar apa-apa dan bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di sekelilingnya.


Meskipun rasanya sakit, dia hanya bisa menahannya karena tidak ada seorangpun yang bisa membantunya.


Yah, kecacatannya adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihilangkan sekalipun dulu ia pernah menjalani operasi. Sama seperti bekas operasi yang belum bisa menghilang sepenuhnya dari tempat 'itu', kecacatan Ai juga akan tetap membekas di dalam dirinya.


Ini seperti gelar yang tidak bisa dihilangkan.


Tapi pembicaraan mereka masih belum berhenti dan Ai terpaksa harus mendengarkan semuanya.


"Udahlah jangan suudzon begitu, nanti kalau gak benar gimana? Apa yang kalian bicarakan hari ini kelak akan diadili loh sama Allah." Teman gadis itu mengingatkan dengan murah hati.


Tapi gadis itu masih belum mau menyudahi pembicaraan mereka ini.


"Tapi bagaimana jika yang dikatakan rumor itu benar bila dia transgender-"


"Ssst! Jangan katakan itu. Jika benar maka jatuhnya gibah tapi jika tidak maka jatuhnya fitnah. Tidak ada yang dibenarkan di antara kedua ini karena semuanya sama-sama tidak disukai Allah." Potong yang lain ingin segera menyelesaikan topik pembicaraan.


"Bukan masalah dosa tapi ini mengenai keberadaannya di pondok pesantren. Emang kamu mau berinteraksi dengan perempuan jejadian-"

__ADS_1


"Astagfirullah, berhentilah membicarakan masalah ini. Apa kamu gak takut dia mendengar apa yang kamu katakan tadi? Jatuhnya dosa lho kalau gak benar. Udahlah, aku pergi duluan. Bentar lagi sekolah masuk dan aku gak mau datang terlambat."


Satu persatu teman gadis itu pergi. Membuat gadis yang memulai topik pembicaraan buru-buru menyelesaikan sarapannya sebelum pergi mengejar mereka semua.


Kini hanya Ai dengan kepura-puraannya. Dia terdiam, tatapannya kosong dan kedua tangannya masih sibuk bekerja- yah, tangannya hanya memegang piring kotor tanpa tahu harus menaruhnya dimana.


"Transgender?" Ini pertama kalinya Ai mendengar seseorang menuduhnya melakukan transgender.


Ternyata ada yang lebih sakit dari seseorang yang mengatakannya sebagai manusia cacat. Ternyata ada yang lebih sakit dari ini.


Bagaimana mungkin?


Dia tidak pernah melakukan transgender karena sejatinya ini haram dilakukan kecuali ada keperluan kesehatan.


Dia sungguh tidak pernah melakukannya!


"Siapa yang menyebarkan rumor tidak masuk akal ini?" Dia bertanya entah kepada siapa.


"Dan darimana... darimana rumor ini berasal?"


Ai ketakutan, dia takut semua orang mengetahui rumor ini dan membenarkannya. Ah, mungkin lebih tepatnya dia sangat takut bila laki-laki yang ia cintai- Ustad Vano mendengar rumor ini. Dan ia lebih takut lagi bila Ustad Vano sampai mempercayainya lalu membuat jarak dengannya.


Ai sungguh tidak bisa, ia takut sungguh sangat takut.


Ia malu bertemu dengan Ustad Vano lagi, dia sudah tidak punya wajah lagi karena rahasianya entah siapa yang tahu telah menyebarkannya. Menciptakan rumor tidak benar mengenai dirinya di sini.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"

__ADS_1


__ADS_2