Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.7)


__ADS_3

Terkejut, Asri dan Mega saling menatap. Mereka tidak pernah mendapatkan penolakan dengan nada setegas ini dari Ai sebelumnya. Ai selalu menjadi orang yang lembut, baik cara bicara maupun sikap sopan santunnya. Itulah mengapa mereka terkejut saat mendapatkan reaksi setajam ini dari Ai.


"Baiklah, aku akan meminta dapur menyiapkan makanan untuk kamu nanti." Kata Mega akhirnya mengalah.


Ai masih betah memejamkan matanya di atas ranjang, tidak ada respon singkat entah itu melalui suara atau gerakan tubuh. Rupanya dia benar-benar tidak ingin diganggu.


"Tolong makanannya nanti dimakan ya, Ai, agar kamu bisa minum obat dan pulih kembali." Kata Asri di samping.


Ai lagi-lagi tidak memberikan respon apa-apa.


Asri tersenyum kecil. Mereka lalu mengucapkan pamit kepada Ai sebelum pergi menuju stan makanan bersama teman-teman kamar yang lain.


"Ada apa dengan Ai, sikapnya jadi lebih aneh lagi semenjak pergi bersama Kak Tiara ke rumah Umi." Asri adalah pengamat yang baik, dari sikap tidak biasa Ai saja dia tahu jika ada sesuatu yang telah terjadi tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Mega mengernyit,"Apa Umi mengatakan sesuatu yang buruk kepadanya?"


Asri yakin Umi tidak akan suka berbicara buruk kepada siapapun, termasuk kepada Ai sendiri. Beberapa kali ia memperhatikan sikap Umi yang sangat mengistimewakan Ai di pondok ini dan ia tahu bila Umi pasti mengenal keluarga Ai sebelumnya.


"Aku yakin Umi tidak mengatakan kata-kata yang buruk kepada Ai. Kamu juga tahu sendiri kan jika Umi memperlakukan Ai berbeda dari kita-kita. Jadi menurut ku mustahil Umi mengatakan sesuatu yang buruk kepadanya." Asri langsung membantah.


Mega pikir apa yang Asri katakan juga benar. Setahunya Umi adalah orang yang lembut, di samping itu ia memperlakukan Ai dengan cara yang berbeda. Jadi, bagaimana mungkin Umi tega mengatakan hal-hal buruk kepada sahabatnya.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan lagi. Aku pikir ini mungkin karena masalah rumor itu. Ai pasti sangat terpukul dengan rumor buruk tentang dirinya yang masih belum terselesaikan." Kata Asri tidak ingin terlalu pusing lagi.


Toh, mereka berdua saat ini hanya bisa menduga-duga dan secara tidak sengaja mengembangkan sebuah prasangka buruk. Kebiasaan ini jelas tidak baik dan mereka harus segera menutup mulut sebelum menghasilkan pundi-pundi dosa.


...🍁🍁🍁...


40 menit kemudian semua santri meninggalkan stan makanan dan segera kembali ke asrama masingmasing.


Di dalam kamar Asri dan Mega terlihat cukup mencolok dengan tas paper bag berwarna hitam di tangan- sebenarnya mereka sudah mencolok sejak Ustad Vano datang menghampiri. Di saat itu terjadi banyak santri perempuan yang menembakkan mata laser mereka, bertanya-tanya apa yang sedang Ustad Vano bicarakan kepada mereka dan mengapa Ustad Vano memberikan tas paper bag berwarna hitam kepada mereka.


Karena mereka tidak mengenal Asri dan Mega, alhasil semua pertanyaan hanya bisa dipendam karena mereka pun malu bertanya.


"Kalian tidak boleh cemburu yah, teman-teman karena paper bag ini Ustad Vano titipkan kepada Ai." Kata Asri setelah masuk di dalam kamar.


"Ai, bangunlah." Asri mengguncang-guncang tubuhnya.


"Hem?" Ai terbangun dari tidurnya.


"Ini, Ustad Vano memberikan sesuatu kepadamu-"


"Dan ia juga bilang sedang menunggumu di depan gerbang asrama putri." Potong Mega membuat teman-teman kamar yang lain mengeluarkan suara kecemburuan- tepatnya mereka sedang menggoda Ai.

__ADS_1


Ai menatap paper bag berwarna hitam ditangan Asri. Menggelengkan kepalanya, ia kembali menarik selimut hangatnya ingin menyambung tidur.


"Kembalikan kepadanya, aku tidak bisa terus-terusan menerima kebaikan Ustad Vano." Tolak Ai jelas membuat teman-teman kamarnya tidak percaya.


Mereka pikir akan melihat adegan malu-malu Ai dengan wajah merah merona menerima hadiah tersebut.


Tapi nyatanya tidak ada adegan yang mereka semua harapkan.


"Inilah yang ingin ku katakan. Dia bilang kamu 'harus' menerimanya dan segera temui ia ke depan gerbang asrama putri." Ucap Mega sengaja menekankan kata 'harus'.


Namun, Ai adalah gadis yang keras kepala. Dia tidak mau sekalipun Mega memaksanya.


"Aku tidak menginginkannya. Jika kamu mau berikan saja barang ini kepada siapapun."


Mega benar-benar diuji kesabarannya di sini. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perubahan emosi Ai beberapa waktu ini.


"Tidak pantas memberikan hadiah orang kepada orang lain, kamu jelas tahu ini." Kata Mega dingin.


Ai tahu, tapi ia menolak mendengarkan. Baginya melepaskan diri dari Ustad Vano adalah poin utama yang harus ia lakukan selama beberapa waktu ke depan. Karena apa yang semua Almaira katakan benar, dia terlalu berani dan lancang menginginkan seseorang yang tidak sepadan untuknya.


"Hem, kalau begitu kembalikan saja barang ini kepadanya." Kata Ai tidak perduli.

__ADS_1


Asri melihat suasana semakin tidak baik jadi dia menepuk pundak Mega ringan, mencegahnya untuk mengeluarkan suara lagi yang bisa memperburuk keadaan.


__ADS_2