
"Ya aneh saja. Bagaimana bisa rumah tangga ibunya Suci dirusak oleh orang. Bahkan ibunya sendiri yang menahan beban hidup Suci," jawab Lee.
"Nenek Imah benar. Kita juga tidak bisa menyalahkan papanya Suci begitu saja. Mungkin saja Bu Tina sering memprovokasi papanya Suci agar berpaling dari ibunya Suci," jawab Erra.
"Lalu bagaimana dengan keadaan bapaknya Suci? Di manakah bapaknya tinggal?" tanya Lee.
"Biarkan masalah itu diurus oleh Imam. Aku harap Suci bisa hidup dengan Imam," jawab Erra yang memberikan solusi. "Apakah kamu jadi makan?"
"Kita pergi ke mansion papa. Aku yakin di sana masih banyak makanan. Sekalian aku ingin mengganggu Kak Garda," jawab Lee dengan semangat.
"Hmmmp... Kalau begitu baiklah... Aku juga setuju," balas Erra.
Sedangkan Imam dan Suci sudah sampai di apartemen. Suci langsung menidurkan Raka di ranjang king sizenya itu. Saat melihat Suci yang lelah, Imam menghampirinya dan bertanya, "Langkah apa selanjutnya yang kamu tempuh? Apakah kamu akan menjebloskan mereka ke dalam penjara?"
"Ya aku memang ingin menjebloskan mereka ke dalam penjara. Aku sudah tidak bisa tinggal diam lagi," jawab Suci.
"Kalau begitu aku akan memanggilkan pengacara untukmu," ucap Imam.
"Kalau begitu baiklah. Aku sebenarnya sudah capek menghadapi masalah keluargaku ini. Maafkan aku jika tuan ikut terlibat," ucap Suci yang tidak enak hati.
"Enggak usah enak hati. Aku memang berhak ingin tahu semuanya. Karena kamu adalah ibu dari anakku," ujar Imam. "Apakah kamu tidak mencari keberadaan ayahmu?"
"Setelah ini aku meminta bantuan sama Kak Lee untuk mencari keberadaan bapak. Aku ingin meminta maaf. Karena yang salah di sini adalah Bu Tina. Andaikan Bu Tina tidak melakukan hal sekeji itu. Kemungkinan aku tidak menjadi begini," jawab Suci.
"Kamu tahu dibalik ini semuanya. Kamu sekarang menjadi wanita tangguh. Kamu kuat menghadapi semua rintangan dan tantangan dalam hidupmu," puji Imam.
"Kakak besarlah yang mengajariku untuk menjadi wanita yang tangguh," kata Suci.
"Kakak besarmu seperti kamu dulu. Kamu tahu cerita mamanya dan Garda menghilang? Kakak besarmu drop dan hampir kehilangan nyawanya," ujar Imam yang sedih mengingat masa lalu Lee yang kelam.
"Berarti Kak Garda?" tanya Suci. "Kak Garda adalah kakaknya Kakak besar?"
"Iya. Selama ini sang Garda sering berada di sampingnya. Namun baru terungkap jelas ketika berada di Helsinki," jawab Imam.
"Syukurlah. Apakah tuan ingin tidur?" tanya Suci.
"Ya... Aku akan tidur di kamar sebelah. Kalau begitu kamu tidur gih bareng Raka," pinta Imam.
"Baiklah kalau begitu. Selamat malam Tuan," ucap Suci.
__ADS_1
"Mimpikan aku malam ini ya," balas Imam tanpa penuh dosa.
Mata Suci membelalak sempurna. Bagaimana bisa Imam mengatakan itu secara blak-blakan. Lalu Suci menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Perasaan Tuan Imam itu orangnya dingin seperti kulkas. Lalu kenapa Tuan Imam bisa mengobral cinta ya seperti ini."
Wajah Imam langsung memerah dan menunduk karena malu. Selama ini imagenya menjadi pendiam berubah menjadi drastis. Ah... Rasanya Imam ingin mengubur wajahnya di lubang semut. Akhirnya Imam pergi meninggalkan Suci dan masuk ke dalam kamar. Imam langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Imam merasakan jantungnya berdetak kencang seperti death metal sedang menggema. Lalu Imam menghembuskan nafasnya sambil meraih ponselnya di kantong celananya itu. Imam merasakan ada sesuatu dengan jantungnya tidak beres. Setelah itu Imam berpikir, apakah Imam terkena penyakit jantung?
Semakin lama jantungnya tidak bisa dikendalikan ketika melihat foto Suci bersama Raka. Imam terbangun dan duduk di atas ranjang sambil mencari nomor telepon Saga. Setelah menemukan nomornya Saga. Imam segera menghubunginya.
Di tempat lain Saga yang duduk bersama Nanda dan Sam terkejut. Saga langsung meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kemudian Saga mengangkatnya dan menyapa orang yang berada di seberang sana.
"Halo," sapa Saga.
"Apakah papa belum tidur?" tanya Imam.
"Belum. Papa masih berkumpul di markas bareng Nanda dan Sam," jawab Saga.
"Pa... Kenapa jantungku berdetak lebih kencang ya?" tanya Imam. "Apakah aku mempunyai penyakit jantung?"
"Maksudnya?" tanya Saga.
"Apakah kamu makan berlemak?" tanya Saga.
"Kalaupun makanan berlemak pun tidak. Aku jarang sekali memakan itu. Aku lebih menyukai sayuran," jawab Imam.
"Ada benarnya juga. Terus penyebab kamu jantungan apa? Apakah kamu terkejut ada bom?" tanya Saga.
"Ah... Tidak... Aku tadi tidak sengaja melihat Suci. Entah kenapa jantungku berdetak kencang seperti itu," jawab Imam.
"Jika kamu melihat Suci terus jantungmu berdetak kencang. Itu artinya kamu sedang jatuh cinta!" kesal Saga.
"Benarkah itu? Apakah aku jatuh cinta sama Suci?" tanya Imam tanpa berdosa.
"Jika saja aku berada di dekatmu. Aku akan melemparkan kamu ke langit ke tujuh," jawab Saga yang kesal.
"Jika papa melemparkanku ke sana, apakah papa tidak kasihan sama aku yang rindu pada Suci?" tanya Imam yang memelas.
"Ah... Sialan lu!" maki Saga sambil mematikan ponselnya.
__ADS_1
Nanda yang melihat Saga boring hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian Nanda bertanya, "Ada apa?"
"Dasarnya Imam kurang ajar! Bisa-bisanya ngerjain orang tua!" geram Saga.
"Memangnya ada apa, pa?" tanya Sam.
"Jantung Imam berdetak kencang. Alasannya hanya satu yaitu melihat Suci," kesal Saga.
"Apakah itu benar?" tanya Nanda.
"Iya itu benar," jawab Saga.
"Syukurlah. Imam ternyata sudah melupakan Gissel," ucap Sam dengan penuh syukur.
"Baguslah. Aku tidak mau Imam bersedih secara terus menerus. Semoga saja mereka bisa menikah," ujar Sam.
Saga menyunggingkan senyumnya. Lalu Saga mendoakan Imam dengan tulus. Saga berharap Imam bisa hidup bahagia. Sementara itu Imam yang berada di kamar menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini Imam merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta kali ini sangat berbeda dengan dulu. Di matanya Suci adalah wanita yang sangat istimewa.
Imam yang tidak bisa tidur akhirnya bangun dan mencari keberadaan Suci. Saat keluar dari kamar Imam mencium aroma masakan. Kemudian Imam memutuskan untuk ke sana dan melihat keberadaan Suci. Benar saja Suci sedang memasak makan malam. Walau jam sudah menunjukkan tengah malam. Lalu Imam mendekati Suci sambil duduk dan memperhatikan Suci.
Sedangkan Suci yang asyik memasak menoleh. Suci tersenyum manis dan menatap Imam sambil berucap, "Maaf."
"Untuk apa?" tanya Imam.
"Aku mengambil bahan di kulkas untuk makan malam. Aku sangat lapar sekali," jawab Suci.
"Tak apa. Masaklah sesukamu," ucap Imam. "Apakah Raka tidur?"
"Ya," jawab Suci.
"Bukannya Raka belum makan?" tanya Imam.
"Raka sudah makan tadi," jawab Suci. "Kalau begitu saya lanjut masak tuan."
"Baiklah," balas Imam.
Sesampainya di mansion Sebastian. Erra memarkir mobilnya dengan asal. Lalu pasangan itu keluar dari mobil dan melihat para pengawal yang sedang berkumpul. Sebelum masuk ke dalam, Erra melemparkan kunci itu ke salah satu pengawal.
"Parkirkan!" titah Erra.
__ADS_1