
Ketika mereka masuk ke dalam kelas, Ustazah yang mengajar langsung mengizinkan mereka masuk tanpa perlu bertanya alasan kenapa mereka datang terlambat. Mungkin Ustad Vano ataupun Ustad Azam telah menjelaskan situasi mereka bertiga sehingga kelas tetap berjalan meskipun mereka masuk.
Namun, lagi-lagi ada suasana aneh yang Mega dan Asri rasakan ketika masuk ke dalam kelas.
Mereka memperhatikan jika beberapa pasang mata sedang memperhatikan Ai. Sedangkan Ai yang mereka perhatikan hanya diam menunduk di bangkunya.
"Ada apa ini?" Asri bingung.
Tapi dia tidak bisa bertanya karena sedang belajar. Alhasil kebingungan ini ia simpan dulu sampai akhirnya setelah kelas selesai ia berjanji akan mencari tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini dan kenapa mereka menatap Ai seperti itu.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini tidak ada satupun teman kelas yang mengambil inisiatif bertanya kepada Ai soal pelajaran. Daripada bertanya kepada Ai, mereka malah mendekati gadis lain yang dulunya tidak sepopuler hari ini.
Ini terus berlanjut sampai mereka pulang sekolah.
Teman-teman kamar mereka menjaga jarak, berpura-pura tidak melihat keberadaan Ai di sini. Ini membingungkan, Mega dan Asri jelas marah dengan perlakuan ini tapi mereka hanya bisa menahannya.
"Bolehkah aku tahu kenapa kalian menghindari kami saat di kelas dan pulang sekolah tadi?" Mega bertanya dingin kepada Ratna, ketua kamar mereka.
"Mega, jangan salah paham. Mereka-"
"Ai, diam." Potong Mega dingin.
Ai mengigit bibirnya ingin menangis. Saat ini mereka sudah ada di dalam kamar asrama dan baru pulang sekolah. Mereka harus beristirahat sejenak dan berganti baju sebelum bisa pergi ke stan makanan untuk makan.
"Kami tidak pernah menghindari kalian. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja." Ratna ingin pergi tapi ditarik tanpa ampun oleh Mega.
Hari ini Mega seperti kesan pertama mereka dulu, ini dingin dan tidak bersahabat. Jelas dia sedang marah.
"Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara." Katanya dingin.
"Katakanlah dengan jujur kenapa kalian menghindari kami, hah? Jika tidak aku akan membawa masalah ini ke Umi!" Ancam Mega dingin kesal.
Ratna ragu, dia lalu melirik wajah pucat Ai di belakang Mega. Hari ini Ai jarang berbicara di kelas, biasanya dia sangat aktif bila menyangkut pelajaran.
__ADS_1
"Hah, baiklah. Tapi lepaskan dulu tanganku." Pinta Ratna berkompromi.
Mega langsung melepaskan tangannya.
Ratna menoleh ke arah pintu masuk.
"Apa semua orang sudah ada di sini?" Anak-anak di kamar tegang melihat wajah marah Mega.
Mereka pikir akan terjadi perkelahian sehingga tidak ada yang berani meninggalkan kamar.
"Hampir semua orang ada di sini, kecuali Sari yang sudah ke stan makanan terlebih dahulu dan Sulastri yang sedang dirawat di ruang medis ditemani oleh Herlina." Jawab salah satu gadis.
Semua orang sudah ada kecuali tiga orang ini.
"Baiklah, karena sebagian besar semua orang sudah di sini maka tutup pintu kamar karena kita akan membicarakan masalah ini." Kata Ratna.
Ai menahan nafas, kedua tangannya menggenggam erat kain baju gamis yang baru saja diganti.
Mega mengernyit,"Rumor apa?"
Ia harap ini bukan rumor mengenai rahasia Ai. Jika tidak masalah ini bukan lagi masalah sepele.
"Rumor jika Ai bukanlah seorang perempuan melainkan seorang laki-laki yang berubah menjadi perempuan setelah melakukan operasi transgender."
"Tidak mungkin!" Gumam Asri membantah.
Bagaimana mungkin Ai disebut sebagai laki-laki disaat ia jelas-jelas seorang perempuan. Operasi transgender?
Dia pernah mendengarnya di tv tapi itu di dalam drama tidak di dunia nyata. Ai, gadis lembut ini mana mungkin melakukan hal gila itu!
Sementara itu Mega menahan nafasnya. Padahal dia sudah berusaha menampik bahwa rahasia Ai yang telah dijaga dengan baik tidak tersebar, tapi kenyataan saat ini telah membuatnya kecewa.
Pantas saja, pantas saja Ai menjadi murung seperti itu dan pantas saja semua orang menghindarinya.
__ADS_1
Ternyata ada rumor ini.
"Siapa yang menyebarkan rumor ini?" Tanya Mega menahan nafas.
Ratna menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu. Rumor ini tiba-tiba sudah menyebar dimana-mana."
"Lalu kalian mempercayainya?" Mega tidak mengerti.
Bagaimana mungkin pertemanan mereka selama ini nyatanya sangat dangkal?
Ratna malu,"Aku tidak ingin tapi...apa yang dikatakan rumor itu sepertinya be-"
"Bagaimana mungkin itu benar! Apa kamu melihatnya sendiri? Apakah kamu pernah memastikannya secara langsung?" Potong Mega marah.
Akhirnya dia meluapkan emosinya.
"Tapi dada Ai..." Dia ragu mengatakannya.
"Masalah ini...ya Allah, apa hanya karena seorang wanita tidak punya dada sebesar yang kalian punya menjadi patokan apakah dia perempuan atau tidak? Hei, memangnya kalian ini siapa? Tuhan?!"
Ratna kewalahan menghadapi kemarahan Mega, melihat ini salah satu teman akrabnya datang membantu.
"Bukan begitu, Mega. Ai adalah orang kaya dan kami dengar selama orang punya uang mereka bisa melakukan-"
"Aku adalah teman Ai di sekolah taman kanak-kanak! Aku telah melihat semua tentang Ai!" Potong Mega muak.
"Orang kaya? Jangan bercanda. Apa hanya karena Ai anak orang kaya jadi kalian bisa menghakiminya melakukan tindakan gila? Ya Allah, kenapa pikiran kalian semua begitu dangkal?"
"Mega tidak-"
"Biarkan aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, setelah itu kalian bisa mengatakan apapun untuk membantahku." Untuk yang kesekian kalinya Mega memotong ucapan Ratna.
"Kalian mengatakan jika Ai adalah anak orang kaya? Ya, dia kaya, bahkan keluarganya sangat kaya di kota. Tapi tahukah kalian jika Ayahnya lulusan mana? Ya, Ayah Ai adalah lulusan pondok pesantren Ar-Rahman kota B. Lalu bagaimana dengan keluarganya? Aku akan beritahu! Paman pertama Ai adalah pemilik pondok pesantren Ar-Rahman sedangkan Paman keduanya adalah lulusan pondok pesantren Abu Hurairah ini! Semua keluarga Ai adalah orang-orang yang baik, ilmu agama mereka tidak diragukan lagi jadi bagaimana mungkin mereka membiarkan Ai tersesat? Bagaimana mungkin mereka mengizinkan Ai melakukan operasi transgender?"
__ADS_1