Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 1.6)


__ADS_3

"Masuklah, pilih ranjang masing-masing dan atur barang pribadi kalian di masing-masing lemari." Tiara pura-pura tidak melihat ekspresi tidak puas Frida karena kesenangannya diganggu.


Dia membuka pintu kamar dan mempersilakan santri baru masuk ke dalam. Ai ikut masuk mengikuti yang lain. Dia menatap sekelilingnya menilai posisi yang paling nyaman untuknya.


Kamar ini cukup luas karena dihuni 20 orang santri jika dilihat dari ranjang lengkap dengan lemarinya. Ini adalah ranjang kecil dengan ukuran satu orang, sedangkan lemarinya pun bisa dibilang cukup kecil jika dibandingkan dengan kemari normal mereka di rumah.


Setidaknya ini cukup untuk satu koper pakaian. Sisanya mereka bisa menaruhnya di dalam koper sendiri jika membawa lebih. Lalu di lemari itu ada kolom kecil tempat untuk menaruh buku-buku atau alat-alat sekolah. Ini terbilang nyaman karena berada tepat di samping tempat tidur. Sehingga jika ingin belajar atau membaca buku, mereka hanya perlu mengulurkan tangan saja tanpa membuang banyak tenaga ataupun waktu.


"Setiap kegiatan pondok pesantren sudah mengaturnya dengan ketat. Mulai dari tidur pukul 10 malam paling lambat, bangun pukul 3 pagi untuk melakukan sholat malam dan menunggu sholat subuh, pukul 7 pagi kalian sudah bersih dan sarapan pagi di stan makanan yang selalu tersedia di samping lapangan olahraga, kemudian pukul 8 pagi kalian sudah ada di dalam kelas untuk memulai pelajaran. Setelah itu pukul 2 siang kalian bisa kembali ke asrama lagi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap karena pada pukul 3 sore kalian akan berkumpul di masjid untuk mengaji atau menghafalkan Al-Qur'an. Kalian bisa kembali lagi ke asrama pada pukul 5 sore untuk membersihkan diri pergi ke masjid untuk shalat magrib dan melanjutkan lagi membaca Al-Qur'an. Terakhir, setelah sholat isya kita akan berkumpul kembali di stan makanan untuk makan malam dan setelah itu kalian bisa kembali ke asrama untuk beristirahat atau belajar." Ucap Tiara menjabarkan satu demi satu kegiatan rutin pondok pesantren mereka.


Reaksi yang diperlihatkan oleh mereka beraneka ragam dan anehnya ini agak lucu. Ada yang terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa-apa, ada yang menampilkan ekspresi kesal, santai, atau bahkan tidak peduli.


Apapun itu, siap tidak siap mereka harus menjalaninya mulai dari hari ini.


"Tidak apa-apa, ini mungkin sedikit sulit untuk kalian tapi jika dilalui dengan tekun maka semuanya akan terasa menyenangkan. Kalian semua sedang berproses untuk menjadi pribadi yang baik, untuk bisa mewujudkannya kalian tentu membutuhkan perjuangan yang cukup melelahkan. Tapi percayalah, ini sepadan dengan apa yang akan kalian dapatkan kelak." Ujar Tiara menghibur mereka.


Dia tahu betapa sulitnya melalui ini semua tapi mau bagaimana lagi, ini juga dilakukan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan terbiasa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Jadi sebenarnya mereka tidak akan rugi.


Setelah itu mereka semua bisa memilih ranjang masing-masing dan membereskan barang yang mereka bawa ke dalam lemari pakaian.


"Assalamualaikum?" Suara lembut seseorang menarik Ai dari lamunannya.


"Waalaikumussalam. Apa kamu berbicara dengan ku?" Ai menoleh ragu.


Di sampingnya sudah ada gadis asing dengan penampilan yang cukup sederhana. Sepertinya dia berasal dari desa.


"Benar, kenalkan namaku adalah Asri Rahmawati Dewi dari desa A. Orang-orang biasa memanggil ku Dewi jadi kamu juga bisa memanggilku dengan panggilan itu. Dan kamu siapa?" Asri mengulurkan tangannya ke depan Ai.

__ADS_1


Ai tersenyum sopan dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Asri.


"Namaku adalah Aishi Humaira dari kota C, kamu bisa memanggilku Ai. Senang berkenalan dengan mu."


"Wah, nama yang cantik. Tidak heran orang tuamu memberikan nama ini karena kamu juga terlihat sangat cantik!" Asri benar-benar tidak berbicara omong kosong.


Sejak awal melihat Ai, dia langsung ingin berteman dengannya. Apalagi ketika melihat kedua mata Ai yang sangat menonjol, itu jernih dan indah. Sesungguhnya, Ai punya daya tarik yang kuat. Hanya saja karena dia tidak suka berbicara orang-orang jadi malu menyapanya lebih dulu.


"Terimakasih, tapi namamu juga cantik sama seperti dirimu." Ai merasa nyaman berbicara dengan Asri.


"Ah, kita harus segera memilih kasur sebelum santri yang lain datang." Dia tiba-tiba menyadari jika anak-anak yang lain sudah mendapatkan kasur masing-masing.


"Apa kamu mau tidur di sebelah ku?" Tanya Asri berharap Ai mengiyakan.


"Boleh." Ai senang mendapatkan teman baru.


"Baiklah, kita lebih baik tidur di.." Dia melihat kasur-kasur yang masih belum berpenghuni.


Ai mengikuti kemana saja Asri membawanya. Dia bahkan tidak protes ketika Asri memintanya tidur di kasur yang menempel langsung di tembok sedangkan Asri di kasur sampingnya.


"Dimana barang-barang mu?" Asri tidak tahu kejadian tadi jadi dia heran melihat Ai tanpa membawa apapun.


"Ah itu.. petugas kedisiplinan asrama putri akan mengantarkannya ke sini." Diingatkan kembali tentang tas punggungnya, Ai menjadi cemas dan gugup jika apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.


"Hah..maka kamu harus bersabar-eh, kamu juga tidur di sini?"


Ai mendongakkan kepalanya ingin melihat siapa lawan bicara Asri.


Itu adalah gadis yang membela Ai tadi. Sepertinya dia adalah tipe orang yang tidak suka tersenyum karena saat ini saja dia tidak tersenyum meskipun sudah di sapa dengan hangat oleh Asri.

__ADS_1


Dia hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum melihat ke arah Ai yang juga sedang melihatnya. Ketika melihat Ai, ekspresi gadis itu menjadi rumit. Dia ingin berbicara tapi terlihat ragu, akhirnya dia mengalah dan memutuskan untuk menutup mulutnya.


Berpura-pura mulai melipat pakaiannya sebelum memasukkannya ke dalam lemari.


"Apa kamu mengenalnya?" Tanya Asri santai.


Ai ragu tapi tetap menggelengkan kepalanya."Tidak, aku tidak mengenalnya." Lebih tepatnya dia lupa pernah bertemu dengannya dimana.


"Hem, tapi kenapa aku merasa jika dia mengenal mu?" Bingung Asri.


"Benarkah?" Karena dia juga merasakan hal yang sama.


Hanya saja itu samar dan dia juga tidak yakin akan hal itu.


"Cobalah berbicara dengannya nanti. Mungkin saja kalian saling mengenal sebelumnya."


Ai memikirkannya,"Aku akan mencobanya nanti." Katanya sambil merebahkan diri di atas kasur.


Kasurnya tidak empuk tapi masih nyaman untuk ditiduri. Dia memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.


Tubuhnya agak kelelahan setelah menempuh pendidikan panjang hari ini, di samping itu dia telah mengalami banyak hal di hari pertamanya tinggal di sini. Entah itu hati atau tubuhnya, Ai butuh waktu untuk mengistirahatkannya.


Kak Vano-ah, tidak. Sekarang dia adalah seorang Ustad, Ustad Vano.


Ustad Vano, kedua orang tuaku pernah mengatakan bila mereka dipersatukan oleh Allah setelah melalui banyak malam tanpa tidur. Mereka terbangun di tengah malam, mendirikan sholat dan melangitkan nama masing-masing di hadapan Allah.


Ustad Vano, untuk rasa ku yang mungkin tidak kau miliki apakah..aku bisa melakukan hal itu juga kepadamu?


Apakah Allah mau mendengarkan doa-doa ku?

__ADS_1


Bahkan dengan kondisi yang cukup rumit ini, apakah ini adil untukmu bila aku merayu Sang Pencipta agar hatimu ditetapkan untukmu?


Apakah ini adil untukmu, wahai Ustad?


__ADS_2