
"Aku nggak kesurupan. Tiba-tiba saja aku ingat sesuatu hal yang membuatku tertawa," jawab Jake.
"Maksudnya?" tanya Greg.
"Di saat Garda tidur. Erra datang lalu mencari keberadaan Garda. Ia meminta para pengawal untuk mencari Garda. Selang beberapa menit pengawal itu berkumpul dan melaporkan kalau Garda tidak ada. Dengan terpaksa arah menghubungi ponselnya. Lalu ponselnya Garda berdering di hadapannya," jawab Jake.
"Memang Garda itu sangat unik. Karena dirinya aku menjadi pria yang penuh percaya diri," puji Greg.
"Meskipun orangnya pendiam. Garda orangnya memiliki sifat kocak. Ditambah lagi sekarang tambah kocak ketika dekat dengan Lee," balas Jake.
"Bagaimana hubunganmu dengan Feli? Kapan kamu akan menikahinya?" Tanya Greg.
"Entahlah. Aku ingin meminta restu kepada mama papa. Tapi aku belum melakukannya," jawab Jake. "Lalu, Bagaimana hubunganmu dengan Rina?"
"Jujur, Wanita itu sangat cantik sekali dan memiliki bakat di dunia beladiri. Entah kenapa aku ingin memilikinya. Tapi sebelum itu aku ingin mencari keberadaan sang papa."
"Kalau kamu ingin mencarinya. Aku akan menemanimu."
"Apakah kamu serius dengan perkataanmu itu?"
"Bukankah kita adalah satu saudara?"
"Kamu benar. Jujur aku terharu sekali memiliki saudara sepertimu."
"Biar bagaimanapun. Seva adalah pamanku sendiri. Aku ingin sekali menemuinya dan meminta agar bisa bergabung dengan Papa lagi."
"Bagaimana caranya? Yang aku tahu papaku sangat jahat sekali kepada papamu."
"Meskipun terpisah jauh. Papa sering mencari keberadaan Paman Seva. Di dalam perusahaannya itu. Papa memberikan beberapa orang untuk dijadikan sebagai karyawan tetap di sana. Tapi Paman Seva tidak mengetahuinya. Malahan mereka sering membuat laporan tentang Paman Seva ke Papa."
"Jadi selama ini?"
"Ya... Meskipun Paman Seva jahat, tapi papa nggak pernah melepaskannya begitu saja.Aku harap konflik ini segera berakhir dan kita bisa menyatu lagi. Jujur aku sangat capek sekali. Bila konflik ini terus-terusan bergulir seperti bola api neraka. Apakah kita nggak pengen hidup bahagia bersama saudara-saudara?"
"Terima kasih ya. Sudah mengkhawatirkan papa Seva."
"Nggak perlu terima kasih. Aku hanya membantu papa. Kapan kamu akan mencarinya?"
"Kalau bisa sekarang ini. Mumpung Perusahaan kita dipegang oleh Papa March."
__ADS_1
"Kalau begitu ya sudahlah. Kita akan beres-beres terlebih dahulu. Setelah itu kita akan berangkat ke Inggris mencarinya."
"Kamu yakin kalau Papa sefa tinggal di Inggris?"
"Yakin. Papa Seva tinggal di tempat terpencil. Kalau nggak salah di gang kecil di pinggiran kota London."
"Okelah kalau begitu. Aku ingin mencarinya dan mengajak Papa pergi ke Indonesia."
Dengan senyum sumringahnya, Jake bersedia membantu Greg untuk menemukan Seva. Kedua pria itu langsung membereskan kopernya.
Di ruangan lain Andi sangat frustrasi dengan Garda. Pria paruh baya itu pun kehilangan koin yang banyak dan juga poin. Ia menatap tajam ke Garda sambil berkata, "Kamu bermain curang!"
"Maksud papa apa?" tanya Garda.
"Kamu bermain curang ya?" tanya Andi balik.
"Maafkan aku Pa. Aku tidak bermain curang. Aku hanya bermain tipis-tipis saja," jawab Garda sambil meledek Andi yang membuat Caroline tertawa.
Melihat Caroline tertawa, Andi menatap tajam sang istri. Bukannya membantu malah menertawakannya. Namun Caroline tetap tertawa. Jujur saja Caroline melihat adegan ayah dan anak itu sangat lucu sekali.
"Bukankah yang membuat game itu adalah papa?" Tanya Caroline.
"Itu benar. Sekarang Putraku yang berhasil mengalahkan ku sendiri," jawab Andi dengan kesal.
"Pilihlah sesukamu. Lalu beritahukan pada papa. Nanti mobil itu sudah terparkir di halaman Mansion," ucap Andi.
"Kita ke mana hari ini?" tanya Caroline.
"Maunya ke mana?" tanya Andi balik.
"Aku ingin mengajak Lee," jawab Garda.
"Adikmu sudah kembali bersama Erra. Tiba-tiba saja Erra meminta nasi kuning," ucap Caroline.
Mendengar nama nasi kuning, Andi seketika terkejut. Bagaimana bisa Erra menyukai nasi kuning? Yang ia tahu Erra tidak menyukainya.
"Setahuku era tidak menyukai nasi kuning. Jangankan nasi kuning, nasi uduk aja nggak suka," sahut Andi.
"Jangan-jangan Erra sedang ngidam," ujar Caroline.
__ADS_1
"Entahlah ma. Erra Sangat aneh sekali akhir-akhir ini," ucap Garda.
"Semalam mama baru mimpi bertemu dengan tiga anak kecil yang berada di taman. Anak-anak kecil itu sangat mirip sekali sama Erra. Lalu aku mendekatinya dan mengajaknya bermain. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka menyapaku. Oma Oma... Sebentar lagi kami akan launching. Kami akan lahir dari mama Lee. Lalu aku terkejut. Jadi kalian adalah cucuku. Mereka bilang dengan serempak iya Oma. Entah kenapa Mama sangat bahagia sekali mendengar berita itu. Semoga saja mereka menjadi kenyataan dan lahir ke dunia ini," jelas Caroline yang tiba-tiba saja menceritakan bertemu dengan ketiga anak kecil.
"Aku juga begitu ma. Mereka juga menyapaku dan memanggilku paman. Entah kenapa bagiku ini nyata sekali. Ingin rasanya memeluknya," ucap Garda.
"Ternyata mereka akan hadir ke dunia ini. Aku harus protect kepada Lee," sahut Caroline.
"Baguslah. Kita sebentar lagi akan memiliki seorang cucu," puji Andi yang semakin semangat untuk mendapatkan cucu.
"Bukan satu. Tapi tiga sekaligus. Wajahnya sangat mirip sekali sama Erra. Hanya matanya saja yang mirip sama Lee. Apalagi yang perempuan. Imut dan menggemaskan," kata Caroline.
"Bagaimana kalau kita menyusul Lee Surabaya?" tanya Garda yang tiba-tiba saja memiliki ide.
"Bagus itu. Lebih baik kita berkemas sekarang juga. Aku akan mengajak Kak Bayu dan Kak Rani untuk ikut ke Surabaya," jawab Caroline dengan semangat.
"Okelah. Aku setuju," balas Garda.
Irwan yang berada di kamar sedang menikmati cappucino panas. Sedangkan imam yang baru saja membersihkan tubuhnya segera mendekati Irwan.
"Papa," panggil Imam sambil menghempaskan bokongnya di hadapan Irwan.
"Ada apa?" Tanya Irwan.
"Aku punya rencana. Bagaimana kalau kita menjual sayuran premium itu dengan harga murah. Biar seluruh masyarakat mulai dari bawah bisa menjangkau sayuran kita," jawab Imam.
"Terserah kamu. Yang penting kamu niatnya apa? Jangan sering-sering mencari untung besar. Lagian kita sendiri sudah kaya," ucap Irwan.
"Jika Papa nggak keberatan. Kalau begitu habis pulang dari sini akan diadakan meeting," ujar Imam.
"Bagus itu. Papa juga berharap seperti itu. Tapi Papa belum melaksanakannya," sahut Irwan.
"Syukurlah pa... Semuanya sudah selesai. Tinggal kita yang hidup damai," kata Imam.
"Kamu benar. Rencana kamu selanjutnya apa?" Tanya Irwan.
"Sepertinya aku ingin mengangkat Dennis di bagian manajer pemasaran. Jujur diam-diam aku sering berkomunikasi dengan Dennis. Ia sering memberikanku masukan-masukan yang lebih baik lagi," jawab Imam.
"Kamu tawarin saja. Siapa tahu Dennis mau. Kalau kamu nggak nawarin. Terus kamu menyuruhnya ke kota dan menjadi manajer. Dennis akan bingung dengan keadaannya," jelas Irwan.
__ADS_1
"Selepas pulang dari sini aku akan pergi ke Malang," pinta Imam.
"Kamu nggak mengajak mama?" tanya Widya yang baru saja datang membawa sarapan.