
Lee segera merapikan baju dan rambutnya. Lee mengambil tasnya lalu mendekati Sam, "Apakah aku diterima di sini?"
Garda segera berdiri kemudian mendekati Lee sambil menatap wajah imut dan menggemaskan. Garda melihat ada sosok yang hebat di balik matanya itu. Setelah itu Garda menatap wajah Erra untuk memberi kode agar cepat-cepat memutuskan dengan nasib Lee, "Tuan muda. Segera anda putuskan nasib nona ini."
Sedangkan Erra terdiam dan melihat wajah Lee yang imut itu. Namun dibalik wajah imutnya Erra menilai kalau Lee bukan gadis lemah melainkan kuat. Erra melihat bagaimana caranya bertarung lalu melawan korban. Entah kenapa Erra sangat tertarik kepada Lee untuk menjadi sang sekretaris pribadinya.
"Ok… kamu masuk dalam kategori sekretaris yang selama ini aku cari. Mulai besok jam delapan kamu datanglah ke kantor ini. Dan kamu Garda berikan akses masuk ke nona ini dengan mudah. Aku tidak mau nona ini kesulitan dalam tugas hari pertamanya!" perintah Erra.
"Siap," balas Garda yang membungkukkan tubuhnya. "Kalau begitu saya akan memberikan identitasnya terlebih dahulu. Nona, mari ikut saya!"
Setelah meminta izin ke Erra, Garda keluar ruangan untuk membuat kartu identitas agar Lee dengan mudah bisa keluar masuk perusahaan tanpa harus lapor ke Erra. Sedangkan Lee mengikuti Garda ke ruangannya itu.
"Aku rasa kamu sangat cocok menjadi partner dunia atas," celetuk Sam.
"Thanks bro… kamu sudah memberikan aku sekretaris dengan ilmu beladiri yang mumpuni. Aku ingin dia bisa ikut denganku ketika ada meeting di dalam maupun luar kota. Apakah gadis itu bisa memakai bahasa Inggris?" tanya Erra.
"Ya… Lee bisa menggunakan beberapa bahasa di dunia ini. Jadi kamu tidak perlu kerepotan lagi," jawab Sam.
Erra tersenyum karena mendapatkan sekretaris yang sangat jenius. Bahkan Erra berharap Lee bisa diajak kerjasama dengan baik.
Sementara itu Garda juga sangat tertarik kepada Lee. Entah kenapa Garda merasakan ikatan batin itu semakin kuat ketika berada di depannya. Garda semakin bingung dengan perasaan ini.
Jujur saja Garda tidak pernah merasakan ada rasa kepada Lee. Namun rasa itu lain bukan perasaan jatuh cinta.
Lee juga sama dan mencoba menepis rasa ini. Lee semakin bingung dengan apa yang dirasakannya. Tak sengaja Lee memandang wajah Garda lalu terkejut. Ternyata Garda sangat mirip sekali Andi Sebastian. Ketika ingin bertanya Lee mengurungkan niatnya karena tidak mau melihat Garda tersinggung.
Itulah kisah pertemuan antara Lee, Erra dan Garda. Mereka ditemukan karena izin Tuhan. Begitu juga dengan Lee yang telah kehilangan Brucce semenjak kecil. Sampai detik ini Lee mencari keberadaan Brucce dengan cara berdoa. Sering sekali Lee menjelajahi negara-negara lain bersama kaki tangannya untuk mencari keberadaan Brucce.
Flashback Off.
__ADS_1
Kedua pria itu yang masih berada di dalam mobil tersenyum sendiri. Betapa indahnya pertemuan tersebut walau mereka harus menantang Lee. Erra tidak salah dengan keputusannya itu. Bahkan Erra berterima kasih kepada Tuhan.
"Jika kamu menolaknya otomatis kita enggak akan dekat dengan takdir kita," ucap Garda.
"Ya… kamu benar. Kamu harus tahu kenapa aku tidak menolaknya. Pertama jago bertarung. Kedua memiliki otak jenius. Sering sekali aku mengajaknya bertukar ide," ujar Erra. "Ah… rasanya aku sangat merindukannya. Aku ingin tidur di sampingnya. Aku sangat lelah sekali."
"Kalau begitu mari kita pulang!" ajak Garda.
Sore pun tiba. Lee terbangun dari tidurnya. Lee melihat wajah tampan Erra yang tertidur pulas di sampingnya. Lee sangat mengagumi wajah Erra yang sangat tampan itu. Tangannya mulai memegang mulut Erra lalu tubuhnya membungkuk. Lee diam-diam ingin mencium Erra. Sementara itu Erra tahu apa yang akan dilakukan oleh Lee. Erra akan pura-pura tidur dan tidak akan mengganggu kesenangan Lee. Bahkan dirinya akan menikmati apa yang akan dilakukan oleh Lee.
Cup.
Sebuah ciuman yang membuat Erra terbang melayang ke awan. Erra benar-benar merasakan ciuman itu sangat indah sekali. Erra segera membuka mata dan melihat Lee lalu bangun dan memegang kepala sang istri untuk melanjutkan ciuman itu.
Di luar Garda membuat ulah kepada Arini. Garda mempunyai sebuah rencana yaitu mengerjai Arini. Garda memasuki kamar Arini dan sengaja membuka pintu kamar itu. Garda segera mendekati Arini yang selesai berdandan.
"Tahu tuan. Memberikan pelayan kepada atasan setiap waktu. Tidak peduli itu malam hari atau orang sedang tidur," jawab Arini.
"Kalau begitu kamu harus menuruti keinginanku malam ini," ucap Garda.
"Apa itu tuan?" tanya Arini yang selesai berdandan.
"Buatin aku sambal terong dan ayam bacem," jawab Garda.
Mata Arini membulat sempurna. Arini bingung apa yang diminta oleh Garda. Seketika Arini terdiam dan tidak ingin menyahutinya. Rasanya Arini sangat kesal terhadap Garda.
"Bisakah tuan meminta yang lain? Seperti roti bakar, ayam goreng mentega atau ayam panggang. Aku pasti akan melakukannya," ucap Arini yang menunduk ketakutan.
"Tidak. Aku tidak akan merubah keputusanku itu. Segera kamu buatin karena nanti malam aku akan makan bersama Lee," ujar Garda lalu pergi meninggalkan Arini.
__ADS_1
Arini diam lagi karena permintaan Garda. Arini memang bisa dikatakan jago masak. Bahkan sambal terongnya sangat khas hingga membuat Garda jatuh cinta. Jangankan Garda, seluruh penghuni markas sangat menyukai sambal terong buatan Arini.
Kemudian Arini keluar dengan wajah kecewa. Arini memang sangat senang mendapatkan tugas dari bos besarnya. Tapi ini lain Arini harus mencari bahan dasar terong. Lalu apakah Arini bisa mendapatkannya?
Saat keluar Arini berpapasan dengan Cathy. Arini memandang wajah Cathy seakan meminta tolong. Cathy akhirnya paham dengan pandangan Arini. Cathy memegang tangan Arini dan mengajaknya ke kamar. Lalu Cathy membantunya duduk di tepi ranjang, "Ada apa? Sepertinya kamu meminta bantuan?"
"Iya. Aku mendapatkan tugas dari pak bos Garda untuk membuatkan sambal terong," jawab Arini.
Sontak saja Cathy sangat terkejut. Pasalnya Cathy juga sangat menyukai sambal terong itu. Namun sekarang dirinya mendapatkan tugas di sini, Cathy tidak dapat merasakannya.
"Ah… itu ide yang sangat bagus sekali. Aku juga rindu sekali sama makanan itu. Rasanya kamu harus memasaknya untuk menu makan malam ini," puji Cathy.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan bahan dasar terong? Sementara itu aku tidak bisa mendapatkan terong itu? Kamu tahukan kalau kita tinggal di Inggris," ucap Arini.
"Kenapa kita tidak mencarinya di warung serba ada milik Pradipta?" tanya Cathy.
"Memangnya ada ya?" tanya Arini.
"Ada," jawab Cathy.
"Kalau begitu antarkan aku kesana," pinta Arini.
Beberapa saat kemudian datang Lee. Lee ingin ke kamar Arini hanya untuk mengecek keadaan gadis tersebut.
"Antarkan kemana?" tanya Lee yang bingung.
"Antarkan mencari terong," jawab Arini.
Lee mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Apakah ada terong di Tottenham Inggris?"
__ADS_1