
"Kamu ingin kentang goreng?" tanya Lee.
"Iya," jawab Erra yang berubah menjadi anak kecil yang manis.
"Ya udah dech kita beli," ajak Lee.
"Aku enggak mau beli. Aku mau minta kentang goreng milik Garda," jawab Erra sambil mendekati Garda.
"Aku merasa aneh kepada Erra," celetuk Garda.
"Berikan kentang goreng itu Kak," pinta Lee.
"Baiklah," balas Garda sambil memberikan kentang goreng itu ke arah Erra.
Setelah mendapatkan kentang goreng itu, Erra tersenyum manis sambil berkata, "Kamu sangat baik sekali. Besok kamu minta Lee uang penggantinya."
"Nggak perlu. Harga kentang goreng itu nggak seberapa mahal kok. Ya udah kamu cepat makan ketimbang nggak krispi lagi," ujar Garda yang menyuruh Erra memakan kentang goreng.
"Kalau begitu aku akan pergi ke kamar bersama adikmu itu ya," tunjuk Erra ke arah Lee.
"Terserah kamu," balas Garda.
Pasangan suami istri itu pun meninggalkan mereka. Lalu Garda mendekati Andi sambil menatap kepergian Erra. Di saat sudah menjauh dari pandangannya, Garda menatap Andi sambil bertanya, "Kenapa dengan Erra? Tiba-tiba saja berubah menjadi anak kecil."
"Itu namanya ngidam. Kemungkinan besar adikmu sedang mengandung. Makanya era berubah menjadi dingin," ucap Andi.
"Oh... Ternyata orang ngidam berbeda-beda ya?" tanya Garda yang baru tahu keunikan orang ngidam.
"Banget. Kalau seperti Erra tidak terlalu ekstrem. Erra akan berubah menjadi anak kecil. Tapi itu hanya sesaat. Setelah itu udah nggak," jawab Andi.
"Syukurlah," ucap Garda dengan tulus sambil mendoakan Lee.
"Boleh nggak aku bertanya kepada papa?" tanya Garda.
"Apa itu?" tanya Andi yang mengerutkan keningnya.
"Kriteria calon menantu papa bagaimana?" tanya Garda dengan serius.
__ADS_1
"Siapa yang menikah?"
"Memangnya papa punya anak laki-laki lagi?"
"Ada. Nanda, Imam dan Samuel itu juga anak laki-laki Papa."
"Ya aku. Masa mereka bertiga tanya kepada papa? Bukankah mereka adalah anak angkat papa?"
"Aku tidak bilang mereka anak angkatku. Aku menganggap mereka sebagai anak kandungku sendiri. Begitu juga dengan lainnya. Bayu juga sama. Irwan juga sama. Semuanya sama tidak ada yang membeda-bedakan satu sama lain. Jika mereka boring dengan papanya masing-masing. Mereka selalu hadir di hadapanku. Kamu Jangan cemburu seperti itu. Anggap aja mereka saudara kamu."
"Aku tahu itu Pa. Aku ingin bertanya sesuatu tentang diriku ini. Aku ingin menikah. Tapi aku mau minta pendapat dari papa."
"Kamu aneh sekali. Yang menikah kamu kok papa malah ditanyain."
"Iyalah. Jika tidak maka aku akan memutuskan orang itu tidak akan menjadi istriku."
"Kriteria calon menantu papa sederhana sekali. Nggak macam-macam. Yang penting dia sayang kamu dan keluarga. Memangnya siapa sih yang menjadi calon istrimu itu?"
"Kami belum pacaran. Sepertinya gadis itu pemalu sekali."
"Nggak apa-apa. Kenapa juga harus malu? Bukankah manusia diberikan seseorang untuk menjaganya?"
"Apalagi kamu suka sambel terongnya itu ya?"
"Kok Papa tahu?"
"Tahulah. Kamu nggak ngomong juga Papa sudah tahu. Mulai dari gelagatmu menatap gadis itu dengan penuh perasaan."
"Apakah dia pantas menjadi istriku kelak?"
"Kalau menurut papa, gadis itu sangat pantas. Apalagi dia bukan wanita yang lemah. Dia adalah wanita yang tangguh."
"Seperti Lee?"
"Hampir menyerupai. Kalau Lee itu barbar sekali. Saking barbarnya Papa nggak bisa memegangnya. Hanya kamu yang lain bisa memegangnya. Kalau dia adalah memiliki kriteria lemah lembut dan manis sekali. Kalau kamu suka kenapa ngga? Papa mohon jika kamu menyukai dia jangan dilepaskan begitu saja."
"Berarti aku mendapatkan restu dari papa?"
__ADS_1
"Hu um. Kejarlah dia, dapatkan dia dan nikahilah dia. Tapi kalau kamu menyakitinya. Awas aja kamu. Karena kami para papa tidak pernah menyakiti hati wanita. Prinsip itu harus kamu turunkan kepada anak-anakmu kelak."
"Baik pa."
Prinsip yang sudah ditanamkan di dalam 6 pilar utama tidak akan pernah mereka sangat menjunjung martabat wanita.Oleh karena itu mereka sepakat untuk tidak melakukan perselingkuhan. Namun mereka pernah dituduh selingkuh oleh koleganya. Mereka hanya tertawa terbahak-bahak dan membiarkan berita itu bergulir.
Pagi yang cerah di kota Bangkok. Era terbangun merasakan perutnya yang tidak enak sama sekali. Erra menatap wajah sang istri lalu turun dari ranjang. Ia masuk ke dalam toilet dan memuntahkan semua isi dalam perutnya itu.
Tiba-tiba saja Lee mendengar ada orang muntah dengan samar-samar. Ia membuka mata sambil menajamkan telinganya. Lalu dirinya meraba di sampingnya tidak ada orang. Kemudian Lee bertanya, "Dimana kak Erra?"
Ceklek.
Pintu terbuka.
Era keluar dengan wajah yang pucat sekali. Dirinya langsung mendekati ranjang sambil menatap wajah sang istri. Kemudian era berbaring di sampingnya.
"Kakak sakit?" tanya Lee sambil memegang keningnya Erra.
"Entah. Tubuhku tidak apa-apa. Tapi perutku yang merasa tidak enak. Jika aku demam atau meriang tubuhku pasti ada reaksi yang berbeda. Ini sangat aneh sekali. Aku harus bagaimana? Aku nggak bisa pulang kalau begini," jawab Erra.
"Nggak usah pulang. Kalau tubuhnya nggak kuat seperti itu. Lebih baik kita di sini saja sampai pulih," ucap Lee yang tidak merasakan Erra demam.
"Masalahnya aku nggak betah di sini. Aku sangat merindukan rumah. Bisakah kita pulang hari ini?"
"Bukankah ini adalah hotelmu?"
"Benarkah itu?" tanya Erra balik.
"Lama-lama tambah aneh. Bisa-bisanya kamu melupakan hotelmu ini. Untung saja aku tidak melarangnya untuk membeli pulau pribadi di daerah Amerika sana," jawab Lee yang membuat Erra tersenyum.
"Jual saja. Tidak apa-apa. Masih ada hotel-hotel ku yang lainnya. Jual pun juga banyak yang minat," suruh Erra.
"Ndak perlu dijual. Hotel ini akan menjadi investasi jangka panjang. Kemungkinan besar hotel ini akan berdiri dua puluh tahun kemudian bahkan selamanya. Saat itu semuanya akan berubah ditangan anak-anak kita," jelas Lee. "Ditambah lagi kita memiliki karyawan yang banyak sekali. Mereka menggantungkan hidupnya ke kita."
"Kamu benar. Jangan sampai orang-orang itu tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Mereka harus menghidupi keluarganya masing-masing," tambah Erra.
"Baiklah aku setuju pendapatmu," balas Lee.
__ADS_1
"Seminggu aku bermimpi lalu bertemu dengan tiga anak kembar. Dua laki-laki satu perempuan. Mereka sangat mirip sekali denganku. Mereka tersenyum lalu memanggilku papa. Aku bingung. Kenapa mereka memanggilku papa? Lalu aku bertanya? Di mana ibumu? Kalian kok di sini? Bukannya sekolah malah bermain di pantai? Setelah itu mereka berkata dengan serempak. Ibuku masih tidur. Entah kenapa ibuku tidak mengetahui kalau kami sudah hadir. Setelah itu aku bingung dan mencari keberadaan ibunya itu. Mereka marah menatapku sangat tajam seperti pisau. Mereka langsung memberikan video tentang kamu yang tertidur lelap. Bagaimanakah menurut kamu?" tanya Erra yang bingung dengan mimpinya itu.
Lee malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tentang Erra. Jujur menurutnya ini sangat lucu sekali. Masa, e8ra tidak tahu kalau mereka adalah anak-anaknya. Kemudian Lee melihat Erra sambil berkata, "Itu berarti mereka adalah anak-anakmu."