
Sekarang Ai, Rina, dan Mega duduk patuh di dalam ruang kepala sekolah. Ekspresi di wajah mereka tercetak berbeda-beda. Ai jelas sangat khawatir karena ini pertama kalinya membuat masalah di sekolah dan bahkan harus melibatkan kedua orang tuanya untuk datang ke sini.
Sedangkan Rina tampak bias menatap Mega di seberang sofa karena sejak masuk ke dalam ruang kepala sekolah Mega terus saja menangis pilu. Seolah-olah yang memulai pertengkaran bukanlah dia.
"Kalian.." Wakil kepala sekolah sampai bingung ingin mengatakan apa.
Masalah ini untuk sementara dia tangani sendiri karena kepala sekolah sedang ada acara rapat sedangkan Dinda izin cuti selama beberapa hari ke depan.
"Kalian ini masih anak-anak dan masih 6 tahun. Bagaimana mungkin di usia semuda ini kalian membuat keributan di sekolah." Wakil kepala sekolah tampak pusing dengan kelakuan mereka bertiga.
Rina tidak terima.
"Kami berdua tidak bersalah, Bu." Kata Rina membela diri.
Dia lalu menunjuk Mega yang masih asik menangis.
__ADS_1
"Dialah yang memulai pertengkaran pertama kali! Dia membuang kotak bekal ku dan mengatakan bila Papaku adalah pengemis yang miskin!" Katanya mengklarifikasi.
Wakil kepala sekolah,"...." Dia sontak memegang kepalanya pusing.
Ini masih anak-anak tapi mereka sudah seperti ini, lalu bagaimana bila mereka besar nanti? Dia tidak bisa memikirkannya.
"Dia bohong, Bu! Mereka berdua yang mengganggu ku terlebih dahulu. Mereka bilang aku tukang bohong padahal aku tidak pernah mengganggu mereka!" Mega berdalih, mengeraskan suara tangisannya yang semakin membuat wakil kepala sekolah kewalahan.
Mega ini, dia tahu bila anak ini lebih sombong dari teman-temannya. Namun, dia tidak pernah menduga tingkat kesombongannya akan sampai selevel menggemparkan sekolah.
"Itu benar bila kamu adalah tukang bohong! Kamu bilang Ai adalah monster karena dia punya dua alat kelamin tapi Papaku bilang monster tidak akan pernah sekolah seperti kita. Itu artinya kamu membohongi kita semua kemarin!" Teriak Rina tidak mau kalah.
"Berhenti bicara! Jika kalian masih terus berbicara aku akan memindahkan kalian semua ke sekolah lain!" Ancam wakil kepala sekolah tidak tahan lagi.
Rina menatap tajam wajah basah Mega, dia masih tidak mau kalah namun juga turut mau dipindahkan sekolah. Dia suka sekolah di sini.
__ADS_1
Sementara Ai kini sudah berwajah pucat, dia cemas memikirkan reaksi kedua orang tuanya nanti.
Mungkinkah mereka akan marah?
Ruang kepala sekolah kemudian menjadi sunyi, kecuali suara tangisan Mega tidak ada lagi yang berbicara.
"Jika Mama dan Papaku datang, kalian berdua akan habis!" Katanya masih sesenggukan.
Rina melotot tidak senang,"Kamu yang salah-"
"Siapa yang telah membuat anakku menangis!" Suara teriakan seorang wanita memotong ucapan Rina.
Dari luar masuk seorang pasangan suami-istri dengan penampilan menonjol. Sang suami tampak elegan dengan pakaian kantornya yang mahal sedangkan sang istri tampak mewah dengan pakaian seksinya yang bermerek dan berbagai macam perhiasan yang menghiasi bagian-bagian menonjol tumbuhnya.
Mulai dari cincin, gelang, kalung, hingga anting-antingnya terbuat dari emas bertahtakan mutiara putih.
__ADS_1
Di belakang mereka ada laki-laki 40 tahunan yang berjalan agak merendah. Mungkin itu karena tatapan tajam dari suami wanita gelamor itu.
"Mama!" Teriakan nyaring Mega bercampur suara tangisan yang lebih besar lagi mengagetkan mereka bertiga. Bahkan, wakil kepala sekolah saja harus mengelus dadanya karena terkejut.