Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 23.6


__ADS_3

Ai bungkam, dia bangun dari duduknya dan segera berlari keluar dari ruang guru untuk menenangkan dirinya. Dia ingin segera pulang tapi masih belum waktunya sekolah memulangkan mereka.


"Bu Dinda," Guru yang sedari tadi diam-diam menyimak kini mengeluarkan suara.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Dinda langsung kembali ke dalam setelannya yang ramah.


Guru itu tersenyum tipis. Dengan gerakan ringan dia menutup buku catatan yang ada di atas mejanya.


"Dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa jadi tidak sepantasnya Bu Dinda mengeluarkan kata-kata sekejam itu. Lagipula, Bu Dinda juga sudah dewasa dan mempunyai pikiran yang lebih matang maka Bu Dinda seharusnya tahu untuk tidak menggunakan masalah pribadi untuk menyerang seorang anak kecil yang tidak apa-apa. Hati-hati, bila masalah ini diketahui maka Bu Dinda tidak hanya dikeluarkan dari ikatan guru namun juga akan berhadapan dengan walinya, bahkan mungkin saja Bu Dinda harus menempuh jalur hukum bila kedua orang tuanya tidak terima dengan perlakuan Bu Dinda kepada anak mereka." Guru itu menasehati dengan baik dan ramah, seolah-olah masalah ini tidak pernah mengganggunya.


Namun meskipun begitu maknanya sangat jelas. Dinda dan guru itu sama-sama tahu bahwa perkara ini bukanlah perkara yang mudah.


"Apa yang Ibu, maksud? Saya..saya tidak mengerti dengan apa yang Ibu katakan." Dinda berpura-pura bingung dan sandiwaranya cukup bagus.


Tapi sayang, guru ini sudah berpengalaman menghadapi situasi canggung seperti ini jadi dia tidak tertipu.


"Apa yang aku maksud Bu Dinda seharusnya tahu. Lain kali, tolong jangan libatkan anak-anak dalam masalah pribadi Bu Dinda. Atau kalau tidak, imbasnya tidak akan main-main." Dia kemudian berdiri dari duduknya, tersenyum ringan kepada Dinda sebelum pergi ke kantin untuk bergabung dengan rekan-rekan gurunya.

__ADS_1


"Sial.." Umpat Dinda marah.


Dia meremat tangannya kuat, mengusap wajahnya lelah sekaligus marah karena kesenangannya diganggu oleh orang lain.


"Ini karena Allah tidak adil kepadaku! Allah tidak pernah adil untukku. Aku yang lebih dulu bertemu dengan Mas Ali namun mengapa wanita lain yang memiliki Mas Ali!" Bisiknya menahan sakit.


Dia sungguh tidak mau melakukan ini semua, menyakiti anak kecil yang tidak berdosa bukanlah keinginannya. Namun dia sungguh tidak tahan melihat mereka hidup bahagia sementara dia menahan luka dan sakit di sini.


Mencintai seseorang yang sudah memiliki orang lain dihatinya, sungguh.. bukankah itu adalah hal yang paling menyiksa di dunia ini?


"Setiap sholat aku selalu menyebut nama Mas Ali dalam munajat, tapi mengapa? Mengapa bukan aku ya Allah padahal Kau lebih tahu betapa dalam cintaku untuknya!" Allah lebih tahu betapa dalam dan tulus hatinya untuk Ali tapi kenapa Dia tidak mengabulkan semua doa-doanya?


Tapi kenapa rasanya begitu sulit?


"Allah tidak hanya tidak mengabulkan doaku, namun Dia juga melipatkan gandakan kebahagiaan wanita itu. Allah berikan mereka anak yang banyak disaat aku pernah meragukan kesuburan rahimnya, ya Allah.. apakah Engkau ingin mempermainkan ku?" Bisiknya kesakitan.


Hari dimana dia mendengar Safira berhasil melahirkan 3 bayi kembar adalah hari dimana dia mulai meragukan kehidupannya sendiri. Dia merasa muak dan marah.

__ADS_1


Berulangkali dia berpikir bila seharusnya orang yang ada di posisi Safira adalah dia sendiri. Tempat itu harus menjadi miliknya, sampai hari ini benar-benar datang.


Dert


Dert


Dert


Dinda melihat ponselnya, ada nomor asing di layar.


"Ya?" Bisiknya tidak bersemangat.


"Aku telah menemukan keluarganya."


Bersambung..


Jadi iya, Ai dan Vano masuk cerita islami. Namun meskipun begitu dia pasti akan bertemu dengan orang-orang yang sempit hatinya heheh..

__ADS_1


Tapi setelah hujan akan ada pelangi, jadi kesedihan Ai tidak akan bertahan lama💚


Eits..Ai kuat kok, dia memang lemah tapi bukan berarti hatinya lemah pula 💚


__ADS_2