
"Apa karena pembicaraan malam itu?" Mega mengingat pembicaraan anehnya dengan Ustad Azam sebelum dia pergi.
Asri mengangguk tampak bijak.
"Sebagian besar karena faktor itu dan sebagian kecilnya lagi karena setiap perhatian yang Ustad Azam berikan kepadamu."
Mega melambaikan tangannya tidak setuju.
"Itu bukan salah paham-"
"Itu salah paham!" Potong Asri bersikeras.
"Jika tidak lalu kenapa Ustad Azam terus saja menyebut soal janji kepadamu. Jika kamu tidak menepatinya maka dia akan menuntutnya di hari pengadilan Allah, coba pikirkan Mega betapa seriusnya masalah ini di akhirat kelak." Asri mengingatkan Mega tentang inti pembicaraan mereka malam itu dengan murah hati.
"Aku tahu tapi-"
"Jangan potong dulu. Biarkan aku menyelesaikan perkataan ku, setelah itu baru kamu bisa menyanggah ataupun menolaknya." Potong Asri anehnya bersikap lebih tegas kepada Mega dibandingkan kepada Ai.
Mega mendelik tajam, wajahnya cemberut karena orang yang selalu memotong pembicaraan sejak awal tiada lain dan tiada bukan adalah Asri sendiri.
"Aku anggap diam mu adalah sebuah persetujuan." Asri mengabaikan ekspresi cemberut Mega.
"Begini, malam itu bukankah kalian saling menuduh siapa orang pertama yang membatalkan pertunangan kalian? Dari sisi ceritamu, orang yang membatalkan pertunangan adalah Ustad Azam namun kenapa malam itu dia mengatakan jika kamu adalah orang yang membatalkan pertunangan kalian?. Mega, aku tahu kamu mungkin sakit hati karena dugaan 'pengkhianatan' Ustad Azam tapi itu bukan berarti kamu harus menutup mata atau telinga untuk setiap kebenaran yang ada di depan mu. Hei, mungkin ada alasan kenapa foto Kak Sasa ada di dalam ponsel Ustad Azam tapi aku yakin itu bukan karena masalah asmara. Jika tidak, lalu kenapa dia terus menuntut mu untuk menepati janji? Bukankah sisi ini cukup mencurigakan?"
Mega terdiam, dia mengigit bibirnya tidak tahu harus membantah apa. Sejujurnya apa yang Asri pikirkan telah berkali-kali mengisi kepalanya. Setiap waktu memikirkan masalah ini Mega mulai mengembangkan harapan tapi sekali lagi terjebak di dalam kebingungan ketika mengingat wajah tersenyum Sasa di layar ponsel Ustad Azam.
__ADS_1
Mega berharap ini adalah sebuah kesalahpahaman namun dia takut, dibalik kesalahpahaman ini ada sesuatu yang akan membuatnya lebih sakit lagi.
Maka jadilah dia hanya berdiri di tempat, membenarkan apa yang dia pikirkan dan menganggap jika hubungannya dengan Ustad Azam sudah tidak tertolong lagi.
"Mega, apa yang Asri katakan itu benar. Ini mungkin hanya salah paham saja diantara kalian berdua dan aku pikir sebaiknya kesalahpahaman ini harus kalian berdua jernih kan bersama-sama agar tidak ada yang terluka."
Mega mengusap wajahnya tampak lelah,"Aku tidak tahu, aku tidak tahu." Bisiknya tidak berdaya.
"Jika aku dan dia memang salah paham maka Allah akan menunjukkan kami sebuah jalan. Jika tidak, maka ini adalah akhirnya dan aku tidak ingin terlalu banyak berharap-"
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ
Innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi-angfusihim,
Potong Ai dengan suara yang sangat lembut dan halus.
"Allah sudah memberikan mu jalan, wahai saudaraku. Jika kamu tidak mau mengambil langkah lebih dulu maka Allah tidak akan mengubah situasi diantara kalian berdua."
Mega kembali mengusap wajahnya malu.
"Tapi aku adalah perempuan dan perempuan sejatinya tidak mengejar-ngejar seorang laki-laki."
Ai langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Siapa bilang? Bukankah Siti Khadijah RA adalah orang pertama yang mendekati Rasulullah Saw? Dia berhasil membuat Rasulullah jatuh cinta kepadanya, bagi Rasulullah Saw, Siti Khadijah RA adalah kekasihnya yang tidak akan pernah tergantikan." Ai segera membantah pikiran ini secara langsung.
"Namun Ai, walaupun perempuan tidak salah mengejar-ngejar cinta seorang laki-laki tapi rasa malu yang ada di dalam diri kita membuatnya sangat berat." Ujar Asri memberikan celah.
"Benar, karena besarnya rasa malu dapat menggambarkan betapa baik kualitas iman seseorang. Nah, karena itulah Allah memberikan kita para kaum perempuan untuk mengikuti pilihan yang lain."
"Pilihan yang lain?" Asri dan Mega masih belum ngeh.
"Ya, pilihan mengikuti Siti Fatimah Az-Zahra RA, putri tercinta Rasulullah Saw. Kalian tidak lupa bukan betapa indah kisah cinta Fatimah RA dengan salah satu sahabat sekaligus keponakan Rasulullah Saw, yaitu Ali bin Abi Thalib. Kisah cinta mereka menggetarkan langit, membuat iri para bidadari surga, dan dikagumi oleh seluruh penghuni langit. Tahukah kalian mengapa kisah cinta mereka begitu luar biasa?"
"Itu karena cinta dalam diam." Jawab Mega cepat.
"Memendam cinta dalam diam, itulah yang mereka lakukan. Tidak ada yang tahu mengenai perasaan mereka bahkan Rasulullah Saw yang sangat mencintai putrinya tidak tahu mengenai cinta mereka. Tidak hanya Rasulullah Saw, akan tetapi setan pun tidak tahu jika di hati mereka berdua ada sebuah perasaan yang sangat manis. Tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT, sang pemilik hati. Mereka mengungkapkan perasaan masing-masing lewat doa-doa yang mereka lambung kan di sepertiga malam. Berbicara dan memberitahu Allah bahwa hati mereka sudah terpaut satu sama lain. Lalu, apa balasan Allah? Allah satukan mereka di dunia dan di surga-Nya. Mereka adalah pasangan abadi di dunia maupun di akhirat, mashaa Allah, bukankah waktu di sepertiga malam sungguh sangat mustajab dan lebih dekat dengan Allah?"
"Ai," Panggil Asri tidak yakin.
"Jadi, jika kamu tidak bisa mengikuti langkah Khadijah RA, maka ikutilah langkah Fatimah RA. Bujuk Allah di sepertiga malam agar kalian bisa bersama." Ai menyelesaikan semua kata-katanya dengan senyum sumringah.
"Ai, bukankah..kamu juga seharusnya melakukan ini?" Asri akhirnya bisa berbicara.
"Melakukan apa?"
Mega menjawab tampak gemas,"Membujuk Allah di sepertiga malam agar kalian berdua disatukan selayaknya kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah RA, bukankah seharusnya kamu juga melakukan ini?"
Bersambung..
__ADS_1
Insha Allah nanti malam ada chapter selanjutnya 🍃