
"Mereka salah. Mereka sengaja melakukannya. Semenjak aku menginjakkan kaki di rumahmu. Mereka selalu menjelekkan kamu di hadapanku," jawab Lee.
Suci terdiam dan tidak menjawab. Suci memang mendiamkan mereka agar tidak terjadi keributan. Namun kali ini Suci tidak akan tinggal diam dan ingin mengetahui apa penyebabnya. Kemudian mereka saling diam dan tidak banyak bicara.
Sesampainya di lokasi airmata Suci mengalir dengan deras. Rumah kenangan yang selama ini dipertahankan sudah menjadi abu. Kemudian Lee memeluk Suci dan mengelus punggungnya, "Lepaskan semuanya. Biarkan kenangan yang sudah tercipta di rumah itu pergi. Kamu tahu nama dan wajah ibumu akan terukir indah di dalam hatimu."
Suci menganggukan kepalanya sambil melepaskan Lee. Suci menganggukkan kepalanya tanda paham. Lalu Lee menemukan seseorang yang berjalan. Lee berjalan dan mendekatinya sambil menyapanya, "Pak."
"Iya neng, ada apa?" tanya orang itu.
"Di mana pengungsian korban kebakaran di rumah?" tanya Lee dengan ramah.
"Ada di Mushola ujung jalan ini," jawab orang itu.
"Terima kasih pak," ucap Lee.
"Sama-sama," balas orang itu yang segera pergi dari sana.
Lee segera mendekati Erra dan mengatakan kalau para korban berada di Musholla di ujung jalan itu. Mereka langsung saja menuju ke sana. Namun sebelum itu Lee terdiam dan melihat Suci yang gelisah. Lee mulai membaca situasi yang akan dialami Suci. Tak lama mereka sampai dan disambut oleh para korban dengan sinis. Mereka mulai menuding bahwa Suci adalah pembawa malapetaka di kampung itu. Lee yang melihat mereka memandang wajah sinis hanya bisa menghembuskan nafasnya. Sebelum mengeluarkan suaranya Lee mencari keberadaan Pak RT. Kebetulan sekali Pak RT berada di sana. Lee mendekatinya sambil meminta Bu Nilam dan Bu Tina datang. Sambil menunggu Lee meminta semua orang masuk ke dalam Musholla untuk membicarakan semua ini dengan tenang.
Tak selang berapa lama Ibu Tina dan Ibu Nilam datang. Mereka tersenyum mengejek ke Suci. Ketika ingin menyerang Suci, Rina dan Feli sudah memasang badan untuk menghalau kedua emak itu. Sedari tadi Pak RT yang ingin menolongnya dilarang oleh Lee. Akhirnya Pak RT diam dan duduk dengan tenang.
"Ibu jangan menyerang Suci Bu!" perintah Feli yang menghalau emak-emak itu.
"Dia yang membakar rumah warga itu," jawab Ibu Nilam. "Apakah kamu tidak kasihan melihat mereka!"
Angela hanya diam saja dan tidak bisa bergerak sama sekali. Karena Angela sedang menggendong Raka. Melihat Angela yang diam, Imam mendekati Raka dan membuka tangannya sambil berkata, "Biarkan aku yang menggendong putraku!"
"Baik tuan," balas Angela yang memberikan Raka ke Imam.
Emak-emak itu terdiam dan melihat Imam yang tampan itu terpesona. Mereka menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Bagaimana Suci mendapatkan seorang pria yang tampan dan tajir? Otak mereka mulai berputar untuk bisa menjelekkan Suci di depan Imam. Namun sebelum melakukan aksinya Lee berteriak agar mereka duduk.
"Duduklah kalian!" teriak Lee dengan suara menggelegar.
__ADS_1
Mereka diam lalu mulai duduk melingkar. Sebelum Lee melakukan musyawarah, Imam mengirimkan beberapa bukti ke email Lee. Seketika email itu masuk dan Lee meraih ponselnya lalu membacanya.
"Lee... Tolong luruskan semua masalah semalam," pinta Imam.
"Maksudnya?" tanya Lee.
Imam menceritakan kejadian semalam pada Lee. Akhirnya Lee mengangguk tanda paham. Sebelum Lee mengeluarkan suaranya. Lee melihat satu persatu warga yang hadir.
"Maaf... Malam ini saya ambil alih kasus ini. Kalian tahu Suci sudah aku anggap sebagai adik saya sendiri. Jika ada yang menyakiti Suci secara fisik dan mental berarti mereka akan berhadapan dengan saya," ucap Lee dengan dingin.
"Halah cari muka!" ujar Bu Nilam.
"Cukup Bu! Bisakah ibu diam!" bentak Lee.
Mereka terdiam dan tidak berani berbicara. Mereka takut Lee mulai berubah menjadi singa betina. Lee melihat suasana yang ramai menjadi sunyi dan dingin.
"Kalau begitu baiklah. Aku ingin bicara lebih lanjut lagi. Ketika ada ada yang menyakiti Suci terutama pada mentalnya. Kalian akan menghadapiku!" tegas Lee.
Mereka menganggukan kepalanya tanda paham. Kemudian Lee menarik nafasnya dengan panjang dan mengeluarkan suaranya, "Kita langsung ke inti masalahnya. Akhir-akhir ini aku sering melihat Ibu Tina dan Ibu Nilam selalu menyerang Suci secara mental. Hingga membuat Suci drop. Sekarang yang jadi pertanyaan, ada apa dengan Suci? Apakah Suci selama ini selalu membuat kesalahan?"
"Saya tanya sekali lagi, apa kesalahan Suci?" tanya Lee sekali lagi.
"Karena Suci pernah menjebak putri saya untuk tidur bersama pria hidung belang!" jawab Nilam dengan suara meninggi.
"Bisa dipanggilkan putri ibu? Saya ingin mendapatkan penjelasan dari Suci dan putri ibu," pinta Lee.
"Sebentar saya akan panggilkan Wulan," sahut Ibu Nilam.
"Tidak perlu Bu. Saya akan meminta yang lainnya memanggil putri ibu. Pak RT, bisa tolong saya," ucap Lee yang meminta.
"Bisa Bu," jawab Pak RT.
"Tapi sebelum bapak menganggil putri ibu Nilam. Saya tanya kepada ibu Tina. Apakah ada masalah dengan Suci?" tanya Lee.
__ADS_1
"Gara-gara ibunya Suci, aku bercerai dari suamiku," jawab Tina.
"Apa!" pekik Suci.
Masalah semakin runyam di antara Suci dan emak-emak itu. Lee hanya menghembuskan nafasnya sambil mengelus dada. Ternyata masalah Suci semakin besar. Malam ini mau tidak mau Lee meluruskan semuanya. Agar tidak dikemudian hari tidak menjadi bara api yang membakar.
Namun sebelum itu ada seorang wanita yang usianya cukup tua datang dan berteriak. Wanita itu menegur Tina agar tidak bersuara, "Tina! Jaga ucapanmu!"
Sebelum wanita itu masuk Lee berdiri sambil menghampirinya dan memegang wanita itu. Kemudian Lee memapahnya untuk masuk ke dalam.
"Nek... Sudah malam. Kok nenek keluar?" tanya Lee dengan lembut.
"Nenek mau meluruskan masalah ini," jawab nenek Imah.
"Apakah ini ada kaitannya dengan Suci?" tanya Lee yang membantu sang nenek duduk.
"Ada. Makanya nenek kesini untuk meluruskan semuanya," jawab nenek Imah.
"Nenek duduk saja dulu di sini. Biar Lee yang akan memimpin jalannya sidang ini," jawab Lee.
"Baik nak. Luruskan berita ini... Nenek kasian melihat Suci yang selalu ditindas sama mereka berdua," pinta sang nenek.
Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Setelah membantu nenek itu duduk Lee kembali ke tempatnya dan mempersilahkan Pak RT memanggil Wulan. Sambil menunggu Erra mendekati Lee dan berbisik, "Apakah kamu sanggup?"
"Sanggup," jawab Lee dengan tersenyum manis.
"Apakah kamu mau minum?" tanya Erra.
"Berikan aku minum," jawab Lee.
Erra meminta pengawal untuk membelikan air mineral dua kardus. Sambil menunggu air dan Pak RT datang Lee memandang wajah Bu Tina dan Bu Nilam ketika menyembunyikan sesuatu di wajahnya. Lee menjadi curiga dan memiliki sebuah rahasia besar.
"Aku mulai curiga ada udang dibalik rempeyek," bisik Lee ke Erra.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Erra.