
"Rasanya aku ingin," jawab Lee yang tidak bisa melepaskan dirinya dari Erra.
Erra melepaskan Lee dan segera bangun dan memandang wajah Lee. Erra memegang tangan Lee dan bertanya, "Apakah kamu berhasil membumihanguskan markas orang yang sudah menyerang markas?"
"Aku menemukan sekuntum mawar hitam," jawab Lee.
"Maksudnya?" tanya Erra.
"Ya... Mungkin saja itu organisasinya Dennis," jawab Lee.
"Maksudnya adalah Black Roses?" tanya Erra balik.
"Ya... Black Roses," jawab Lee. "Rasanya aku ingin melemparkan Dennis ke jurang neraka."
"Waduh," celetuk Erra.
"Cepat atau lambat kamu akan menemukannya," kata Erra.
"Kak... Aku ingin bilang sesuatu sama kakak. Tadi pas aku ingin bertarung ada seorang pria selalu memakai topeng. Dalam misi besar pria itu selalu membantuku dan menolongku jika dalam bahaya. Malam ini pria bertopeng membuatku sangat kesal. Katanya pria bertopeng itu pernah merasakan tubuhku," ujar Lee yang merasa bersalah.
Erra tersenyum dan menarik tubuh mungil Lee. Erra langsung mencium Lee sambil berkata, "Biarkan saja pria bertopeng itu menghalu. Hanya aku saja yang bisa mendapatkan tubuh mungil kamu ini."
"Apakah kakak tahu kalau aku bertarung dengan pria bertopeng itu?" tanya Lee.
"Garda yang melaporkan kegiatan kamu," jawab Erra.
"Apakah kakak akan marah?" tanya Lee lagi.
"Nope. Kakak tidak akan marah dengan pria bertopeng itu," jawab Erra lagi.
"Kakak ini aneh sekali. Bagaimana bisa kakak enggak marah dengan pria bertopeng?" tanya Lee.
Banyak tanda tanya di kepala lee. Kenapa Erra tidak marah sama dirinya ketika berkata jujur. Ingin rasanya Lee kena omel karena telah mengkhianati sang suami. Namun keadaannya berbalik malahan Erra yang membiarkan saja.
Pagi menjelang Lee memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu Erra sedang mengecek ponselnya dan melihat beberapa saham yang berada di atas bersama Tristan Groups. Tak lama Erra melihat ada berita tentang harga saham milik Pradipta Groups turun drastis. Erra mengerutkan keningnya dan meninggalkan kamar untuk mencari keberadaan Garda.
Sesampainya di kamar Garda, Erra nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Erra mendengar ada suara gemericik air. Erra hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil menghempaskan bokongnya di sofa. Tak lama Garda keluar dari toilet hanya berbalutkan handuk di pinggangnya. Matanya membulat sempurna ketika Garda melihat Erra yang duduk di sofa
__ADS_1
"Tumben... Pagi-pagi udah nyariin aku?" tanya Garda sambil membuka walk in closed lalu masuk ke dalam untuk memakai baju.
"Aku ke sini mau bilangin saham Pradipta turun drastis," jawab Erra yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Saham Pradipta turun drastis?" pekik Garda. "Kemarin masih baik-baik saja. Saat penutupan bursa saham Pradipta di atas angin."
"Lalu kenapa turun?" tanya Erra.
Di tempat lain Irwan yang sedang duduk dan bermain bersama Raka mendapat panggilan dari ponselnya. Lalu Irwan segera meraih benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Irwan melihat di layar ponselnya hanya ada sebuah nomor. Yang di mana Imam tidak mengetahui nomor siapa itu. Beberapa saat kemudian Irwan mengusap layar hijau dan menyapa seseorang yang berada di seberang sana.
"Hallo," sapa Irwan.
"Selamat Pradipta diambang kebangkrutan," jawab seseorang yang tertawa terbahak-bahak.
Jederrrrrrrrr.
Bagai petir di pagi buta. Irwan mendapatkan informasi dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu mengatakan kalau saham Pradipta turun. Mau tidak mau Irwan mengecek harga saham. Sontak saja Irwan terkejut dan matanya membulat sempurna.
"Bagaimana bisa harga saham Pradipta turun secara mendadak? Padahal kemarin naik drastis," tanya Irwan yang didengarkan oleh Imam.
"Ya itu benar," jawab Irwan.
"Naik langsung turun," ucap Imam yang mencium bau tidak beres. "Ada yang tidak beres di sini!"
Imam masuk ke kamarnya dan mengambil laptopnya. Setelah itu Imam meraih ponselnya untuk menghubungi Erra. Beberapa detik kemudian Erra meraih ponselnya dan mengusap lambang hijau dan menyapanya, "Hallo."
"Ada yang tidak beres!" ucap Imam.
"Maksudnya harga saham Pradipta?" tanya Erra.
"Ya," jawab Imam.
"Aku memang sedang menyelidikinya bersama Garda. Aku pun berpikiran sama denganmu. Bagaimana bisa harga saham Pradipta anjlok dalam waktu semalam," ujar Erra.
"Aku ke mansion kamu," kata Imam.
"Bawa pengawal!" titah Erra yang melihat Imam yang akan diserang.
__ADS_1
"Baiklah," balas Imam.
Sambungan terputus.
Imam meminta beberapa pengawal untuk mengawal dirinya. Begitu juga Suci yang tidak luput ikut mengawal. Namun Imam melarangnya. Sedangkan Suci tetap bersikeras ikut mengawal juga. Mau tidak mau Imam mengiyakan saja.
Mereka akhirnya berangkat dari markas menuju ke mansion milik Andi. Di dalam perjalanan menuju ke sana Imam merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Semenjak keluar dari markas Imam merasakan ada sesuatu yang mencurigakan. Lalu Imam melihat Suci yang masih menyetir mobil sambil berkata, "Ada yang tidak beres."
"Ada apa tuan?" tanya Suci.
"Bisa enggak sih kamu tidak memanggilku Tuan?" geram Imam yang sebenarnya tidak ingin dipanggil tuan.
"Tidak tuan. Aku harus menjaga privasi anda," jawab Suci dengan wajah datarnya.
"Kalau kamu memanggilku tuan secara terus menerus. Aku akan menghukummu di ranjang!" titah Imam.
Beberapa saat kemudian ada mobil yang menghentikan Imam. Lalu Suci mengerem mendadak hingga ban mobilnya berdecit. Suci memandang Imam untuk meminta jawaban. Namun Imam hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
Imam keluar dari mobil diikuti dengan Suci. Mereka melihat orang-orang bertubuh kingkong dengan memakai baju serba hitam. Tak selang berapa lama Lee, Bayu dan Andi datang dari arah belakang musuh. Lee yang sedang membawa mobil ini terkejut karena jalannya dihalangi.
Bayu menekan tombol hijau yang berada di dashboard pengemudi. Tak lama terdengar suara klik dari dalam. Lee mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Itu apa?"
"Itu pisau yang sengaja aku taruh di bawah lampu depan. Pisau itu bisa membuat mobil penyok," jawab Bayu.
"Bukan pisau tapi gergaji atau golok," sahut Andi.
"Ah... Biarkan saja. Entah itu gergaji atau golok," balas Bayu.
"Apakah kamu siap mengeksekusi mobil sialan itu yang seenaknya berparkir sembarangan?" tanya Andi.
"Ya... Aku siap!" balas Lee dengan berapi-api.
"Two... Three... Four... Go!" teriak Andi yang memberikan semangat kepada Lee.
Lee segera menancap gasnya dan menabrakkan ke beberapa mobil yang sengaja di parkir sembarangan. Dengan penuh semangat Lee menghajar mobil itu dan menyeretnya hingga menabrak beberapa orang yang masih berdiri di sana. Berulang kali Lee menghajar mereka habis-habisan sampai orang bertubuh kekar menghembuskan nafasnya di tempat itu.
Bayu dan Andi tersenyum puas melihat kinerja Lee. Memang Lee sangat jago mengemudikan mobil itu secara kasar dan agresif. Lalu bagaimana dengan Suci dan Imam yang melihat ada mobil yang menabrak orang-orang tadi?
__ADS_1