Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Lalu Satrio dalam keadaan pingsan dibawa masuk ke kamar.


Bi Nini pun segera menelpon Dokter pribadi keluarga Pak Heru. Mang Ujang kembali lagi ke Pos untuk berjaga-jaga kembali sambil menunggu Dokter.


Aku hanya bisa mencoba membangunkan dengan minyak kayu putih.


"Sat, bangun dong please, maafin aku, aku nggak tau kalau kamu masih sakit, kamu sih nggak ngomong-ngomong."ucapku merasa bersalah


Tapi Satrio masih tidak sadarkan diri.


Tiba-tiba Dokter datang, aku pun minggir, agar Dokter dapat memeriksa dengan nyaman.


Lalu Dokter memeriksa Satrio.


"Dok maaf , Satrio koq belum sadar?."tanyaku panik


"Iyaa ini cukup serius, mengingat bahwa Mas Satrio baru saja pulang dari rumah sakit, keadaan nya belum pulih, jadi Mas Satrio harus nya istirahat beberapa hari lagi, jangan sampai keluar rumah apalagi kecapean, pola makannya juga harus teratur, kalau dibiarkan dia kecapean saya khawatir penyakit nya bertambah parah."ucap Pak Dokter


"Iya Dok, tadi Satrio maksain diri buat kerja didepan laptop, terus juga ke mall sama saya dan tadi keliling rumah."ucapku jujur


"Oh pantes saja Mbak, Mas nya nggak boleh lagi diajak kemana-mana dulu, ini lukanya masih sangat sakit, untung nya saat tertusuk pisau, lukanya tidak terlalu dalam, jadi Mas Satrio masih selamat, cuma resikonya harus hati-hati terhadap bekas luka, tapi tenang jangan panik, saya berikan obat pereda nyerinya dan obat tidur, agar istirahat nya tidak terganggu, kalau ada apa-apa saran saya langsung bawa kerumah sakit, Mas Satrio memang ngotot sekali ingin pulang padahal belum boleh mbak."ucap Pak Dokter menjelaskan


"Oh begitu Dok, makasih yaa Dok, kalau gitu nanti saya akan berikan ketika Satrio sadar."ucapku tenang


"Kalau gitu saya permisi dulu yaa Mbak, jangan lupa obatnya dan hubungi kami jika terjadi apa-apa, tolong jaga Mas Satrio, dari dulu dia nggak pernah berubah selalu takut lama-lama dirumah sakit, selalu sok kuat dan pekerja keras, jadi Mbak nya harus sangat memperhatikan bahkan makanan nya jangan sembarangan."ucap Pak Dokter


"Iyaa Dok, maaf yaa Dok."ucapku


Akhirnya Pak Dokter diantar Bi Nini keluar rumah.


Aku duduk kembali disamping Satrio. Ku lihat wajahnya yang baik ketika tertidur, dia sebenarnya nggak menyebalkan, andai aku lebih awal mengenal nya mungkin aja aku sudah jatuh cinta sama dia, tapi sampai sekarang aku masih memikirkan Pak Nathan.

__ADS_1


Tapi ada perasaan sedih ketika melihat Satrio tak berdaya, aku seolah melihat dan merasakan betapa dalamnya luka yang dia rasa, bahkan luka yang tak nampak, luka kesedihan yang dia pendam.


Diam-diam karena dia masih belum sadar, aku pun menggenggam kedua tangannya dan memberikan pesan


"Sat, kamu harus bangun, kamu nggak boleh sakit, kamu harus kuat, kamu jangan kayak gini, aku jadi ngerasa bersalah udah bikin kamu kayak gini, aku janji akan nemenin kamu sampai kamu sembuh."ucapku lirih


Lalu Satrio membuka mata dan menggenggam tangan ku balik dengan sangat erat.


"Janji ya Nad, kamu bakal ada disamping aku? , aku takut kamu pergi, aku takut kamu ninggalin aku kayak Salsa."ucapnya menangis


"Huss jangan ngomong gitu, aku janji selalu ada buat kamu, karena kamu sudah baik padaku dan keluarga ku, anggap aja aku saudara atau sahabat mu."ucapku


"Nad, jadi apapun kamu dihidup aku, aku hanya minta jangan pernah pergi dan menghilang, aku butuh kamu."ucapnya


"Yaudah kamu tenang yaa, kamu minum obat dulu, jangan kecapean lagi."ucapku menenangkan


Aku seperti tidak melihat Satrio yang biasanya, dia sangat rapuh dan sedih, aku tahu pasti dia sangat kepikiran mantannya Salsa, tapi ucapan dia ke aku,aku ngerasa dia seperti benar-benar cinta sama aku. Ah tapi nggak mungkin dia cinta sama perempuan kayak aku


Aku merasa seperti sayang padanya, entah aku kasihan atau...


Ah aku jadi malu, lalu aku meninggalkan kamarnya.


Bibi Nini berada disamping pintu yang tidak dikunci, betapa malunya aku , kepergok mencium Satrio.


"Eh Bibi, Bibi udah lama disini?."ucapku malu


"Iya Non, tadi habis anterin Pak Dokter Bibi kesini lagi, cuma lihat kalian lagi mesra, Bibi jadi nggak enak, jadi Bibi diem aja disini, gimana keadaan tuan muda Non?."tanya Bibi


"Ya gitu Bi, sebenarnya masih sakit luka bekas tusukan kemarin, cuma dia nggak dirasa, yaa sekarang udah minum obat, kalau ada apa-apa kita harus segera bawa kerumah sakit Bi, cuma kata Dokter, Satrio alergi rumah sakit yaa Bi?"tanyaku


"Mudah-mudahan Tuan muda nggak apa-apa, jangan sampai dirawat lagi, Iyaa Non semenjak kejadian orang tuanya dan Tantenya, dia benci lama-lama dirumah sakit."ucap Bibi sedih

__ADS_1


Tiba-tiba bel berbunyi.


Ting tong...


Ting tong...


"Siapa yaa Bi? kan Dokter udah pulang? oh mungkin Pak Nathan, katanya dia mau kesini, biar saya buka aja pintunya."ucapku


"Oh iya Non silakan."ucap Bibi


Lalu aku membuka pintu. Betapa terkejutnya aku Pak Nathan tidak sendirian, melainkan bersama Nenek lampir alias Melisa.


"Sore Nad, maaf ganggu, eh koq kamu ada yang berubah yaa nggak pakai kacamata lagi dan wajah kamu lebih putih."ucap Pak Nathan kaget


"Paling pakai softlens yang sama suntik pemutih."ucap Melisa


"Haha nggak lah, saya mana punya uang buat begituan, kecuali Bu Melisa bisa jadi udah pernah sampai tahu segala, saya mah masih sama koq Pak, ini rambut saya masih dikepang, kalau kacamata, sebenarnya saya emang gak minus, terus kalau putihan karena saya nggak pakai BB creame yang gelap lagi, tadi Satrio yang memilihkan make up baru untuk saya yang lebih cocok dan pas untuk saya, ngomong-ngomong silakan masuk."ucapku santai sambil manas-manasin Nenek lampir


"Tapi kamu lebih cantik lho Nad,, oh ya Maaf Nad, saya ngajak Meli, soalnya dia mau lihat keadaan Satrio."ucap Pak Nathan merasa bersalah


Melisa tampak marah melihat Nathan memujiku, namun dia masih berusaha bersandiwara.


"Satrio sekarang mana Nadia? kamu jadi pembantu nya yaa sekarang?."ucap Melisa


"Iya nggak apa-apa Pak, kalau nggak diajak nanti ngambek lagi, Satrio ada dikamar lagi istirahat, habis minum obat, saya lebih dari pembantu Bu, saya kan calon istri nya."ucapku


"Ih nggak banget Satrio jadiin kamu istri."ucap Melisa menggerutu


"Udah deh sayang, bukan waktu nya berdebat, lagian kan hak Satrio mau sama siapa, kita kan cuma sahabat nya, lagian kita mau jenguk kan bukan mau berantem."ucap Pak Nathan


"Iya sayang maaf aku emosi bawaannya kalau deket-deket si Nadia."ucap Melisa

__ADS_1


Lalu aku mengajak mereka duduk dulu diruang tamu, karena Satrio sedang istirahat awalnya Melisa menolak karena memaksa ingin masuk kamar, cuma karena dikasih tahu Pak Nathan jadi pura-pura nurut deh dia. Dasar tamu tak diundang.


__ADS_2